Pendidikan dan Pengalaman

admin
admin Mei 22, 2026
Updated 2026/05/22 at 2:20 PM

Surabaya, pefulirakyat.id

Pendidikan dan pengalaman sama-sama penting. Pendidikan menghasilkan wawasan untuk analisis, gagasan, program ke depan. Pengalaman menghasilkan keterampilan, demikian Profesor Dr. Drs. Didin Fatihudin, SE, M. Si, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Pendidikan meliputi pengetahuan, skill dan etika. Ketiganya menjadi satu untuk menjadi sukses. Sudah barang tentu harus dibarengi ikhtiar, tekun dan doa,” kata Profesor Didin, sapaan akrabnya.

Tambah Profesor Didin, di dalam proses pendidikan seyogyanya bidang akademik 50 persen dan empirik 50 persen. Namun tetap ada standar. Baik itu akademik maupun non akademik.

Di tempat terpisah, Dr. Djoko Adi Waluyo, Ketua PGRI Jawa Timur menerangkan tentang link and match. Konsep ini bertujuan ‘menghilangkan kesenjangan antara dunia pendidikan dan pasar kerja agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan langsung siap diserap industri.’Pendidikan Link and Match itu konsep pendidikan yang dibuat supaya lulusan sekolah/kampus “nyambung” langsung dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.

Kata kuncinya: link = menghubungkan, match = menyesuaikan.

Inti idenya, selama ini sering ada gap: lulusan banyak, tapi perusahaan bilang “skill-nya nggak sesuai”.
Link and Match hadir buat nutup gap itu dengan cara:
Kurikulum disusun bareng industri, bukan cuma dari kampus/sekolah aja.
Mahasiswa/siswa magang, praktik kerja lapangan, atau proyek nyata di perusahaan.
Industri ikut ngajar, nyediain alat, bahkan rekrut langsung lulusan.

Bentuknya di Indonesia
Kementerian Pendidikan pakai konsep ini sejak era SMK, sekarang diperluas ke perguruan tinggi lewat program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka:
SMK Link and Match: SMK kerja sama dengan industri. Contoh: SMK otomotif kerja sama Toyota, kurikulumnya pakai standar Toyota, siswa magang di bengkel resmi.
Kampus Merdeka: Mahasiswa bisa ambil magang, studi independen, proyek desa, yang diakui jadi SKS. Tujuannya biar lulus langsung siap kerja.
Teaching Factory & Teaching Industry: Sekolah/kampus jadi “pabrik mini” yang produksinya beneran dipakai industri.

Tujuan utama
Mengurangi pengangguran terdidik: Lulusan nggak cuma punya ijazah, tapi juga skill yang dicari.
Meningkatkan daya saing industri: Industri dapat tenaga kerja yang langsung bisa pakai.
Efisiensi anggaran pendidikan: Nggak ada lagi lulusan jurusan yang lapangan kerjanya minim.

Contoh simpel
Dulu: Jurusan Teknik Informatika ngajar teori coding aja.
Link and Match: Kampus kerja sama Gojek/Tokopedia. Mahasiswa belajar langsung pakai tech stack mereka, magang 6 bulan, pas lulus udah punya portofolio dan seringnya langsung direkrut.
Jadi, Link and Match itu bukan nama sekolah atau jurusan. Itu strategi biar pendidikan nggak jalan sendiri-sendiri, tapi “nyambung” sama kebutuhan dunia nyata.
Jadi kurikulumnya disusun bersama berdasarkan kebutuhan industri, orang dunia usaha dan industri diajak bikin kurikulum bareng,
Jadi mirip sinkronisasi Dudi waktu menjelang ujian saja, tapi ini disusun untuk diajarkan sejak kelas 10 bukan hanya menghadapi ujian.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *