Simulasi Gempa di MPLS: SDM 13 Surabaya

admin Juli 17, 2026
Updated 2026/07/17 at 4:44 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

Suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Kamis (16/7/2026), berubah menjadi “kelas lapangan” yang seru dan penuh makna. Alih-alih hanya mengenal ruang kelas dan guru, siswa-siswi kelas 1 diajak mengikuti simulasi mitigasi bencana gempa bumi, sebuah pengalaman pertama yang dikemas secara menyenangkan, tanpa menghilangkan esensi edukatifnya.

Sejak pagi, Kepala SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Amang Muazam, memimpin langsung jalannya kegiatan. Dengan bahasa sederhana dan pendekatan yang hangat, ia menjelaskan kepada anak-anak bahwa gempa bumi adalah peristiwa alam yang perlu dihadapi dengan tenang, bukan dengan panik. “Kegiatan ini kami lakukan agar anak-anak sigap dan paham apa yang harus dilakukan jika bencana datang. Edukasi sejak dini sangat krusial agar mereka memiliki insting keselamatan yang baik,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Setelah pengarahan singkat, simulasi pun dimulai. Bel kelas seakan berubah menjadi “alarm gempa” ketika Amang memberikan aba-aba. Siswa-siswi kelas 1 yang semula duduk rapi segera bersiap mengikuti instruksi. Mereka diajarkan satu prinsip sederhana namun penting: lindungi diri, tetap tenang, dan bergerak dengan tertib.

Salah satu bagian paling menarik dalam simulasi adalah latihan teknik berlindung di bawah meja. Anak-anak diminta segera turun ke lantai, merangkak mencari meja yang kokoh, lalu bersembunyi di bawahnya sambil melindungi kepala dan tubuh. Mereka juga diajarkan untuk berpegangan pada kaki meja hingga “guncangan” dinyatakan berhenti. Pemandangan tangan-tangan kecil yang bergerak cepat masuk ke bawah meja, diiringi keseriusan yang sesekali diselingi tawa, menciptakan suasana belajar yang hidup dan berkesan.

Bagi sebagian siswa, ini mungkin pengalaman pertama mereka mempraktikkan prosedur keselamatan bencana. Namun, alih-alih tegang, wajah-wajah mungil itu justru tampak antusias. Mereka mendengarkan setiap instruksi, mencoba mengingat langkah-langkah yang disampaikan, lalu mempraktikkannya berulang kali. Guru-guru yang mendampingi memastikan tiap anak mengikuti prosedur dengan benar, sekaligus menjaga agar suasana tetap ramah dan tidak menakutkan.

Di akhir sesi, sekolah mengemas kegiatan ini dengan sesi tanya jawab ringan. Anak-anak diberi kesempatan bertanya: apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi di rumah, bagaimana melindungi adik atau teman, hingga mengapa tidak boleh berlari panik. Dari jawaban-jawaban polos mereka, tampak bahwa pesan utama kegiatan ini mulai tertanam: keselamatan diri adalah prioritas, dan kesiapsiagaan adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan ditakuti.

Langkah SD Muhammadiyah 13 Surabaya ini mendapat apresiasi dari para pendidik dan orang tua karena dinilai mampu menanamkan kesadaran siaga bencana sejak usia dini. Melalui simulasi, siswa tidak hanya mengenal teori, tetapi juga membangun kesiapan mental saat menghadapi situasi darurat, baik di sekolah maupun di rumah.

Dengan semangat “Sekolah Ramah Anak”, SD Muhammadiyah 13 Surabaya menunjukkan bahwa pendidikan dasar bukan hanya soal membaca, menulis, dan berhitung. Di sekolah ini, anak-anak juga dibekali keterampilan hidup yang esensial: berani tetap tenang, sigap menghadapi bencana, dan saling menjaga satu sama lain. MPLS pun tak lagi sekadar formalitas, melainkan pintu masuk menuju pengalaman belajar yang lebih relevan dengan realitas kehidupan di sekitar mereka.

 

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version