Cerita Rakyat
Oleh : Poedianto
Hari masih pagi. Di tepi sungai, seorang pemuda berlatih olah kanuragan. Gerakan-gerakan tubuh dilakukan dengan pelan. Gerakan-gerakan itu seperti orang sedang menari. Setiap gerakan diiringi dengan tarikan nafas panjang dan gerakan berikut diiringi dengan menghembuskan nafas. Gerakan yang pelan berubah menjadi cepat. Semakin lama semakin cepat, sehingga tampak seperti angin yang berputar. Pusar putaran itu selalu berpindah-pindah. Dari titik pusar yang satu ke titik pusar lain.
Tiba-tiba pemuda itu meloncat tinggi-tinggi dengan telapak tangan kanan terbuka. Lalu, telapak tangan itu menghantam batu bongkahan sebesar anak kerbau yang berada ditepi sungai. Detik itu juga terdengar ledakan yang keras, dan batu tersebut pecah berkeping-keping kecil serta debunya mengepul.
Kemudian pemuda itu menggulingkan tubuhnya beberapa depa ke belakang, lalu meloncat berdiri dengan posisi kaki kuda-kuda. Lantas duduk bersila dengan kedua tangannya bersedakap. Mulutnya komat-kamit mengucap mantra. Pemuda itu mengambil nafas dalam-dalam dan dihembuskan pelan-pelan. Itu dilakukan berulang kali. Tampak sekujur tubuhnya bermandikan keringat, karena seluruh tenaganya terkuras pagi itu untuk olah kanuragan.
Namun, pemuda itu masih dalam posisi sigap, terbukti kedua matanya bisa menangkap kilatan bayangan manusia menukik ke atas dari rerimbunan belukar. Dengan cepat pula, bayangan itu menginjakkan kakinya tepat di depan pemuda. Ternyata bayangan itu adalah seorang wanita setengah baya dengan busana berwarna serba kuning. Rambutnya sudah memutih dan dibiarkan terurai awut-awutan. Perempuan setengah baya itu tertawa terkekeh-kekeh sambil bertolak pinggang, dan katanya, “Bagus, bagus, kau sudah hampir sempurna dalam menyerap ilmuku.” Perempuan setengah baya melihat pemuda itu sedang menghatur sembah dihadapannya sambil berkata pelan, “Selamat datang guru.”
“Ya, ya. Aku sudah menyaksikan semuanya. Sekarang bersihkan dirimu Dadap di sungai, lalu segera kembali ke Padepokan Wukir Kurung.
“Hamba guru.”
Tengah malam. Di beranda tengah Padepokan Wukir Kurung, Nyi Pandan Arum kedatangan tamu dua orang prajurit utusan Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, dari Singasari. Mereka duduk bersila di atas tikar. Nyi Pandan Arum didampingi Dadap. Hidangan sudah disuguhkan oleh pelayan padepokan. Wedang jahe, pisang rebus, kacang rebus dan ketela rebus. Mereka berbincang tentang ketegangan yang terjadi antara kerajaan Singasari dengan kerajaan Kediri. Kedua prajurit itu bergantian menuturkan situasi kini kepada Nyi Pandan Arum. Perbedaan yang sangat tajam antara Raja Kertanegara di Singasari dan Raja Jayakatwang dari Gelang-Gelang, Kediri. Padahal kedua bangsawan tersebut masih kerabat dekat. Para paranpara (penasehat raja) kedua kerajaan sudah berupaya berembuk untuk perdamaian. Namun menemui jalan buntu. Bahkan dari laporan telik sandi Singasari, Raja Jayakatwang sudah berangsur-angsur mengirim pasukannya untuk ditempatkan di tapal batas wilayah Singasari. Jayakatwang merasa sudah tepat waktunya mengirim pasukannya, sebab Singasari sudah dianggap lemah. Memang pasukan Singasari sudah banyak yang dikirim ke semenanjung Malayu untuk menjaga gangguan keamanan di wilayah Singasari bagian barat itu. Di wilayah bagian timur juga ditempatkan segelar pasukan. Seperti Blambangan dan sekitarnya. Maka menurut perhitungan Jayakatwang bahwa pasukan Singasari di pusat kota raja sudah menjadi lemah. Ditambah lagi Patih Raganata yang sudah berpengalaman perang di segala medan digeser posisinya dengan alasan yang tidak jelas. Jabatan patih dipercayakan kepada Aragani, seorang prajurit yang diragukan kemampuannya. Bahkan Senopati Banyak Wide, seorang senopati yang disegani para prajurit, dipindahkan ke Madura untuk menjadi Adipati Sumenep dengan nama Arya Wiraraja.
“Mengapa semuanya itu bisa terjadi,” tanya Nyi Pandan Arum.
“Atas bujukan Raden Ardaraja,” jawab kedua prajurit bersamaan.
“Bukankah Raden Ardaraja dan Raden Wijaya adalah menantu Raja Kertanegara,” sela Nyi Pandan Arum.
“Benar Nyi, tetapi sang raja lebih mempercayai Raden Ardaraja,” suara pelan salah satu prajurit.
“Bisa jadi karena Raden Ardaraja juga putra Raja Jayakatwang,” tambah prajurit yang satunya.
“Atau kesemuanya itu dilakukan untuk pembaharuan pejabat kerajaan Singasari,” kata Nyi Pandan Arum.
“Namun tidak disangka, malahan Kediri yang dekat dengan kekuasaan kota raja Singasari berambisi ingin merebut tahta Raja Kertanegara,” suara pelan salah satu prajurit.
Ketika pembicaraan itu semakin mendalam, seekor kuda berhenti di regol padepokan. Seorang prajurit wanita meloncat turun dari kuda. Buru-buru seorang cantrik padepokan menyongsong. Tali kendali kuda diberikan kepada cantrik untuk diikat di tempat penambat kuda. Prajurit wanita itu langsung ke beranda tengah, lalu menghatur sembah kepada Nyi Pandan Arum. Saat itu juga kedua prajurit utusan Raden Wijaya mengangguk hormat kepada prajurit wanita itu. Prajurit wanita itu menerangkan maksud kedatangannya ke Padepokan Wukir Kurung. Prajurit wanita itu mengaku diutus oleh Raden Ardaraja untuk menyampaikan pesan kepada Nyi Pandan Arum.
“Nyi, mengingat pengaruh Padepokan Wukir Kurung sangat luas dan disegani oleh para bangsawan. Baik bangsawan Singasari, Dhaha, Jenggala. Bahkan para bangsawan dari Gelang-Gelang, Kediri, sangat menghormati Nyi Pandan Arum. Oleh karena itu, Raden Ardaraja menghendaki agar Padepokan Wukir Kurung tidak melibatkan diri di tengah perseteruan antara Singasari dengan Kediri,” papar prajurit wanita itu.
Bukan main kagetnya kedua prajurit utusan Raden Wijaya setelah mendengar perkataan prajurit wanita itu. Gerahamnya gemeretak, wajahnya memerah. Namun keduanya berusaha menahan marah. Detik itu juga, Nyi Pandan Arum tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu semakin keras berkepanjangan dan menusuk-nusuk bagian dalam telinga yang mendengarnya. Ketiga prajurit itu cepat-cepat menutup rapat-rapat telinganya dengan kedua telapak tangan. Dadap juga berusaha menahan getaran suara tawa gurunya. Dadap bersedakap dengan mata terpejam, menarik nafas dalam-dalam untuk membentengi diri dari suara tawa gurunya. Lalu suara tawa itu menurun.
Kemudian kedua prajurit utusan Raden Wijaya itu mohon diri. Dan disusul oleh prajurit wanita utusan Raden Ardaraja.
“Dadap, ikuti para prajurit itu dari kejauhan.”
“Hamba guru.”
Lalu, Nyi Pandan Arum masuk ke biliknya. Duduk bersila dengan kedua telapak tangan menempel, melakukan hening mabasanggama. Mulutnya komat-kamit membaca mantra parasyu, ketajaman hati serta mantra aksamala, pergantian waktu, ini untuk ketentraman kehidupan manusia. Cipta dan karsa hanya tertuju pada Hyang Ganesya.
Malam semakin malam. Udara dingin memenuhi sudut-sudut padepokan Wukir Kurung. Empat cantrik padepokan berjaga di depan, sementara empat cantrik lagi di belakang. Karena situasi yang kurang baik, maka penjagaan disiagakan penuh.
Di jalan pinggir hutan kecil, kedua prajurit utusan Raden Wijaya menghadang prajurit wanita utusan Raden Ardaraja. Mereka sudah berhadap-hadapan setelah mengikat kudanya masing-masing di pohon.
“Sekarang sudah terang benderang, siapa kawan dan siapa lawan. Hai kau Cempaka, ternyata kau penghianat Singasari. Seragammu adalah baju prajurit Singasari, tetapi sesungguhnya kau berpihak pada Kediri,” suara lantang salah satu prajurit utusan Raden Wijaya.
“Ya, aku memang berpihak pada Kediri. Sekarang apa maumu,” tegas prajurit wanita yang bernama Cempaka.
“Serahkan kedua tanganmu, akan aku ikat dan aku serahkan kepada Raden Wijaya,”
Cempaka tertawa, kemudian katanya, “Coba lakukan kalau kalian mampu.”
Saat itu juga kedua prajurit utusan Raden Wijaya meloncat menyerang. Namun Cempaka dengan cepat pula menghindar ke samping. Dan dengan sigap pula Cempaka ganti menyerang dengan tendangan kaki kanannya mengarah ke tengkuk lawan. Prajurit utusan Raden Wijaya yang berbadan kurus kaget sejenak melihat kaki prajurit wanita mengarah ke tengkuknya. Cepat-cepat membungkuk. Tetapi yang tidak diduga adalah hantaman tangan kanan dari prajurit wanita menuju dagu prajurit yang berbadan kurus. Pukulan suwing yang sangat keras bersarang di dagu prajurit berbadan kurus. Dan prajurit berbadan kurus jatuh terlentang. Teman prajurit yang jatuh terlentang itu kaget bukan kepalang. Lalu, menghunus pedangnya dan ditebaskan ke tubuh prajurit wanita. Cepat-cepat Cempaka juga mencabut belati panjang dari balik bajunya untuk menangkis tebasan pedang. Benturan yang keras antara pedang dan belati. Bunyi denting yang pekak terdengar. Prajurit utusan Raden Wijaya itu terhuyung-huyung kebelakang dengan memegang erat pedangnya. Sementara Cempaka meloncat kebelakang menjauh dan kemudian siaga kembali.
Prajurit yang jatuh terlentang sudah tidak bangun lagi. Pingsan.
Tidak menunggu lama lagi, Cempaka yang melihat lawannya dalam posisi terhuyung-huyung, dengan cepat menyergap dengan pisau belatinya.
Dalam pada itu belati yang di genggam Cempaka seperti terbentur sebongkah batu. Belati itu terlepas dari genggamannya. Tangannya terasa panas. Cempaka mundur beberapa langkah. Matanya yang tajam melihat bayangan orang yang turun dari atas pohon kepuh. Dalam kegelapan malam Cempaka melihat orang berpakaian serba hitam mendekatinya. Cempaka mengkonsentrasikan fokus pada orang itu. Matanya mencoba melihat wajah orang yang serba hitam itu, tetapi tidak berhasil. Karena orang itu menutup wajahnya dengan kain hitam. Prajurit utusan Raden Wijaya juga mencoba melihatnya. Namun juga mengalami kesulitan.
“He kalian para prajurit, cepat kembali ke kesatuanmu masing-masing. Sebentar lagi fajar tiba dan banyak warga yang akan lewat jalan ini. Mumpung belum ada yang melihat, cepat pergi,” kata orang itu. Tetapi orang itu melihat gelagat Cempaka akan menolak, maka orang itu melepas sabuk dari kulit sapi yang melilit di tubuhnya. Sabuk itu diputar dengan cepatnya. Terdengar suara dengung seperti suara tawon gong. Lantas orang itu meloncat dengan mencambukkan sabuknya ke pohon kepuh. Seketika pohon kepuh yang besar itu patah dan roboh. Cempaka membelalakkan matanya, pun prajurit yang menjadi lawannya.
“Sekarang sudah waktunya kalian pergi. Kalau tidak, kalian akan aku ikat dan aku buang di tengah hutan biar dimakan binatang buas,” gertak orang itu.
Prajurit utusan Raden Wijaya dengan membopong temannya yang pingsan menaiki kudanya untuk pergi. Cempaka juga demikian.
Orang itu termangu-mangu dan desisnya, “Keadaan semakin memburuk.”
Tahun 1292, pecah perang besar, Kediri menyerang Singasari dari utara dan selatan. Pasukan Kediri di utara didesak mundur oleh pasukan Singasari yang dipimpin Raden Wijaya.
Sementara pasukan Singasari di selatan jebol. Karena Raden Ardaraja yang dipercaya memimpin pasukan Singasari di selatan malahan bergabung dengan pasukan Kediri dan berbalik menyerang Singasari.
Pasukan Raden Wijaya kewalahan menghadapi lawan dari segala penjuru. Dan tidak ada jalan lain Raden Wijaya bersama prajurit yang tersisa harus melarikan diri. Kala itu pasukan induk Singasari yang di kota raja juga tidak berdaya menghadapi lawan yang sangat kuat. Luluh lantah kota raja Singasari. Raja Kertanegara menghembuskan nafas terakhir di ujung keris prajurit Kediri. Dan istana Singasari dikuasai Raja Jayakatwang. Kemudian pemerintahan di pusatkan di Kediri.
Raja Jayakatwang memerintahkan semua prajurit untuk memburu Raden Wijaya. Atas saran Adipati Wiraraja di Sumenep, Raden Wijaya bersembunyi di hutan Maja.
Perburuan terhadap Raden Wijaya oleh prajurit Kediri dilakukan di segala sudut desa. Pencarian itu dijalankan dengan cara-cara kekerasan. Warga banyak yang menerima perlakuan kasar.
Siang hari, serombongan prajurit Kediri masuk di desa Cengkir Anom. Para prajurit itu bertanya dengan kasar kepada setiap warga tentang keberadaan Raden Wijaya. Ki Buyut Cengkir Anom tidak berdaya menghadapi situasi ini. Pimpinan prajurit menempatkan beberapa anak buahnya di banjar desa. Ki Buyut Cengkir Anom menyaji makanan dan minuman sesuai permintaan para prajurit. Panggang ayam, bumbu pedas kambing muda, nasi punel, minuman kelapa muda dan macam-macam permintaan makanan lainnya.
Suatu pagi, mumpung para prajurit masih tidur nyenyak di banjar desa, Ki Buyut Cengkir Anom mengutus dua pemuda desa pergi ke Padepokan Wukir Kurung untuk bertemu Nyi Pandan Arum. Kedua pemuda desa tersebut diterima dengan baik di padepokan.
“Berapa jumlah prajurit yang ditempatkan di banjar desa,” tanya Nyi Pandan Arum.
“Di setiap desa ada delapan sampai sepuluh prajurit. Termasuk di desa Cengkir Anom. Para prajurit menanyai setiap warga tentang keberadaan Raden Wijaya. Dan semua permintaannya harus dipenuhi Nyi. Kami takut sekali, sebab di desa kami banyak perempuan-perempuan muda,” keluh salah satu pemuda.
“Kami akan membantumu. Beberapa cantrik pilihan akan datang ke desa Cengkir Anom dengan penyamaran. Tempatkan para cantrik di rumah warga. Dan akui sebagai famili sendiri. Tetapi harus hati-hati, jangan sampai para prajurit itu mengetahui,” kata Nyi Pandan Arum.
“Kami mengerti Nyi.”
“Dan sekarang kalian pulanglah, mumpung hari masih siang. Tengah malam nanti para cantrik sudah masuk di desamu,” kata Nyi Pandan Arum lagi.
Sepulangnya kedua pemuda desa tersebut, Dadap telah mengatur para cantrik pilihan untuk masuk dengan diam-diam ke desa Cengkir Anom. Sebab yang dihadapi adalah prajurit yang kenyang segala medan pertempuran. Karenanya harus hati-hati. Apabila tertangkap, korbannya bukan hanya cantrik saja, tetapi warga juga menjadi korban amukan prajurit.
Di hari-hari berikut, cantrik yang masih sangat muda, menyaru sebagai gembala, memberi makan kambing di belakang rumah Ki Buyut. Cantrik yang menyaru sebagai gembala tersebut terkadang juga ikut menghidangkan makanan dan minuman di banjar desa untuk para prajurit. Dalam waktu singkat cantrik sudah banyak mengetahui tabiat masing-masing prajurit. Lalu semua yang diketahui disampaikan ke Dadap.
Persiapan perlawanan sudah dihitung matang oleh Dadap dan Ki Buyut Cengkir Anom.
Malam hari, ketika para prajurit sedang makan sambil tertawa riuh, tiba-tiba cantrik yang sebagai gembala pura-pura menggigil ketakutan dan berkata terbata-bata.
“He gembala, kenapa kau ketakutan,” tanya prajurit yang berkulit hitam.
“Ada hantu di kandang kambing,” jawab cantrik dengan gugup.
“Ha, hantu,” kata prajurit berkulit hitam. Lalu, meledaklah tawa mereka di banjar.
“Sudah sana pergi, kau mengganggu orang sedang makan,” bentak prajurit yang pendek.
“Benar tuan, aku tidak bohong. Hantunya akan makan kambing. Padahal kambing itu besok pagi akan disembelih untuk sarapan tuan-tuan.”
Prajurit yang berbadan pendek berdiri dengan marah, lalu tangan kirinya memegang erat tengkuk cantrik sambil berteriak, “Cepat tunjukkan dimana hantunya.”
“Di kandang kambing tuan,” suara cantrik sambil tangannya menunjuk ke halaman belakang. Prajurit yang berbadan pendek cepat-cepat menyeret cantrik ke halaman belakang.
Sesampainya di halaman belakang, cantrik dengan cepatnya melepaskan diri dari cengkeraman tangan prajurit berbadan pendek. Prajurit kaget, setengah tidak percaya kalau cantrik dengan mudahnya bisa lepas dari cengkeramannya. Kemudian prajurit itu mencoba menangkap cantrik lagi, tetapi cantrik dengan lincahnya menghindar. Prajurit mencoba lagi, tetapi gagal lagi. Kini dengan marah, prajurit mengembangkan kedua tangannya untuk menerkam cantrik. Dan dengan cekatan pula cantrik meloncat tinggi sembari kedua kakinya menendang dengan keras punggung prajurit. Saat itu juga prajurit tersungkur ke tanah. Lalu cantrik membalikkan tubuhnya, dan kemudian tumit kaki kanannya menekan punggung prajurit dengan kuatnya, sehingga dada prajurit sulit bernafas. Saat itu juga cantrik memukul kepala prajurit dengan keras. Kepala prajurit seolah berputar, matanya berkunang-kunang, lantas prajurit itu pingsan. Cantrik segera menyeret prajurit itu, dibawa ke pohon randu. Lalu mengikat kaki dan tangan prajurit dengan erat.
Di banjar para prajurit masih tertawa-tawa. Kemudian disusul suara tawa melengking seseorang di luar banjar. Mendadak para prajurit yang di banjar diam, lalu mereka berloncatan ke luar banjar dengan pedang terhunus. Kemudian terdengar suara tangis cantrik di halaman belakang banjar.
“Ha, kalian dengar itu. Cepat cari gembala di belakang,” suara prajurit yang berbadan besar. Serentak dua prajurit berlari ke halaman belakang banjar. Setelah tiba di halaman belakang, betapa herannya dua prajurit itu melihat temannya yang berbadan pendek lunglai tak bergerak dan diikat di pohon randu.
Cantrik yang menyamar sebagai gembala itu berdiri di samping kandang kambing, lalu berteriak, “He prajurit, lihat hantu itu di belakangmu.” Kedua prajurit itu menoleh kebelakang. Dan tiba-tiba sudah ada dua sosok bayangan hitam menyerang dua prajurit. Kedua prajurit dengan sigap pula menghindar kesamping. Kedua prajurit tidak menunggu perintah, keduanya meloncat menyerang dengan pedangnya ke dua hantu itu. Perkelahianpun terjadi antara dua prajurit Kediri melawan dua hantu yang mukanya ditutup dengan kain hitam.
Di halaman depan banjar tidak kalah tegangnya. Lima prajurit di kepung dari segala sudut oleh tiga hantu yang mukanya ditutup dengan kain hitam. Ketiga hantu tidak memberi kesempatan kepada para prajurit untuk bersiaga. Ketiga hantu mengurai sabuknya dan dengan cepat pula menyerang para prajurit. Terdengar beberapa kali bunyi ledakan dari lecutan sabuk hantu. Tetapi yang dihadapi adalah prajurit yang sudah pengalaman menghadapi segala medan pertempuran.
“Keparat,” umpat prajurit yang berbadan besar. Lalu prajurit yang berbadan besar mengayunkan pedangnya dengan cepat kearah hantu yang didepannya. Prajurit lain juga melakukan yang sama. Perkelahian kelompok tidak bisa dihindarkan di halaman depan banjar. Saling menyerang, saling mendesak.
Ki Buyut Cengkir Anom terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ramai-ramai di depan dan belakang banjar. Kemudian mengambil keris yang ada dalam almari. Ki Buyut membangunkan istri dan anak gadisnya untuk sembunyi di bilik tengah.
“Kunci kamarmu dari dalam. Aku akan melihat keluar,” bisik Ki Buyut kepada istri dan anak gadisnya. Ki Buyut menyingsingkan kain panjangnya, lalu keluar ke halaman depan dengan menghunus kerisnya.
“Rupanya kau Ki Buyut. Lihat banjar desamu banyak hantunya. Kau akan menyaksikan aku akan mencincang hantu-hantu ini,” teriak prajurit yang berbadan besar.
Namun prajurit yang berbadan besar belum selesai sesumbar, pukulan sabuk hantu sudah bersarang di dadanya. Prajurit berbadan besar terhuyung-huyung sebentar, kemudian berdiri tegak dengan mulut menyeringai kesakitan.
“Setan alas,” teriak prajurit berbadan besar, lantas dengan marah menerjang mematukkan pedangnya kepada hantu yang menyabetkan sabuk ke dadanya. Hantu tersebut sadar penuh akan serangan prajurit berbadan besar. Maka hantu itu menangkis pedang prajurit berbadan besar dengan sabetan sabuk. Benturanpun terjadi.
Perkelahian itu semakin sengit, karena kedua belah pihak meningkatkan jurus-jurus tertingginya masing-masing.
Di belakang banjar, dua prajurit sudah tidak berdaya menghadapi dua hantu. Kedua prajurit tenaganya sudah terkuras habis. Lalu keduanya jatuh tersungkur karena sabetan sabuk yang keras mengenai punggung. Kedua prajurit itu terengah-engah lalu menghembuskan nafas terakhir.
Dengan waktu yang hampir bersamaan, para prajurit yang di depan banjar sudah dapat diringkus oleh para hantu. Mereka diikat dengan tampar. Semuanya di masukkan ke dalam banjar. Termasuk prajurit yang diikat di pohon randu belakang banjar.
Ki Buyut memanggil semua pamong desa untuk mengubur prajurit yang mati. Para hantu sudah membuka tutup wajahnya, “Ki Buyut, kamilah para hantu itu,” suara Dadap pelan.
“Aku sudah mengira, cantrik-cantrik padepokan yang menyamar sebagai hantu,” ujar Ki Buyut sambil memandang satu persatu para cantrik, kemudian katanya lagi, “Sekarang kalian silakan membersihkan diri di pakiwan belakang. Setelah itu, aku ingin membicarakan hal yang sangat penting,” kata Ki Buyut dengan sungguh-sungguh.
Cahaya mentari di timur sudah kelihatan. Kokok ayam dan kicau burung bersahut-sahutan. Geliat warga desa sudah terasa. Ada yang ke sawah, tegal serta ke pasar. Bocah-bocah gembala juga tampak menggiring ternaknya ke padang rumput.
Pagi hari itu, kehidupan desa Cengkir Anom seperti biasanya. Tak satu wargapun yang mendengar keributan di banjar desa semalam. Hanya Ki Buyut dan pamong desa yang mengetahui.
Setelah semuanya selesai, Ki Buyut, pamong desa dan para cantrik sudah berada di beranda tamu rumah Ki Buyut. Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Sarapan pagi dihidangkan. Kare ayam, nasi mengepul dan minuman wedang serai.
Perbincangan itu semakin meluas. Ki Buyut dan Dadap memutuskan mengirim utusan ke Raden Wijaya di hutan Maja. Dipilihlah satu pamong desa yang berpengalaman dan satu cantrik yang sudah mumpuni untuk pergi ke hutan Maja. Ki Buyut memberi bekal sekantong kecil keping uang.
“Kau harus mampir dulu di padepokan minta petunjuk guru,” pesan Dadap kepada cantrik yang dipilih untuk berangkat menemui Raden Wijaya.
“Ya kakang.”
Lalu, kedua utusan itu berangkat dengan diam-diam. Keduanya menunggang kuda yang tegar dan bekal yang cukup.
Diputuskan pula semua pemuda dan pemudi desa Cengkir Anom untuk berlatih bela diri. Dan setiap malam mereka berlatih olah tempur, olah berbagai senjata. Seperti pedang, tombak dan panah. Latihan tersebut dipandu oleh Dadap dan para cantrik.
Dari hari ke hari yang berminat berlatih semakin banyak. Bahkan banyak pula anak-anak muda dari desa-desa tetangga ikut berlatih.
Ki Buyut dan para pamong desa berkeinginan membentuk pasukan pengawal desa yang terdiri dari para pemuda dan pemudi. Pemimpinnya dipercayakan kepada Dadap dan para cantrik.
Di ujung timur hutan Maja ada sebuah pedukuhan kecil. Di antara warga pedukuhan itu, ada beberapa prajurit Singasari yang melarikan diri ketika kalah perang melawan pasukan Kediri. Mereka bercocok tanam untuk menghidupi diri dalam keseharian. Di tengah pedukuhan itu berdiri rumah dari bambu. Rupanya dalam rumah bambu itulah Raden Wijaya bersembunyi.
Kala siang hari, dalam rumah bambu, Raden Wijaya berbincang dengan Ki Nambi, Ki Sora serta Adipati Tuban Ronggolawe. Tak lama kemudian Raden Wijaya juga menerima tamu dari desa Cengkir Anom. Utusan Ki Buyut Cengkir Anom menuturkan semua yang terjadi di desanya. Lalu Raden Wijaya menyanggupi untuk membantu. Setelah selesai, utusan Ki Buyut mohon diri untuk kembali ke desanya.
Kemudian, di rumah bambu itu meneruskan pembicaraan yang lebih dalam. Tentang keinginan membalas kekalahan perang serta macam-macam rencana.
Raden Wijaya memusatkan perhatiannya akan kabar dari Tuban yang dibawa oleh Adipati Ronggolawe, yaitu tentang mendaratnya ratusan kapal layar yang memuat ribuan prajurit di pantai utara pulau Jawa. Pasukan tersebut berangkat dari pelabuhan Chuan-Chou, China ke pulau Jawa. Yang tujuannya adalah membalas sakit hati kepada Raja Kertanegara di Singasari.
Kala itu utusan dari Kaisar China yaitu Meng Chi menghadap Raja Kertanegara di Singasari untuk menyampaikan pesan agar Raja Kertanegara tunduk pada Kaisar China. Pesan itu ditolak mentah-mentah, lalu utusan itu diusir dan pulang ke China
Kini ribuan prajurit China mendarat di pulau Jawa bagian utara. Ada beberapa tempat pendaratan. Di pantai Lamongan, pantai Tuban, pantai Sedayu, pantai Surabaya dan pantai-pantai di utara lainnya.
Pasukan yang besar itu dipimpin oleh Laksamana Shih-Pi serta didampingi dua perwira perang, yaitu Iheh Mi Shih dan Kau Hsing.
Sebelum mendarat di pulau Jawa, pasukan tersebut mendarat di pulau Belitung untuk membahas siasat dan keperluan lainnya.
Raden Wijaya dengan akal yang cerdik menemui Laksamana Shih-Pi untuk siap membantu pasukan China. Maka selang beberapa hari, pasukan China benar-benar menggempur Kediri dengan kekuatan penuh. Porak poranda kota raja istana. Kediri takluk. Dan saat itu juga Raja Jayakatwang beserta keluarganya menyerah. Mereka ditawan oleh tentara China. Putra Raja Jayakatwang yaitu Raden Ardaraja melarikan diri, tetapi bisa ditangkap oleh pasukan Kau Hsing.
Sesungguhnya Laksamana Shih-Pi tidak mengetahui bahwa pemerintahan Singasari dengan Raja Kertanegara sudah runtuh. Dan diganti oleh Raja Jayakatwang di Kediri. Padahal Kaisar China ingin menghancurkan Raja Kertanegara. Dan Raden Wijaya sebagai menantu Raja Kertanegara tahu hal itu.
Dalam situasi ini, yang diuntungkan adalah Raden Wijaya. Karena Raden Wijaya bisa membalaskan kekalahannya dengan cara berpihak kepada pasukan China. Singasari kalah dengan Kediri. Dan Kediri ditaklukkan oleh China.
Kemenangan tentara China atas Kediri dimeriahkan dengan menari, menyanyi dan minum arak.
Dalam pada itu Raden Wijaya, Ki Sora, Ki Nambi dan Adipati Ronggolawe telah berbenah dan dibantu oleh pengawal-pengawal desa yang setia kepada Raden Wijaya.
Berangsur-angsur pengawal-pengawal desa dari berbagai penjuru desa, yang dahulunya wilayah Singasari, berdatangan ke pedukuhan Maja untuk memperkuat pasukan Raden Wijaya. Ada yang lewat darat ada pula yang naik perahu menyusuri kali.
Pengawal desa Cengkir Anom yang dipimpin oleh Dadap dan para cantrik juga sudah tiba di pedukuhan Maja.
Tengah malam, tahun 1293, pasukan Raden Wijaya dan pengawal-pengawal desa menikam pasukan China di Kediri. Pasukan China tidak siap mendapat serangan yang mendadak. Raden Wijaya, Ki Sora, Ki Nambi, Adipati Ronggolawe, Dadap, para cantrik, mengamuk, menghajar setiap musuh yang didepannya. Banyak prajurit China yang mati, termasuk pemimpinnya. Dan banyak juga yang melarikan diri. Pasukan China menyerah.
Raden Wijaya mengambil alih pemerintahan Kediri. Atas prakarsanya dan juga persetujuan teman-teman yang ikut berjuang, maka kota raja Kediri dipindah ke pedukuhan Maja. Lalu dibentuklah negara baru dengan nama Majapahit.
Bulan purnama, di tahun 1293, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit, bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana, dengan didampingi permaisuri Dyah Dewi Tribuwanaswari.
Di sepanjang jalan desa Cengkir Anom, Dadap serta semua pengawal desa dan beberapa prajurit Majapahit melambai-lambaikan tangan kepada warga yang berdiri di sepanjang jalan. Pasukan itu dielu-elukan warga desa. Mereka dipuja sebagai satria-satria membela kebenaran. Sorak-sorai warga. Tua muda berebut menyalami. Juga para orang tua senang melihat putra-putranya selamat. Dan yang luka segera diobati.
Sebelum masuk ke banjar desa, Dadap memerintahkan kepada tiga orang pasukan pengawal desa untuk membawa para tawanan yang dikurung di dalam banjar. Lalu diserahkan kepada prajurit Majapahit. Saat itu juga para prajurit Majapahit membawa tawanan ke kota raja.
Di regol banjar desa Cengkir Anom, Ki Buyut dan segenap pamong desa menyambut Dadap dan pasukannya. Beberapa gadis desa mengalungkan untaian bunga melati kepada semua anggota pasukan pengawal. Gadis cantik putri Ki Buyut, dengan senyum gembira mengalungkan bunga kepada Dadap.
“Selamat datang kang Dadap,” sapanya manja kepada Dadap.
“Ya, terimakasih diajeng Laras.” Dan dada Dadap bergetar ketika melihat senyum Laras.
“Aku sulit tidur sejak kang Dadap berangkat berperang. Aku selalu memohon kepada Hyang Dewata agar semua baik-baik saja,” bisik Laras. Semakin berdetak jantung Dadap mendengar pengakuan Laras dengan suara lembut.
Tiba-tiba Ki Buyut mempersilakan masuk ke banjar untuk istirahat. Beberapa tikar pandan digelar dan segala hidangan disajikan oleh gadis-gadis desa. Laras juga ikut menyajikan, tetapi matanya selalu melirik Dadap.
Kemudian Ki Buyut berkata kepada semua orang, “Hari ini kita tidak usah takut lagi seperti hari-hari yang lalu. Sekarang kita mempunyai pasukan pengawal desa yang tangguh. Pengawal yang bisa melindungi segenap warga desa. Pengawal yang seperti terompet kemenangan. Ini sudah dibuktikan oleh pengawal kita. Terompet kedamaian, terompet kasih sayang, terompet perlindungan.” Ki Buyut berhenti sesorah, tepuk tangan riuh rendah mengiring. Dadap tersenyum kecil dan katanya dalam hati, “Seharusnya Ki Buyut menambahi dengan kata-kata Terompet Asmara.”
S e l e s a i
Poedianto adalah Guru SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.


