Peringatan Hari Lahir Pancasila: Pancasila Tidak Hanya di Permukaan

admin Mei 29, 2026
Updated 2026/05/29 at 4:42 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya, mengutarakan bahwa Peringatan Hari Lahir Pancasila (1 Juni 1945-1 Juni 2026) tidak hanya dipermukaan saja, namun harus diterapkan dalam sehari-hari. Jadi jangan seperti yang lalu, hanya didengarkan dan dihafalkan.

“Apalagi pengajaran Pancasila di sekolah jangan hanya di permukaan. Pengajaran Pancasila harus dengan kolaboratif dan partisipatif. Siswa harus terlibat didalam implementasinya. Misal, gotong royong di sekolah membersihkan halaman dan kelas. Bila siswa terlibat, akan diingat sampai kapanpun,” jelas Muchtar Lutfi.

Sembari mengingat kala duduk dibangku SDN Tremas, Arjosari, Pacitan, Pak Lutfi, sapaan akrabnya, terlibat dalam menanam, memanen padi. Kemudian dimasak dan makan bersama teman-teman. Hal ini kebetulan sekolah dasar tersebut mempunyai sawah. Siswa kelas 1 sampai kelas 6 terlibat langsung menggarap sawah.

‘ini yang dimaksud pembelajaran partisipatif. Dan pengalaman ini, akan diingat oleh murid sampai kapan saja. Nah, pelajaran Pancasila juga harus dengan suasana yang menyenangkan. Ini bisa dilakukan dengan kolaboratif dan partisipatif,” tambah Mochtar Lutfi.

Drs. Margiono, MM, pensiun guru sejarah, menerangkan untuk membangun jiwa Pancasila harus dimulai sejak dini. Artinya dimulai saat di bangku sekolah dasar. Cinta lingkungan sekolah, cinta lingkungan keluarga, patuh pada orang tua, taat pada guru, sayang pada teman-teman. Dan pada gilirannya mempunyai kecintaan pada tanah air, bangsa dan negara.

Rupanya hal yang demikian sudah dimulai dengan pembelajaran nilai-nilai kebaikan di semua jenjang pendidikan. Dari sekolah dasar hingga menengah atas. Selain hafal teks Pancasila juga diteladani oleh para guru Implementasinya di dunia praktik.

“Mengedepankan sikap perilaku baik, menghargai pendapat orang lain, menghormati keyakinan dan kepercayaan orang lain, gotong royong dan saling bantu membantu,” kata Margiono

Setelah itu mulai belajar sejarah bangsa, budaya dan konstitusi negara, Bila sudah demikian, maka akan sadar sebagai warga negara yang wajib membela tumpah darahnya dari gangguan-gangguan dari mana datangnya. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-Undang Dasar 1945 wajib dilestarikan di bumi Indonesia.

Sesungguhnya di sekolah, nilai-nilai Pancasila sudah disisipkan ke materi pembelajaran semua mata pelajaran. Misal, bersikap sopan santun, menghormati orang tua, bertutur halus, kerja sama, Namun untuk pelajaran sosial sudah sentuh langsung pada hubungan kemasyarakatan. Warga negara dengan pemerintah, warga negara dengan sesama warga negara. Penanaman keimanan dan ketaqwaan sudah dipraktikkan pada siswa. Sholat berjamaah saat acara pondok Ramadhan (yang beragama Islam), kegiatan menyantuni anak yatim piatu, membantu pada keluarga yang meninggal dunia, kerja bakti, menjaga kebersihan sekolah. Semua ini dilakukan oleh siswa. Ini adalah bentuk partisipatif siswa dalam penanaman nilai-nilai Pancasila.

Di pelajaran seni budaya, menanamkan nilai-nilai Pancasila ada di setiap tema-tema karya drama, karya puisi dan lainnya.

Lakon drama yang bertemakan perjuangan, cinta tanah air dan kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Semua ini akan menjadi teladan bagi siswa.

Sekolah harus jadi pusat budaya penanaman jiwa Pancasila. Acara baca puisi, cerita dalam cerpen, lakon drama, tari, musik, dan lainnya. Ini akan menuntun ke “broad way” (jalan besar) menuju jiwa Pancasila.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version