Surabaya, pedulirakyat.id
Peran Orang Tua Membangun Karakter Siswa. Orang tua di rumah, guru di sekolah.
“Kontrol orang tua yang utama agar putra-putrinya tidak salah arah. Misal dengan adanya kemajuan teknologi HP. Di sisi lain bila tidak dikontrol oleh orang tua bisa mencelakai diri sendiri. Bisa kecanduan. Bisa direhabilitasi di rumah sakit jiwa karena psikologinya terganggu. Kemajuan ini bagai pisau bermata dua. Bermanfaat atau merugikan,” papar Rian Kurnia, S. Sos, Wakil Kepala SMA Ipiems Surabaya.
Di tempat terpisah, H. Abdul Hadi, AMA Pd, Penasehat MI Sunan Giri Surabaya, juga berpendapat karakter siswa bisa dibentuk dengan peran orang tua, guru dan menteri kurikulum.
Profesor Septi Ariadi, Kepala Departemen Sosiologi, FISIP Unair Surabaya, mengutarakan bahwa era post moderen ini buah dari kemajuan teknologi dan tak bisa dihentikan. Yang utama contoh-contoh keteladanan, nilai-nilai luhur, patriotisme, peduli sesama, ini semua bisa terwujud, namun harus diimplementasikan dengan kondisi sekarang.
Guru BK, Guru PKN, Guru Agama dan guru lainnya, adalah sebagai pemandu proses pendidikan karakter bagi anak didik, implementasinya melibatkan guru-guru BK. Penguatannya jam pemberian materi. Yang utama ialah pendidikan akhlak. Upaya membentuk siswa berbudi luhur, sikap terpuji. Baik berhubungan dengan Allah, maupun dengan guru, orang tua, dan pergaulan sesama teman.
Suasana rukun dan saling menghargai keyakinan masing. Yang utama, guru harus memberi teladan baik.
Pendidikan karakter (character building) adalah inti dasar dalam pendidikan. Karakter adalah pondasi dari kehidupan bermasyarakat. Baik di dunia kerja atau dunia pendidikan. Bangunan bawah karakter, bangunan atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Apabila sudah demikian halnya, maka hubungan-hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan harmoni.
Esensi pendidikan membentuk siswa pintar, berwawasan, bersikap terpuji dan mempunyai etika luhur. Kesemuanya menuju siswa mandiri.
Siswa mandiri adalah harapan masyarakat luas. Ciptakan karakter kemandirian, kewirausahaan, kesehatan dan lainnya.
Seyogyanya setiap siswa harus mempunyai jiwa mandiri. Belajar dari jenjang SD, SMP SMA dan tamat, sudahkah siswa bisa mandiri. Misal, penguasaan bahasa Inggris seharusnya sudah bisa berkomunikasi dengan memakai bahasa Inggris. Kan mulai SD hingga SMA sudah diajarkan bahasa Inggris. Bidang Public Speaking, mustinya juga belajar “Pranoto Coro,” perhelatan perkawinan (Temanten Jawa). Sudah barang tentu dengan menggunakan bahasa Jawa yang halus. Nah, semua itu yang dinamakan mempunyai kemandirian. Siswa setelah lulus, akan bisa mandiri kalau mempunyai kompetensi.
Sekolah mencanangkan kebersamaan untuk proses belajar. Artinya, semua anak didiknya mengerti tentang pentingnya membangun kebersamaan buat negara. Ini akan damai dan aman. Semua anak didiknya berpikir demokratis, obyektif, inovatif, inspiratif dan cinta lingkungan.
Wawasan gotong royong bisa disisipkan di semua pelajaran. Harapannya adalah agar setiap siswa mempunyai jiwa nasionalis, cintai damai dan cinta lingkungan. Kalau sudah demikian, pendidikan akan bangkit di semua lini.
Siswa bisa berjiwa cinta tanah air, cinta bangsa dan negara, harus belajar dengan sungguh-sungguh Seperti ingin belajar fisioterapi dan obat-obat tradisi. Ilmu fisioterapi ini bisa disisipkan di pelajaran biologi dan fisika. Pada gilirannya, siswa akan berpikir dan bertindak rasional saintifik.
Di daerah-daerah tenaga fisioterapi masih dianggap tukang pijat. Maka guru harus bisa merubah citra ini, terutama kepada murid-muridnya bahwa tenaga fisioterapi bukan tukang pijat, melainkan tenaga medis.
Pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, pengaruh pergaulan, pengaruh lingkungan, kesemuanya sangat membentuk kepribadian pada anak (siswa).
Yang utama adalah keteladanan orang tua di keluarga. Ayah, ibu harus memberi contoh yang baik, terutama pada ajaran agama. Anak ibarat anak panah yang melejit dari busurnya dan akan menentukan arahnya sendiri sesuai dengan pilihan hidupnya sendiri. Jadi arah perjalanan hidup anak atau siswa, tidak seperti yang dikehendaki orang tua.
Kompleksitas pengaruh di era global sangat tampak dalam pergaulan sehari-hari. Warna-warni dunia bisa diintip pada genggaman HP. Konsumerisme, individualis, ahistoris, bertautan dalam kehidupan sehari-hari. Pada pokoknya tujuan tercapai dengan berbagai upaya. Terkadang dengan jalan menggunting kawan seiring,. Padahal banyak orang bijak (Wasis) yang sudah mengingatkan bahwa kehidupan di dunia tidak ada yang langgeng. Semua mengalami pergantian, pergeseran. “Tan ora ono kang langgeng. Kabeh sarwo owa lan gingsir.”
Menjalankan outing klas harus dalam kontek waktu belajar.
Tidak boleh diadakan saat libur sekolah. Bila diadakan saat libur sekolah itu namanya piknik. Outing klas itu untuk menghilangkan kejenuhan, outing klas akan banyak mendapatkan varian-varian dalam pembelajaran. Dan yang lebih urgen adalah membentuk kebersamaan.
Outing klas, outbond dan berbagai jenis pembelajaran di luar kelas akan membawa nuansa baru bagi anak didik. Baik psikomotorik, kognisi atau personal.
Outing klas tidak harus pergi ke luar kota. Bisa di seputar sekolah.
Membentuk Kognisi dan Psikomotorik. Perlu Stimulasi Multipel Intelegensi bagi anak usia dini. Seperti fisik, motorik, kognisi, antar personal.
Dalam pertumbuhan anak usia dini perlu dilatih kecerdasan dan keterampilan.
Pembelajaran di luar kelas itu perlu. Sebab siswa akan tahu bentuk kongkrit pembelajarannya. Karenanya usia dini harus ditunjukkan bentuk-bentuk secara kongkrit.
Misal, tidak boleh menjelaskan tentang binatang gajah hanya dengan gerakan-gerakan tangan saja. Tetapi siswa harus ditunjukkan binatang gajah secara nyata. Kalau sudah demikian, maka siswa akan bisa berimajinasi tentang gajah secara benar.
Pembelajaran di luar kelas akan menambah wawasan dan pengalaman bagi siswa. Bisa secara pengenalan lingkungan alam semesta, keterampilan, kecerdasan dan membangun jiwa gotong royong.
Poedianto


