Surabaya, pedulirakyat.id
Proses belajar mengajar melalui tahap pemberian materi oleh pengajar, menguji kemampuan peserta didik dan penilaian oleh pengajar sebagai ukuran capaian, demikian Drs. Ec. Margiono, MM, pensiunan guru sekolah kejuruan (SMK Satya Widya Surabaya). Proses ini secara umum dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan.
“Untuk mengetahui kemampuan siswa, ta harus diuji. Baik kognitif atau skill. Hasilnya akan tampak capaian kemampuan siswa,” kata guru senior ini
Sementara Dr. Untung Lasiyono, Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya mengutarakan bahwa masuk perguruan tinggi negeri ada jalur undangan. Ini dilihat dari prestasi nilai saat belajar di SMA/ SMK. Ada jalur seleksi bersama (SBMPTN). Ada jalur seleksi di perguruan tinggi masing-masing, jalur mandiri.
“Di UNIPA Surabaya memakai jalur mandiri,” katanya.
Belajar Agama.
Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya memandang kemerdekaan dari sisi agama. Apabila ditinjau dari perspektif agama, variabelnya adalah rakyat sudah bebas dari kebodohan, rakyat sudah bebas dari kemiskinan, menjalankan ajaran agama Islam dengan murni, rakyat sehat rohani jasmani dan bebas dari pengaruh asing.
“Inilah yang dikehendaki KH. Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). implementasinya adalah mendirikan sekolah-sekolah, menjalankan gerakan sosial (taawun), mendirikan panti asuhan, menyantuni yatim piatu dan mendirikan rumah sakit,” papar Sholihin Fanani.
Mendirikan sekolah agar anak-anak bangsa bisa cerdas. Melakukan taawun guna mengentas kemiskinan, agar rakyat bisa berdaya. Disini peranan para pimpinan untuk memegang teguh ajaran agama. Yaitu, iman, jujur dan kerja keras. Bila sudah demikian halnya, niscaya akan berhasil. Kesemuanya itu diperuntukkan semata untuk rakyat
Tujuan kemerdekaan itu sendiri adalah mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.
Kebutuhan Hidup.
Kebutuhan hidup dan kesenjangan ekonomi bisa menimbulkan ekses macam-macam. Bisa cepat emosi, anarkis, tawuran, kecemburuan sosial dan hal-hal yang lainnya. Demikian keterangan Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Kebutuhan hidup yang terus menuntut dipenuhi. Seperti bayar sekolah anak, bayar kuliah anak, makan sehari-hari dan kebutuhan pokok lainnya. Ini semua bagi warga yang sehari-seharinya pas-pasan ekonominya memang cukup sulit. Sementara penghasilan dari kerja, juga tidak seberapa. Faktor-faktor inilah, menurut Pak Sholihin, sapaan sehari-harinya, ini semua yang harus dipenuhi oleh pemerintah.
“Pemerintah harus membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Supaya warga bisa berdaya,” terang Pak Sholihin.
Dengan nada yang sama Drs. M. Ghufron, Guru Pendidikan Agama Islam SMK Satya Widya Surabaya, mengutarakan bahwa pemerintah harus tahu persis apa masalahnya.
“Pemerintah seyogyanya mengusahakan lapangan pekerjaan. Sebab dengan kekurangan ekonomi, perut lapar. Yang terjadi bisa muncul kejahatan, kriminal dan dampak lainnya,” papar Takmir Mushola An-Nur Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya ini.
Pendampingan.
Usia SD masih perlu pendampingan. Artinya peran orang tua di rumah dan guru di sekolah seyogyanya sinergis. Kedua peran tersebut adalah sebagai pendamping bagi peserta didik.
“Pendamping dalam hal ini harus sebagai teladan. Sebab guru itu pengajar, teman, juga sebagai sahabat bagi siswa. Intinya, sebagai pendamping siswa harus memberi contoh yang baik,” tutur Mohammad Komari, S. Pd, Guru Kelas 2 SD Islam Maryam Surabaya.
Menurut Pak Komari, panggilan akrabnya, siswa tidak boleh dipermalukan di depan teman-temannya. Apabila memanggil siswa juga harus disertai sikap sopan.
“Kalau memang kenakalannya sudah di ambang batas, ya harus dipanggil. Diarahkan dengan baik,” kata guru senior ini di ruang kerjanya.
Zahronia Firda, SS,, Guru Bahasa Inggris dan Staf Waka Kurikulum SMK Metrika Surabaya, mempunyai pendapat bahwa dalam menangani problematika siswa harus dengan pendekatan pribadi. Sebab jaman sudah berubah. Jaman sekarang beda dengan jaman dulu. Penanganannya harus disesuaikan kondisi.
“Memang harus tarik ulur. Harus disesuaikan kondisi. Terkadang orang tua siswa juga tidak peduli dengan kondisi anaknya di sekolah. Pengakuan anak dan orang tua terkadang juga beda,” kata mantan pengajar di SMA Trimurti Surabaya ini. Bu Firda, sapaan kesehariannya, juga mengaku sering membantu siswa yang sakit, untuk dibawa ke rumah sakit.
“Itu semua merupakan problematika di sekolah,” kata alumni Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini dengan mimik serius.
Budi Pekerti.
Anies Listyowati, M. Pd, Kaprodi Paud, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya berpendapat bahwa penanaman Budi Pekerti harus dimulai sejak usia dini.
“Harus diawali dari pendidikan keluarga (usia 0-4 tahun). Lalu ditambah pendidikan di sekolah (usia 0-8 tahun). Peranan keluarga dan sekolah itu yang menjadi dasar-dasar pendidikan. Utamanya membangun sikap perilaku jujur, sopan dan bermoral. Namun cara pandang masyarakat terbalik. Bahwa pendidikan di sekolah yang menjadi faktor pertama. Padahal pendidikan di keluargalah yang pertama,” paparnya disela-sela rapat di kampus pagi ini (19 Agustus 2925).
Bu Anies, panggilan akrabnya, memaparkan lebih lanjut bahwa metode pengajarannya lewat stimulasi, mengenalkan contoh-contoh perilaku baik dari guru, pembiasaan sikap-sikap positif, keteladanan guru. Ini semua harus dijalankan oleh guru, sebab anak usia dini itu berfikir kongkrit,” papar Bu Anies dengan mimik serius.
Di waktu terpisah, Dr. Untung Lasiyono, Rektor UNIPA Surabaya, mengutarakan pendidikan Budi pekerti diajarkan di semua jenjang pendidikan. Dari sekolah usia dini hingga perguruan tinggi. Seperti di Unipa punya aturan, etika dan tata laksana kampus. Seperti hubungan mahasiswa dengan dosen. Hubungan mahasiswa dengan tenaga pendidikan. Hubungan mahasiswa dengan mahasiswa. Kesemuanya ini harus dijalankan pembiasaan-pembiasaan. Maka hasilnya akan berperilaku luhur, jujur dan mempunyai karakter baik.
“Kampus mempunyai Empat Anti. Yakni: anti buliying, anti korupsi, anti narkoba, anti kekerasan seksual,” kata Untung Lasiyono di ruang kerjanya.
Poedianto


