Sekolah Sepanjang Hayat

admin Oktober 24, 2025
Updated 2025/10/24 at 7:56 AM

Surabaya, pedulirakyat.id

Tulisan ini merupakan rangkuman liputan dari beberapa narasumber. Dr. Djoko Adi Waluyo (Ketua PGRI Jawa Timur), Profesor Septi Ariadi, Dr. Mochtar Lutfi (Dosen Unair Surabaya), Dr. Wijayadi, Dr. Sholihin Fanani (Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya), Dr. Yunus Karyanto, Dr. Sunu Catur Budiyono (Dosen UNIPA Surabaya), Drs. Mulyadi Bayu Wibisana, Drs. Andi Rosdianto (Guru SMKN 12 Surabaya), Drs. Muhammad Ghufron, Drs.Ec. Margiono, MM (Guru SMK Satya Widya Surabaya), Yusuf, M. Pd (Ketua MKKS SMK Surabaya) dan lainnya.

Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya mengatakan bahwa sekolah itu sepanjang hayat. Artinya, belajar sampai tua, belajar sampai kapanpun. Belajar di sekolah tidak mengenal diskriminatif. Semua putra-putri bangsa bisa belajar sampai kapan saja. Misal, ada sekolah unggulan dan siswanya terdiri dari siswa-siswa pintar. Maka seyogyanya metode pembelajaran, materi dan referensi, semuanya bisa diakses untuk sekolah-sekolah lain.

“Metode pembelajaran, materi dan referensi di sekolah unggulan bisa diakses untuk sekolah lain. Sehingga semua siswa bisa mengenyam dan semua siswa bisa pintar. Jadi tidak ada diskriminatif,” kata Mochtar Lutfi.

Yang namanya pintar itu tidak hanya olah pikir. Tetapi bisa olah raga, olah rasa dan olah hati.
Oleh karenanya siswa yang pintar olah raga, olah rasa, olah hati, ya harus diberi kesempatan untuk belajar di sekolah unggulan.

Memang berbagai pendapat yang ada di tengah masyarakat tentang predikat sekolah. Ada sekolah favorit, sekolah unggulan dan lainnya. Kelulusan dari sekolah-sekolah tersebut relatif berkualitas, sehingga saat PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) banyak yang mendaftar.

Perpustakaan yang representatif, pola pembelajaran yang aktual, materi yang update. Namun semuanya harus disesuaikan dengan selera kekinian. Ruang kelas yang nyaman, taman sekolah yang indah sehingga saat istirahat siswa bisa kerasan.

Interaksi guru dan orang tua murid dijalankan secara periodik, terutama guru konseling. Hal ini akan mudah dicarikan jalan keluar bila ada kebuntuan komunikasi. Harapannya adalah setiap problematik akan bisa tepat penanganannya.

Tesis Sastra.
Mochtar Lutfi mengatakan tesis mahasiswa S2 dalam magister kajian sastra, banyak yang menulis tentang sastra dan budaya yang dikaitkan dengan sosial, kemasyarakatan dan lingkungan kekinian.

“Keadaan sosial hanya sebagai pendukung. Misal tentang tulisan Budaya Cangkrukan di Surabaya,” ujar Mochtar Lutfi.

Karya sastra dan budaya, banyak yang nuansa kekinian. Kondisi kemasyarakatan yang banyak yang diangkat. Baik itu karya sastra novel atau lainnya. Seperti sorotan tentang kekerasan pada anak yang pada ujungnya anak menjadi trauma berkelanjutan, bahas karya novel Palestina dan karya novel kekinian lain

Karya sastra lisan atau tulis sudah ada pada jaman abad ke 4 dan 5 di Indonesia. Karya sastra lisan sudah diturunkan (run temurun) oleh nenek moyang kita. Sastra tulis ditemui di prasasti-prasasti pada candi atau di peninggalan sejarah.

Ditanya mana yang lebih dulu? Mochtar Lutfi menjelaskan bisa sastra tulis dulu baru dilisankan (didongengkan). Bisa sastra lisan dulu, baru ditulis. Memang penyebarannya cepat sastra lisan. Kalau sastra tulis, masih harus belajar aksaranya.

“Persoalannya kini sudah jaman digital. Untuk mempelajari juga lewat digital. Padahal tidak semua paham digital. Semua harus belajar digital. Senang tatkala para siswa berprestasi bidang digital” papar Drs. Andi Roesdianto, Guru PJOK SMK Negeri 12 Surabaya.

Nasionalis Guru.
Mengenai akademik maupun non akademik. Profesi guru dengan membuka les Bahasa Inggris. Pendidik ini memandang profesi guru adalah sebuah pengabdian yang mulia.
Profesi guru hanya semata untuk mencerdaskan putra-putri bangsa. Jiiwa nasionalis jelas tampak pada semangat para guru. Mendidik siswa tanpa membeda-bedakan.

Menurut para pendidik ini, bahwa pendidikan karakter, pendidikan etika dan pendidikan agama sangat utama. Sebab itu semua adalah dasar-dasar pendidikan.

“Profesi guru ibarat pengabdian tiada tepi,” tambah Andi Roesdianto.

Gotong Royong. Semaraknya peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 80 tahun-2025 sebagai bukti rasa cinta tanah air. Di sekolah, kampus, kampung dan tempat lain diisi dengan berbagai macam lomba, karnaval, syukuran, pembagian hadiah lomba, dorprixe dan upacara bendera. Dari sekolah hingga kampung dilaksanakan dengan semangat, gairah yang tinggi. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, hiasan dan pernik-pernik dengan warna merah putih, umbul-umbul besar dan kecil terpasang gagah di sepanjang jalan. Tua muda, dewasa anak, lelaki perempuan, guru siswa, kesemuanya dengan wajah sumringah menghadiri peringatan ini di tempatnya masing-masing. Kesemuanya itu karena ikut handarbeni negara ini. Cinta tanah air, cinta bangsa, cinta damai.

Jiwa nasionalis jelas tampak pada semangat para guru, siswa dan warga kampung dalam memperingati hari kemerdekaan. Warga merasakan betul ketika menghadiri peringatan ini di kampung. Jiwa cinta tanah air, jiwa nasionalis, jiwa patriotis, jiwa persatuan dari segenap warga kampung. Dengan segala bentuk partisipasi, para siswa, guru, karyawan kantor mencurahkan pikiran dan tenaga untuk suksesnya acara ini di sekolah masing-masing. Suasana ini juga dialami oleh warga kampung-kampung. Cancut tali wondo, gotong royong, untuk bangsa dan negara. Warga melakukan tirakatan, agar negara ini bisa damai dan selalu rukun guyub tak kurang suatu apa. Bahwa banyak kampung mengadakan macam-macam lomba. Misal, bulutangkis, catur, pingpong dan lainnya. Ini bentuk syukur warga atas kemerdekaan bangsa.

Bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia bukan sebuah hadiah. Kemerdekaan ditempuh dengan perjuangan. Baik perang atau diplomasi. Sejarah ini bisa sebagai edukasi dan contoh keteladanan. Semangat bantu-membantu, gotong royong semestinya dipegang teguh. Dengan gotong royong akan bisa membantu warga yang susah ekonominya. Yang tidak bisa membayar sekolah anaknya, yang tidak bisa membelikan seragam sekolah, yang tidak bisa membeli obat buat yang sakit dan lainnya. Keteladanan ini juga bisa diteladani oleh anak-anak muda. Sebab gotong royong itu ciri khas budaya bangsa. Dengan gotong royong, beban yang berat menjadi enteng. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Karakter Baik, Negara Menjadi Baik.

Mochtar Lutfi memandang perlu untuk meningkatkan kualitas karakter bangsa. Sebab bila karakter bangsa baik, negara akan menjadi baik. Pemerintah melalui kementerian pendidikan telah mensosialisasikan tentang deep learning, pendidikan karakter dan coding and AI. Ini sebuah ide besar dan diimplementasikan di semua jenjang pendidikan. Yakni, dari SD, SMP, SMA dan SMK. Sudah barang tentu masuk di semua pelajaran. Pendidikan bukan hanya sisi akademik semata, namun juga sisi karakter. Dan juga pendidikan, keteladanan, karakter, harus baik. Ini juga yang mendapat perhatian semua pihak. Sekolah, masyarakat dan para pejabat.
Pejabat harus memberi keteladanan yang baik kalau karakter baik, negara juga menjadi baik. Mochtar Lutfi tidak menjadi kuatir akan kehilangan keteladanan dari para tokoh. Sejak jaman dulu kala sudah banyak tokoh-tokoh yang bisa memberi contoh yang baik, teladan yang bagus.

Walau jaman sudah menjadi digital, kemajuan teknologi sudah pesat, tetapi tetap saja masih ada tokoh-tokoh yang hidupnya banyak bermanfaat bagi masyarakat. Seperti tokoh yang hidupnya menghijaukan lereng-lereng tandus atau tokoh yang hidupnya mengajar di daerah-daerah tertinggal.
Keteladanan, tidak harus dari tokoh-tokoh sekarang. Bisa dari tokoh-tokoh para pemimpin dahulu. Seperti tokoh-tokoh pendiri bangsa, Bung Karno, Bung Hatta. Tentang keteladanan dan pembiasaan beretika baik. Tugas penting pendidikan adalah menanamkan etika pada pribadi peserta didik.

Mengapa ? Sebab etika atau akhlak adalah kemampuan pribadi masing-masing individu untuk mengaktualisasikan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa direncanakan terlebih dahulu. Etika itu timbulnya otomatis tanpa dirancang lebih dahulu. Namun beretika baik itu seyogyanya dilatih serta dibiasakan mulai dari usia anak-anak. Berbeda dengan ilmu pengetahuan. Kemampuan membaca, menelaah, memahami bahkan sampai pada tingkat penghayatan serta menyampaikan kepada orang lain, membutuhkan waktu yang relatif lebih pendek di banding dengan penanaman dan pembiasaan etika.
Maka sagat tepat kalau di sekolah atau lembaga pendidikan senantiasa terus-menerus membiasakan perilaku baik. Guru sebagai pendidik tanpa lelah menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik bagi murid-muridnya. Jika demikian pembiasan tersebut akan menghasilkan perilaku baik yang tanpa paksaan, mereka akan melakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sisi lain keteladanan seorang figur, dalam hal ini guru sangat dibutuhkan, sebab murid akan berbuat kebiasaan baik manakala ada sosok teladan yang ditiru. Maka menjadi ironi, jika gurunya tidak bisa menjadi contoh keteladanan. Keteladanan sangat dibutuhkan, karakter baik dari para pejabat yang diharapkan. Semua ini yang menjadi dasar-dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sekolah Teladan.
Sebagai contoh untuk sekolah lain. Sekolah yang demikian sudah teruji dan terbukti membuahkan hasil yang memadai. Seperti, banyak siswanya yang berhasil meraih kejuaraan di semua klasifikasi. Baik itu juara olimpiade sain, keterampilan atau yang lainnya. Tidak hanya sebatas siswanya, tetapi representatif sekolah, ruangan kelas, laboratorium, kualitas pengajaran dan memegang teguh etika yang tinggi. Kesemuanya itu sudah jelas melalui proses perjalanan yang panjang. Sekolah teladan mempunyai keunggulan kualitas guru, kualitas Sarpras, kualitas kelulusan, kualitas proses belajar mengajar dan lainnya.
Orang tua murid jangan hanya mengandalkan sekolah semata. Konektifitas pembelajaran di sekolah dan penguatan pembelajaran di rumah. Bahwa sekolah teladan bisa dilihat dari prestasi yang diperoleh. Baik akademik maupun non akademik. Prestasi sekolah bisa skala regional, nasional atau internasional. Dan jangan dilupakan juga ialah pelayanan terhadap siswa serta orang tua siswa. Sekolah teladan sudah barang tentu memperhatikan kebutuhan aktifitas sekolah. Baik akademik maupun non akademik. Soal biaya, kan ada bantuan dari pemerintah. Seperti Bos dan lainnya.

HUT Kemerdekaan RI.
Berbagai lomba diadakan. Seperti menulis Cerita Cekak. Nembang Jawa. Semua siswa antusias mengikuti lomba. Termasuk lomba nembang Jawa Campur Sari dan ada yang membaca geguritan. Selama aktifitas lomba, semuanya lancar, tertib, semangat. Seluruh siswa semangat dengan berbagai acara digelar. Lomba-lomba, bazar, jalan sehat, seni dan banyak lagi. Ini semua agar generasi muda mempelajari sejarah bangsa. Bentuknya adalah mengingatkan kembali perjuangan pendiri-pendiri republik ini. Perjuangan yang ditebus dengan harta, tenaga, pikiran dan nyawa. Banyak anak-anak muda yang gugur dalam mengusir penjajah, banyak para istri yang ditinggal mati suaminya, banyak para gadis yang kehilangan kekasihnya. Kesemuanya itu tidak sia-sia. Kesemuanya itu menjadi pondasi yang kokoh dari sebuah cita-cita mulia. Walhasil, pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 berdirilah sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Kala itu, atas nama seluruh rakyat, Soekarno dan Moh.Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Semua sekolah mengadakan berbagai lomba. Seperti fashion show, badminton, makan kerupuk, menangkap belut dan lomba lainnya.
Peringatan ini untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan, meneladani para pendiri bangsa, ini semua untuk membangkitkan jiwa nasionalisme, membangkitkan jiwa patriotisme bagi siswa.
Mengadakan berbagai lomba untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI ke 80 tahun. Seperti lomba volly sarung, menulis Cerita Cekak (Cerpen), ke lereng dan lainnya. Semua ini agar siswa bisa lebih mencintai tanah air, cinta sekolah dan muncul jiwa patriotisme.

HUT RRI Surabaya.
Sekali di udara, tetap di udara. Dengan semangat yang sungguh-sungguh, para guru ikut membimbing, melatih serta menyemangati para siswa untuk ikut mengisi acara panggung seni pada HUT RRI Surabaya.

Guru.
Seyogyanya meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan kualitas pedagogik. Sudah barang tentu harus sesuai dengan perkembangan anak didik. Kemajuan teknologi hanya semata agar generasi penerus negeri ini bisa cerdas dan berwawasan luas. Pada gilirannya negeri ini akan bebas dari kebodohan dan kemiskinan.

Manfaatkan Teknologi.
Kemajuan teknologi, termasuk teknologi informasi, memang sudah tidak bisa dipungkiri. Semua lini kehidupan menggunakan teknologi. Seperti pergaulan, hubungan kemasyarakatan, hukum, pemerintahan, pendidikan, pertanian, dan lainnya. Namun penggunaan teknologi harus bermanfaat. Teknologi harus dimanfaatkan dengan benar. Pemanfaatan teknologi tergantung niatnya. Ada yang bermanfaat ada yang negatif. Yang negatif harus dihindari. Lagi pula harus menggunakan waktu yang tepat. Oleh karenanya harus senantiasa belajar dengan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi Bahwa pengaruh gedget yang membuat siswa kurang perhatian terhadap pelajaran. Yang terjadi adalah ketergantungan pada gedget. Main tiktok, game dan lainnya. Ini adalah fenomena brain rot. Solusinya harus diterapkan Blended Learning. Metode ini menterapkan pembelajaran 50 persen tatap muka di kelas dan 50 persen daring. Metode mengajar dengan ceramah sudah kurang diminati siswa. Pembelajaran harus dengan metode aktif. Seperti diskusi, problem solving. Dengan ini siswa terlibat aktif.

Deep Learning.
Pelajaran tersebut harus bermakna. Misal tentang pelajaran ekonomi, guru harus bisa menyambungkan dengan keadaan ekonomi sehari-hari. Ini pembelajaran deep learning. Mindful (penuh kesadaran), meaningful (kebermaknaan) dan joyful (kegembiraan).

Perbedaan Jender.
Pembeda antara pria dan wanita masih kental. Terutama di masyarakat umum. Budaya yang demikian ini sangat tampak pada posisi kursi di lembaga legislatif. Kursi pria lebih banyak ketimbang kursi wanita. Di kehidupan masyarakat umum, budaya pembeda antara pria dengan wanita masih sangat kental. Lihat saja di pemerintahan atau di lembaga legislatif. Misal di DPR, berapa jumlah kursi yang diduduki wanita? Masih timpang. Mustinya posisinya harus adil, 50 persen pria, 50 persen wanita. Perbedaan jender akan hilang bila pendidikan sudah bisa merata di pelosok negeri. Tidak ada jalan lain, pendidikan harus merata dan bisa dinikmati semua anak-anak bangsa. Nah, kalau sudah demikian, maka pandangan tentang perbedaan jender akan hilang. Namun pemerintah juga harus mendorong lewat regulasi-regulasi yang adil.

Mochtar Lutfi dan Andi Roesdianto optimis pendidikan di tanah air akan semakin baik.

Profesor Septi Ariadi, Kaprodi Sosiologi Fisip Unair Surabaya berpendapat sekolah-sekolah yang mendapat predikat sekolah favorit, sekolah unggulan dari masyarakat harus meningkatkan kualitas sesuai dengan namanya. Kurikulum yang update, Sapras yang memadai, SDM guru, metode pembelajaran.

“Banyak prestasi-prestasi yang diraih sekolah, berbagai karir alumni, semuanya harus sesuai dengan harapan masyarakat,” katanya.

Orang tua siswa menginginkan kelulusan (SMA-SMK) yang berkualitas. Sebab bagi yang melanjutkan di perguruan tinggi tidak akan tertinggal saat perkuliahan. Bagi yang ingin bekerja, sudah barang tentu kualitas kelulusan seyogyanya seperti ketentuan-ketentuan dunia usaha dan dunia industri (Dudi).

“Karir para alumni sangat penting. Sebab itu merupakan bukti kualitas sekolah,” tambah dosen yang bersahaja ini.

Sekolah harus mau mendengar saran dan imbauan dari semua komponen warga sekolah. Dari guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua murid dan lainnya. Kalau ini dijalankan, sesungguhnya setiap sekolah berhasil meningkatkan kualitas kelulusan anak didiknya.

Seperti yang melanjutkan di perguruan tinggi, akan bisa mengikuti proses perkuliahan. Yang melamar kerja, akan cepat mendapatkan pekerjaan. Sebab kualitas kelulusan tidak diragukan lagi.

Septi Ariadi berpendapat bahwa prinsip belajar adalah menghasilkan kompetensi dan kontribusi nyata. Itu sebenarnya tujuan belajar. Lebih lanjut dosen yang bersahaja ini mengutarakan bahwa, kompetensi siswa bisa didapat lewat cara pembelajaran di bangku kelas. Hal ini menghasilkan kognitif, yaitu tataran pengetahuan. Setelah itu harus dilanjutkan dengan implementasi, praktik langsung. Tahapan ini, siswa ikut berpartisipasi, siswa terlibat angsung dalam praktik. Sudah barang tentu, kompetensi yang sesuai harapan dunia usaha dan dunia industri (Dudi).

Jadi tidak abstrak, tidak di awang-awang. Dengan praktik, empirik, akan menghasilkan karya nyata. Karya dalam bentuk fisik, bukan sekadar teoritik. Ini yang dinamakan kontribusi nyata. Pada gilirannya semua ini akan diperuntukkan pada masyarakat, bangsa dan negara.

BK Juga Penting.
Pelayanan Bimbingan Konseling (BK) di sekolah penting dan harus Intensif.
Ini semua diatur dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008 tentang standar kualifikasi akademik dan standar kompetensi konselor dan Permendikbud nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling diantaranya ada layanan bimbingan klasikal. Ini untuk memenuhi pencegahan kasus-kasus buliying yang dilakukan peserta didik terhadap temannya .Bentuknya bisa macam-macam. Seperti bentuk buliying verbal, fisik atau siber. Siber ini bisa lewat WA, Tiktok dan lainnya. Medsos sangat besar pengaruhnya. Oleh karenanya Bimbingan dan Konseling di sekolah sebuah keniscayaan. Baik konseling kelompok maupun individu. Karena ini adalah sebuah pengentasan atau penyembuhan. Tetapi semua itu merupakan tindakan pencegahan bukan menunggu kasus. Jadi pelayanan Bimbingan dan Konseling harus Intensif.

Pendidikan Harus Kualitas.
Proses belajar mengajar melalui tahap pemberian materi oleh pengajar, menguji kemampuan peserta didik dan penilaian oleh pengajar sebagai ukuran capaian. Proses ini secara umum dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan.
Untuk mengetahui kemampuan siswa, ta harus diuji. Baik kognitif atau skill. Hasilnya akan tampak capaian kemampuan siswa. Ini agar pendidikan berkualitas.

Masuk PTN.
Bahwa masuk perguruan tinggi negeri ada jalur undangan. Ini dilihat dari prestasi nilai saat belajar di SMA/ SMK. Ada jalur seleksi bersama (SBMPTN). Ada jalur seleksi di perguruan tinggi masing-masing, jalur mandiri.

Apabila ditinjau dari perspektif agama, variabelnya adalah rakyat sudah bebas dari kebodohan, rakyat sudah bebas dari kemiskinan, menjalankan ajaran agama dengan murni, rakyat sehat rohani jasmani dan bebas dari pengaruh asing.
Implementasinya adalah mendirikan sekolah-sekolah, menjalankan gerakan sosial (taawun), mendirikan panti asuhan, menyantuni yatim piatu dan mendirikan rumah sakit.

Mendirikan sekolah agar anak-anak bangsa bisa cerdas. Melakukan taawun guna mengentas kemiskinan, agar rakyat bisa berdaya. Disini peranan para pimpinan untuk memegang teguh ajaran agama. Yaitu, iman, jujur dan kerja keras. Bila sudah demikian halnya, niscaya akan berhasil. Kesemuanya itu diperuntukkan semata untuk rakyat. Tujuan kemerdekaan itu sendiri adalah mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.

Kebutuhan Hidup.
Kesenjangan ekonomi bisa menimbulkan ekses macam-macam. Bisa cepat emosi, anarkis, tawuran, kecemburuan sosial dan hal-hal yang lainnya.

Kebutuhan hidup yang terus menuntut dipenuhi. Seperti bayar sekolah anak, bayar kuliah anak, makan sehari-hari dan kebutuhan pokok lainnya. Ini semua bagi warga yang sehari-seharinya pas-pasan ekonominya memang cukup sulit. Sementara penghasilan dari kerja, juga tidak seberapa. Faktor-faktor inilah, ini semua yang harus dipenuhi oleh pemerintah.
Pemerintah harus membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Supaya warga bisa berdaya,.

Bahwa pemerintah harus tahu persis apa masalahnya.
Pemerintah seyogyanya mengusahakan lapangan pekerjaan. Sebab dengan kekurangan ekonomi, perut lapar. Yang terjadi bisa muncul kejahatan, kriminal dan dampak lainnya.

Pendampingan.
Usia SD masih perlu pendampingan. Artinya peran orang tua di rumah dan guru di sekolah seyogyanya sinergis. Kedua peran tersebut adalah sebagai pendamping bagi peserta didik.
Guru pendamping dalam hal ini harus sebagai teladan. Sebab guru itu pengajar, teman, juga sebagai sahabat bagi siswa. Intinya, sebagai pendamping siswa harus memberi contoh yang baik. Siswa tidak boleh dipermalukan di depan teman-temannya. Apabila memanggil siswa juga harus disertai sikap sopan.
Kalau memang kenakalannya sudah di ambang batas, ya harus dipanggil. Diarahkan dengan baik.
Dalam menangani problematika siswa harus dengan pendekatan pribadi. Sebab jaman sudah berubah. Jaman sekarang beda dengan jaman dulu. Penanganannya harus disesuaikan kondisi.
Peduli sesama teman dengan membantu siswa yang sakit, untuk dibawa ke rumah sakit.
Itu semua merupakan problematika di sekolah.

Budi Pekerti.
Bahwa penanaman Budi Pekerti harus dimulai sejak usia dini dan diawali dari pendidikan keluarga (usia 0-4 tahun). Lalu ditambah pendidikan di sekolah (usia 0-8 tahun). Peranan keluarga dan sekolah itu yang menjadi dasar-dasar pendidikan. Utamanya membangun sikap perilaku jujur, sopan dan bermoral. Namun cara pandang masyarakat terbalik. Bahwa pendidikan di sekolah yang menjadi faktor pertama. Padahal pendidikan di keluargalah yang pertama.

Metode pengajaran lewat stimulasi, mengenalkan contoh-contoh perilaku baik dari guru, pembiasaan sikap-sikap positif, keteladanan guru. Ini semua harus dijalankan oleh guru, sebab anak usia dini itu berfikir kongkrit.

Budi Pekerti diajarkan di semua jenjang pendidikan. Dari sekolah usia dini hingga perguruan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi juga mempunyai aturan, etika dan tata laksana kampus. Seperti hubungan mahasiswa dengan dosen. Hubungan mahasiswa dengan tenaga pendidikan. Hubungan mahasiswa dengan mahasiswa. Kesemuanya ini harus dijalankan pembiasaan-pembiasaan. Maka hasilnya akan berperilaku luhur, jujur dan mempunyai karakter baik. Sekolah harus jauh dari kekerasan, korupsi, narkoba.

Jaga Hati, Lidah, Tingkah dan Rasa.
MT. Yudihari, SH, MH, Ketua Yayasan Pendidikan Udatin Surabaya, mengatakan dalam kondisi persaingan di dunia pendidikan untuk mendapatkan siswa yang banyak, seyogyanya penyelenggara lembaga-lembaga pendidikan senantiasa menjaga hati, lidah, tingkah dan rasa. Untuk apa? Supaya tetap dipercaya oleh pendidik, tenaga kependidikan, siswa dan orang tua siswa. Intinya adalah nama baik lembaga tetap dipercaya, tetap terjaga.

“Jogo ati ben uripe mukti, jogo ilat ben ora kuwalat, jogo pola ben ora salah, jogo roso ben ora ciloko,” kata Guru Besar Silat Perisai Putih ini di kantornya.

Lebih jauh Mas Yudi, panggilan sehari-harinya, menerangkan hakikat hidup itu harus berbuat baik kepada semuanya. Termasuk kepada bawahannya. Sebab dengan berbuat baik semua organ tubuh akan tetap energik. Dalam tubuh manusia terdapat unsur api yaitu jantung dan usus kecil, unsur air yaitu ginjal dan kantung kemih, unsur tanah yaitu lambung dan limpa, unsur angin yaitu paru-paru dan usus besar, unsur matahari yaitu hati dan empedu.
Supaya organ tubuh tetap sehat, maka dalam menjalani hidup sehari-hari.harus melakukan berbagi pada sesana memerangi nafsu angkara diri pribadi, kemudian mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa.

MT. Yudihari mengutarakan bahwa pendidikan olahraga di sekolah bertujuan agar siswa bisa bugar tubuhnya.

“Tujuan pelajaran olahraga di sekolah untuk kebugaran tubuh. Namun semua materi cabang olahraga juga diajarkan. Seperti sepak bola, volly, basket, bulu tangkis dan lainnya. Tetapi semua itu tergantung sapras sekolah,” papar MT. Yudihari.

Menurut MT. Yudihari, apabila siswa ingin memperdalam lagi cabang olahraga tersebut, disarankan ikut ekstra kurikuler di sekolah. Apalagi ingin prestasi.

“Tidak hanya olahraga saja, tetapi makan, minum, tidur, semuanya harus teratur. Dengan demikian latihan olahraga juga terjadwal. Insya Allah akan prestasi,” tambah MT. Yudihari.

Abundance dan Dehumanisasi.
Abad 21, jaman digital. Jaman kemajuan teknologi yang ditengarai kepercayaan yang tinggi terhadap informasi dari internet sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal ini bukan satu-satunya sumber. Dr. Sunu Catur Budiyono, Dosen UNIPA Surabaya, mengatakan di negara Swedia, Finlandia sudah kembali pada buku sebagai sumber informasi. Sementara Falah Widodo, S. Th. I, Guru Agama Islam SDN Mojo 3 Surabaya, menganggap perlu landasan moral agama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Sisi yang lain olah rasa, olah hati juga utama di samping olah pikir, demikian Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya.

“Kemajuan teknologi abad ke 21 harus diantisipasi dampak-dampaknya,” ujar Dr. Yunus Karyanto, Dosen UNIPA Surabaya. Tetapi kemajuan teknologi memang harus diterima, namun harus tahu rambu-rambu, batas-batasnya. “Semua ini harus dilandasi dengan moral agama,” tambah Dr. Sholihin Fanani, Dosen Muhammadiyah Surabaya.

Konstelasi inilah yang terjadi di jagad maya. Tidak ada jalan lain untuk mengantisipasi penggunaan kemajuan teknologi informasi yang kebablasen, maka potensi karakter bangsa yang harus mendasarinya. Budaya, moral, sejarah, semuanya ini sebagai potensi karakter yang bisa membentengi. Jadi bila Dr. Djoko Adi Waluyo, Ketua PGRI Jawa Timur berpendapat bahwa jaman “abundance,” yaitu jaman yang informasi berseliweran, berlimpahan, kebanjiran, bisa membuat techno mania yang menuju post truth, lalu pada gilirannya menjadi dehumanisasi.
Rangga Galung Rihardika, S. Tr. Par, Wakil Kepala SMK Satya Widya Surabaya, memberi wawasan bahwa hal demikian karena faktor pendidikan. Apalagi para pemegang kebijakan negara bidang pendidikan kurang konsisten terhadap perkembangan pendidikan dan kualitas anak-anak bangsa. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan-perbaikan di segala lini jenjang pendidikan.

Internet Sumber Belajar.
Dr. Sunu Catur Budiyono, dosen yang juga sebagai Kepala Perencanaan dan Pengembangan Institusi UNIPA Surabaya, menerangkan bahwa kebutuhan akan internet digunakan sebagai sumber belajar, sebagai media informasi dan komunikasi bagi peserta didik. Hal ini sebuah keniscayaan. Namun di negara Swedia dan Finlandia sudah kembali pada buku.

“Faktor pragmatis yang mendorong ketergantungan pada internet. Semuanya ditanyakan ke internet. Karena jawabannya lebih logis dan praktis. Misal, ingin mengetahui nama pohon. Pohon tersebut difoto dan diunggah. Kemudian langsung dijawab dengan cepat nama pohon tersebut,” terang dosen sastra ini disela-sela kesibukan mengajar.

Lebih lanjut pria asal Tulungagung ini berpendapat bahwa harus ada kebijakkan negara untuk hal ini. Sebab era sekarang masih demam menggunakan internet.

Di tempat terpisah, Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan seyogyanya ada rambu-rambu dalam penggunaan internet. Apa rambu-rambunya?Adalah moral agama. Dengan adanya rambu-rambu, siswa akan bisa memilah yang boleh dan yang tidak boleh dalam menggunakan internet

“Pengawasannya ialah dari guru, orang tua murid dan masyarakat. Dengan kolaboratif kegiatan-kegiatan yang positif, penggunaan internet bisa dikurangi. Seperti komba-lomba di sekolah dan kegiatan yang bermanfaat,” kata Sholihin Fanani

Abundance.
Kemajuan jaman, seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Cepat seperti kilat meninggalkan busur yang berada ditempat.
Namun semua itu akan bermanfaat bila dipakai untuk kemaslahatan umat. Jaman sekarang hidup pada Era Abundance, era derasnya informasi, era berseliweran informasi, era banjirnya informasi. Data dan informasi yang berseliweran tanpa bisa di stop sama sekali. Baik data yang benar atau bohong (hoax). Sehingga bercampur baur antara opini dan fakta. Ini bisa membuat manipulasi emosi dan bisa dikatakan era pasca kebenaran (Post Truth). Dampaknya adalah orang (pemuda) lebih percaya opini ketimbang kenyataan. Banjirnya informasi ini membuat dehumanisasi, merosotnya kepedulian terhadap sesama. Mengembalikan hakikat hidup, mengembalikan manusia sebagai suprema, Dr. Djoko Adi Waluyo, Ketua PGRI Jawa Timur mengutarakan bahwa teknologi itu alat, bukan kekuasaan. Maka tidak boleh menjadi techno mania, namun jangan pula techno phobia. Maka manusialah yang resultan antara techno mania dengan techno phobia.

Nilai Rasa.
Dengan belajar karya sastra, belajar budaya senantiasa mengedepankan nilai rasa. Ada manusia ada kehidupan budaya, Ada kehidupan seni, ada kehidupan sastra. Baik sastra lama, peralihan atau modern. Agar tetap dipelajari, maka perlu cara. Cara yang bisa disajikan dengan mengikuti jaman. Karya sastra, tidak saja dibaca, tetapi bisa ditonton, bisa diskenario dengan bentuk film atau youtube. Bila untuk pembelajaran, semua pihak seyogyanya terlibat langsung, yaitu guru, siswa, orang tua murid. Baik sebagai penulis naskah, sutradara, pemain, penata musik dan peran lainnya. Ini yang dinamakan pembelajaran kolaboratif partisipatif. Contoh, SD Sabillilah Sidoarjo yang mempraktikkan metode pembelajaran kolaboratif partisipatif dengan mengangkat olahan Lontong Kupang, masakan khas Sidoarjo lewat youtube. Hal ini melibatkan siswa, guru dan rang tua murid. Dengan demikian, karya sastra Lama, Peralihan dan Modern tidak akan ditinggal oleh generasi muda, jangan sampai kehilangan akar budaya. Oleh karena itu harus disajikan lewat keadaan jaman.

Sastra Lama cenderung pada cerita tentang istana sentris dan isinya dalam bentuk syair, hikayat, pantun. Seperti Gurindam 12 karya Raja Ali Haji. Sastra Peralihan seperti Kisah Pelayar, Abdullah ke Mekah, Singapura Dimakan Api. Sastra Modern, Layar Terkembang, Salah Asuhan, Api di Bukit Menoreh, Roro Mendut dan lainnya.

Karya sastra modern ada yang dicipta tahun 1920, 1950, 2000 dan terus berkembang hingga kini.

Kalau sastra Lama cenderung penulisnya tidak dicantumkan dan isinya mengenai istana sentris. Sastra Peralihan dan Sastra Modern penulisnya dicantumkan dan isinya mengenai kejadian sehari-hari di tengah masyarakat. Semua ini bisa dipakai oleh generasi muda untuk membuka wawasan kritis.

Osis.
Osis harus mempunyai tujuan yang jelas, program yang jelas dan output yang jelas. Belajar komunikasi, belajar kepemimpinan, pembiasaan tanggung jawab, pembiasaan kerjasama serta yang berkaitan dengan organisasi.

Drs. Ec. Margiono, MM, guru senior dan kini sudah pensiun dari SMK Satya Widya Surabaya, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi harus diikuti, termasuk literasi pendidikan.

“Semua proses pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas hakikatnya adalah sepanjang masa,” kata Margiono.

Peran Pemuda.
Dr. Wijayadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, menyampaikan bahwa peran pemuda dalam pergumulan kebangsaan senantiasa pro aktif. Dimulai perjuangan generasi Budi Utomo (1908) yang dimotori Dr. Soetomo dan kawan-kawan. Hal ini telah menancapkan tonggak pemikiran kebangsaan, bukan lagi berpikir daerah. Kemudian diikuti generasi Sumpah Pemuda (1928), satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa yaitu Indonesia. Pencetusnya adalah Soegondo Djojopoespito, Muhammad Yamin dan kawan-kawan. Puncaknya, dengung Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno, dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

“Regenerasi terus bergulir, silih berganti kepemimpinan bangsa. Era orde lama, era orde baru, era reformasi. Kesemuanya ini tak lepas dari peran para pemuda,” papar Wijayadi.

Di tempat lain, Dr. Yunus Karyanto, Dosen UNIPA Surabaya, mengatakan perlunya potensi (SDM) pemuda yang menuju ke perubahan serta mampu melahirkan keteladanan untuk perbaikan-perbaikan di segala lini kehidupan.

“Harapan kami, pemerintah melibatkan pemuda dalam semua aspek pembangunan bangsa dan negara,” kata Yunus Karyanto.

Pemuda Tonggak Kemerdekaan kita, para pemuda berikrar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Para pemuda dari Sabang hingga Merauke menyatukan tekad dan tidak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali Takdir Allah yang menghendaki. Itulah hakikat dari Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober. Para pemuda menyatukan tekadnya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat, bangsa yang majemuk dan bangsa yang besar, demikian paparan Drs. Drajat Poespito, Dosen LP3I Surabaya.

Pemuda adalah soko guru bangsa, pemuda sebagai tiang negara. Di pundak pemuda negara bisa berlangsung keberadaannya. Bung Karno pernah berkata, Beri aku sepuluh pemuda, akan aku angkat gunung Mahameru. Maka betapa utamanya peran pemuda dalam percaturan berbangsa dan bernegara.

Lebih dari itu semua, Yusuf, Margiono, Mulyadi, di tempat terpisah, mengatakan perlunya pendidikan budi pekerti.

“Namun yang utama adalah pendidikan budi pekerti di sekolah dini,” ujar Margiono.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version