Prof. Dr. Tuti Budi Rahayu.
Surabaya, pedulirakyat.id
Tatkala pasang surutnya polemik biaya pendidikan yang tinggi, pemerintah mendirikan Sekolah Rakyat untuk semua jenjang (SD, SMP, SMA). Esensinya adalah agar siswa dari keluarga tidak mampu bisa sekolah dengan tuntas.
Rian Kurnia, S. Sos, Wakil Kepala SMA Ipiems Surabaya, mengutarakan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat dipandang sebagai pesaing bagi sekolah swasta.
“Keberadaan Sekolah Rakyat, dipandang sebagai pesaing bagi sekolah swasta. Kalau untuk sekolah negeri tidak ada pengaruh. Tetapi untuk sekolah swasta akan berpengaruh pada jumlah siswa dalam pendaftaran murid baru. Namun kami tetap support karena itu kebijakan pemerintah,” papar Rian Kurnia, S. Sos, saat SPMB di sekolahnya.
Di tempat lain, Prof. Dr. Tuti Budirahayu, dosen Sosiologi Pendidikan FISIP Unair Surabaya mengatakan bahwa berdirinya Sekolah Rakyat merupakan bentuk diskriminatif biaya pendidikan.
“Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang mewah dan ongkos yang mahal, sementara banyak sekolah-sekolah umum di pelosok negeri yang gedungnya rusak. Ini sudah diskriminatif,” terang Bu Tuti, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut Bu Tuti mengatakan bahwa ini akan menumbuhkan kecemburuan sosial. Perbedaan fasilitas antara sekolah umum dengan Sekolah Rakyat.
“Pendidikan dan segala fasilitasnya harus dinikmati segenap anak-anak bangsa,” tambahnya.
Poedianto


