Siswi SD Muhammadiyah 13 Surabaya Menyihir Penonton dengan Storytelling Bahasa Inggris

admin Agustus 3, 2026
Updated 2026/08/03 at 9:50 AM

Foto : Story Telling oleh Afifah

Surabaya, pedulirakyat.id

Kerumunan di Jembatan Merah Plaza berubah hening ketika seorang anak naik ke panggung. Di tengah riuh Merdeka Fest 2026, Afifah, siswi kelas 4 SD Muhammadiyah 13 Surabaya, memegang mikrofon dengan tenang lalu membawa penonton masuk ke dunia cerita berjudul “The Giant and Tiny.”

Dengan ekspresi wajah yang hidup, intonasi dinamis, dan pelafalan bahasa Inggris yang meyakinkan, Afifah mengubah ruang publik menjadi teater kecil yang penuh imajinasi. Ratusan penonton—orang tua, pelajar, dan pengunjung mal—bertepuk tangan berulang kali ketika babak demi babak cerita mengalir lancar dari mulutnya.

Penampilan ini bukan sekadar bakat alami. Afifah adalah produk program pengembangan bahasa sekolah: English Camp intensif yang digelar di Kota Pare, Kediri. Program itu dirancang untuk melatih kemampuan berbahasa, kepercayaan diri, dan keterampilan tampil di depan umum sejak usia dini. Guru dan orang tua mengatakan latihan berulang, pembinaan dramatisasi, dan pengalaman tampil bersama teman-teman menjadi kunci keberanian Afifah di panggung terbuka.

“Kami bangga melihat Afifah mampu mempresentasikan hasil pembinaan sekolah secara percaya diri,” kata Kepala SD Muhammadiyah 13 Surabaya. “English Camp di Pare bukan hanya soal bahasa; ini tentang membentuk mental juara, kreativitas, dan kemampuan bersaing secara global sejak dini.”

Merdeka Fest 2026 menghadirkan berbagai kegiatan seni dan budaya dari sekolah-sekolah di Kota Pahlawan—pentas tari, musik, puisi, dan pameran karya siswa. Di antara rangkaian itu, penampilan storytelling Afifah menjadi magnet tersendiri karena menyuguhkan perpaduan kemampuan bahasa asing dan teknik bercerita yang matang.

Bagi pengunjung seperti Siti, seorang ibu rumah tangga yang hadir bersama dua anaknya, momen itu mengingatkan pentingnya pendidikan karakter dan stimulasi kreatif di sekolah dasar. “Melihat seorang anak seusia Afifah berbicara Inggris dengan jelas dan penuh ekspresi sangat menginspirasi. Ini bukti pendidikan yang berpihak pada pengembangan potensi anak,” ujarnya.

Bagi sekolah, sorakan penonton bukan sekadar penghargaan untuk satu penampil. Itu adalah tanda bahwa investasi pada program unggulan—dari English Camp hingga pelatihan ekstrakurikuler—membawa hasil nyata: siswa yang berani tampil, mampu berkomunikasi lintas bahasa, dan siap menghadapi tantangan kompetisi di level lebih luas.

Afifah menutup penampilannya dengan senyum lebar dan salam kecil ke penonton. Tepuk tangan bergema, foto-foto cepat diambil, dan bagi banyak yang menyaksikan, cerita “The Giant and Tiny” tak hanya berakhir di panggung; ia menjadi contoh kecil tentang bagaimana pendidikan kreatif dapat membentuk anak-anak yang percaya diri, komunikatif, dan berdaya saing global.

Merdeka Fest 2026 terus berjalan dengan agenda tampilnya sekolah-sekolah lain sepanjang sore. Namun di mata sebagian penonton, sore itu akan dikenang sebagai saat ketika seorang siswi kelas 4 membuktikan bahwa panggung publik bisa menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan anak sejak dini.

 

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version