Surabaya, pedulirakyat.id
Drs. Dradjat Poespito, Dosen LP3I Surabaya mengutarakan suksesnya pendidikan tak lepas dari peran orang tua, guru, siswa, masyarakat dan pemerintah. Semua harus sinergis.
Dengan nada yang sama Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengatakan peran orang tua siswa jangan menyerahkan saja pada pihak sekolah. Karena bayar mahal untuk biaya sekolah, terus pasrah saja dengan sekolah. Ironinya malah menyalahkan sekolah kalau anaknya ada masalah. Baik kenakalan atau tidak bisa mengikuti pelajaran. Komunikasi harus dibangun dengan sekolah. Sebab kalau ada masalah dengan putranya, bisa langsung diambil pemecahannya.
Pembelajaran yang kolaboratif dan partisipatif harus dijalankan. Yaitu keikutsertaan siswa dalam proses belajar mengajar. Kalau sudah demikian, hasilnya baik. Capaiannya akan memadai.
“Proses belajar mengajar yang utama,” tegas Sholihin Fanani.
Ini sebuah tahapan dalam belajar mengajar. Teacher center, pembelajaran berpusat pada guru, student center, pembelajaran berpusat pada murid, kembali ke teacher center. Intinya, guru memberi materi kepada siswa. Lalu siswa mempresentasikan. Kemudian guru menilai hasil presentasi siswa. Disini akan tampak kemampuan daya serap siswa. Ketika pembelajaran di kelas proses ini sangat penting. Jadi siswa akan benar-benar paham dan mampu menjabarkannya.
PKL.
Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau banyak orang menyebutnya dengan magang, ini diperlukan sekali untuk siswa sekolah kejuruan, agar kelulusan siswa mempunyai standar mutu. Dengan demikian kemampuan keterampilan siswa tidak diragukan.
Magang atau PKL juga penting bagi siswa SMK. Dulu cuma 3 bulan lamanya magang. Kini menjadi 6 bulan. Kurun waktu saat magang /PKL relatif cukup. Maka setelah magang/PKL diharapkan bisa mengisi untuk kerja di dunia usaha maupun dunia industri (Dudi). Belum ditambah pengalaman kegiatan-kegiatan intern maupun ekstern dalam bentuk kegiatan sekolah.
Semua ini adalah upaya pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan agar mutu kelulusan siswa tidak diragukan lagi.
“Pada prinsipnya kemampuan siswa yang diutamakan dalam pendidikan. Namun proses harus obyektif dan sungguh-sungguh.
Problematika pendidikan memang banyak variasinya. SDM guru dan karyawan, kesejahteraan guru dan karyawan, kesungguhan bekerja, sarpras, harmonisasi antara pimpinan dan bawahan, kondisi ekonomi orang tua murid dan lainnya. Disini pentingnya komunikasi dan partisipasi yang intensif,” kata Dradjat Poespito.
Partisipasi siswa, terutama partisipasi orang tua siswa sangat perlu . Orang tua siswa jangan menyerahkan sepenuhnya persoalan pendidikan putra-putrinya. Orang tua sebagai pendamping siswa harus sering komunikasi kepada sekolah.
Poedianto


