Program Makan Bergizi Gartis Untuk SMA dan SMK Tidak Tepat

admin Maret 9, 2025
Updated 2025/03/09 at 3:56 AM

Surabaya, pedulirakyat.id

Program maka bergizi gratis yang di canangkan oleh Presiden RI bagi siswa SD ( Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) menuai kritik.

Beberapa elemen masyarakat menilai jika makan bergizi gratis itu di berikan kepada Siswa SD dan SMP masih rasional sedangkan jika makan bergizi gratis di berikan kepada siswa SMA dan SMK tidak tepat sasaran. Sebab siswa SD dan SMP masih membutuhkan asupan gizi untuk kecerdasan otaknya. Tapi untuk di tingkat SMA dan SMK sudah tidak perlu lagi karena sudah terlambat.

Ketua MKKS SMK Suwasta Surabaya, Yusuf M.Pd, saat di temui awak media di ruang kerjanya, Sabtu ( 08/03/2025) mengatakan,
” Kalau saya pribadi makan gratis untuk smp ke bawah itu setuju sekali sebab usia SMP kebawah itu sangat membutuhkan asupan gizi yang banyak agar menunjang kecerdasan otak anak. Tapi kalau di tingkat SMA kok saya pikir kurang setuju, tidak tepat sasaran dalam kata lain Eman emani ( sayang sekali. red) uang sebegitu banyak nya mending di alokasikan ke hal hal yang lain, sebab pembemtukan otak pada siswa tingkat SMA itu sudah terlambat, mending di buat yang lain dah, misalnya untuk dana pendidikan yang gratis, penunjang sarana dan prasarana sekolah serta banyak lagi bisa kita perbuat untuk kebutuhan pendidikan dan siswa,” terang Yusuf dengan yakin.

ok

Dalam kesempatan yang sama Yusuf juga mensikapi pentingnya Pendidikan Karakter pada anak didik di sekolah yang harus di prioritaskan.

” Sekarang sudah waktunya dalam dunia pendidikan kita mencetak generasi yang profesional, pantang menyerah dan tangguh, dalam arti generasi yang kuat dalam pribadinya dan tidak cengeng.
Pemangku kebijakan kita dalam dunia pendidikan terutama pendidik harus mengikuti pola perkembangan generasi jaman ini yang tidak sama dengan generasi dijaman kita dulu di tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan. Sekarang pendidik harus mengikuti teknologi terutama media sosial yang sangat mempengaruhi peradapan anak muda.” TambahYusuf.

Satu sisi yang saling berlawanan antara pesatnya perkembangan digitalisasi media sosial dan pendidikan orang tua harus seimbang. Orangtua dan guru harus peka terhadap perubahan ini untuk menjadikan anak didik menjadi karakter yang lebih baik lagi serta menjadikan siswa berdedikasi tinggi, pantang menyerah dan beraklak baik sesuai koridor keilmuan dan budi pekerti yang luhur. Tutup Yusuf.

Ngudi

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version