Surabaya, pedulirakyat.id
Tetapnya, Selasa 22 April 2025 di Sage House Jl. Prapanca 56 Surabaya, Amang Mawardi difasilitasi Ir. Wardah Alkatiri MA, Pd.H di galerynya.
Menurut dosen filsafat di Universitas NU Surabaya, galerynya diperuntukkan kegiatan rumah literasi.
“Galery ini monggo dijadikan rumah literasi untuk berbagi ilmu, berbagi pengetahuan. Juga monggo dijadikan work shop,” tutur arek asli kelahiran Surabaya ini, mengawali acara tals show-nya Amang Mawardi.
Disamping itu Ir. Wardah Alkatiri MA, Ph.D juga berharap Sage House ini bisa menjadi kegiatan diluar sekolah. Tak ketinggalan tempat ini diharapkan bisa menjadi jembatan ketemu lagi dengan teman temannya di Surabaya ini, terputus sejak tahun 1992 karena kesibukannya bertugas di Jakarta.
Bukan wartawan Kriminal
Mengamati tulisan pada beberapa bukunya yang udah diluncurkan, menyiratkan Amang Mawardi bukan sebagai wartawan kriminal. Sebagaimana dia dikenal puluhan tahun wartawan harian Pos Kota terbitan Jakarta.
Sebagai wartawan kriminal, apa lagi dia udah puluhan tahun sikap dan perilakunya bukan seperti wartawan kriminal dan lebih tepat wartawan biro krasi.
Wartawan kriminal, minimal dalam cara pandangnya selaku terari mengungkap sesuatu yang bisa diduga ada pelanggaran.
Misalnya, bila ketemu sekretaris daerah paling tidak dia akan berbicara politik anggaran. Karena dalam penyusunan anggaran apa peluang terjadi kebocoran.
Terus berbicara masalah investigasi, wartawan kriminal selalu mengaitkan informasi, data, fakta dan konfirmasih.
Menanggapi ini, Amang Mawardi mengaku wartawan kriminal tidak harus berbagi kaya Intel, dia contohkan temanya bernam Piter Arohi wartawan seangkatannya ini adalah wartawan bisa wartawan kriminal karena keahliannya mengungkap kasus penyerobotan tanah. Tetapi Piter bahasanya santun. Tidak menggambarkan seorang wartawan kriminal.
Dan jika dibandingkan dengan Amang Mawardi lebih tepat dia disubet wartawan Indonesia. Yang punya integritas dan tanggungjawab terhadap profesi, serta dunia tulis menulis.
Saking sufinya Amang Mawardi memasuki dunia tulis menulis karya karyanya, menurut Dimam Abror mirip Arswebdo Atmowiloto. Meskipun Amang tidak sehebat Arswendo tetapi komitmennya dalam sastra mungkin bisa dikatakan setara. Dan juga untuk produktifitasnya juga tidak kalah.
Ist


