Cupu Manik Astagina

admin Mei 18, 2026
Updated 2026/05/18 at 7:40 PM

Foto: Dr. Mochtar Lutfi

 

Surabaya, pedulirakyat.id

Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UNAIR Surabaya, memberi wawasan tentang pentingnya kejujuran dalam rumah tangga. Kalau tidak akan membikin “mala.”
Musibah dalam rumah tangga bentuknya bisa kehilangan istri, anak dan bentuk lainnya. Pria asal Pacitan ini memberi contoh dalam dunia pewayangan lakon Cupu Manik Astagina.

Dalam cerita ini, Resi Gotama, seorang brahmana, mempunyai istri bernama Dewi Windradi. Seorang dewi yang cantik jelita. Suami istri ini dikaruniai tiga putra-putri. Dewi Anjani, Subali dan Sugriwo. Dalam mengarungi perjalanan rumah tangga tidak selamanya mulus, suatu waktu ada gangguan. Dewi Windradi memadu asmara dengan Batara Surya. Lalu, Batara Surya memberi hadiah kepada Dewi Windradi pusaka sakti berupa sebuah cupu yang bernama Cupu Manik Astagina. Syaratnya adalah cupu itu hanya boleh dibuka oleh Dewi Windradi sendiri. Pusaka sakti tersebut bila dibuka, akan tampak isi dunia dan isi kayangan para dewa.

Suatu saat, ketika Dewi Windradi membuka cupu pusaka tersebut, wajahnya berseri-seri dan senyum-senyum sendiri. Dewi Anjani mengetahui, lantas ingin juga melihat isi cupu pusaka itu. Karena sayangnya kepada putrinya, cupu itu dipertontonkan kepada Dewi Anjani. Dalam pada itu, Subali, Sugriwo juga mengetahui dan ingin melihat isi cupu itu.

Singkat cerita Cupu Manik Astagina menjadi rebutan ketiga bersaudara. Kemudian perkelahian terjadi antara Subali dan Sugriwo. Tatkala itu, Resi Gotama melihat anak-anaknya sedang berseteru, kemudian mengambil cupu itu, lantas diamati. Resi Gotama mengetahui bahwa cupu itu milik Batara Surya. Saat itu juga Resi Gotama bertanya kepada Dewi Windradi, istrinya, perihal Cupu Manik Astagina. Dewi Windradi diam tidak menjawab. Kemudian Resi Gotama berucap “Ditanya tidak mau menjawab, diam seribu bahasa, seperti patung.”

Kala itu juga, bumi gonjang-ganjing. Langit kelap-kelap. Ucap seorang resi. Ucap seorang yang sakti, dan kala itu juga, Dewi Windradi berubah wujud menjadi patung dari batu.

Amarah Resi Gotama masih berlanjut, cupu itu dibuang ke Telaga Mandirda. Subali dan Sugriwo yang masih bernafsu ingin memiliki cupu itu, keduanya, terjun, masuk ke dalam telaga. Dan ketika keduanya keluar dari telaga, wajah dan tubuh Subali, Sugriwo, berubah menjadi kera.

Seiring dengan itu, Dewi Anjani mencari kedua saudaranya di telaga, namun tidak ketemu, Dewi Anjani lelah, lalu mencuci mukanya dengan air telaga. Saat itu juga wajah Dewi Anjani berubah menjadi wajah kera, tetapi tubuhnya masih berupa tubuh manusia..

“Pesan yang disampaikan dalam cerita ini adalah betapa besarnya kerugian yang dialami bila tidak jujur dalam rumah tangga. Resi Gotama istrinya menjadi patung dan ketiga anaknya menjadi kera,” tambah Mochtar Lutfi.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version