Pameran Anggrek Internasional di Malaysia: Delegasi Indonesia Hanya Bawa Bendera Merah Putih

admin
admin Mei 31, 2026
Updated 2026/05/31 at 1:25 PM

Foto : Rudy T Mintarto perwakilan Indonesia asal Gubeng Surabaya

 

Malaysia, pedulirakyat.id

Indonesia kembali berpartisipasi dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 yang berlangsung di Resort World Awana, Genting Highland, pada 3–10 Juni 2026. Namun, di balik kemeriahan pameran bunga internasional tersebut, delegasi Indonesia menghadapi ironi yang mencengangkan: tidak membawa satu pun anggrek dari Tanah Air.

Rudy T. Mintarto, perwakilan Indonesia yang berdomisili di Gubeng Kertajaya 7E/9, Surabaya, mengungkapkan bahwa satu-satunya barang yang dibawanya adalah Bendera Merah Putih untuk dikibarkan bersama negara peserta lainnya dalam upacara pembukaan pameran.
“Bukan karena Indonesia kekurangan anggrek. Justru Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan spesies anggrek terbesar di dunia,” jelas Rudy.

Hambatan Birokrasi dan Biaya Tinggi
Menurut Rudy, kendala utama terletak pada prosedur kepabeanan yang rumit dan biaya tinggi untuk membawa tanaman hidup ke luar negeri.
“Mustahil bagi kami membawa anggrek sendiri karena prosedur kepabeanan sangat rumit. Banyak aparat yang belum memahami perbedaan antara anggrek hasil budidaya dengan anggrek alami dari hutan,” ungkap Rudy.

Hambatan tersebut membuat pelaku usaha anggrek Indonesia kehilangan peluang memperkenalkan dan memasarkan hasil budidayanya kepada komunitas internasional. Sementara peserta dari negara lain memanfaatkan pameran sebagai sarana promosi dan perdagangan.

Meski tidak membawa anggrek dari Indonesia, Rudy bersama Win Selamat Riyadi dan TB Farhan Davin, landscaper dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, tetap menampilkan stan bertema budaya Jawa Timur. Panitia penyelenggara menyediakan transportasi, akomodasi, dan kebutuhan teknis selama kegiatan.

Display Indonesia menempati area seluas 32 meter persegi dengan dukungan:
300 pot anggrek Dendrobium
150 pot beragam anggrek
150 tangkai anggrek Aranda
300 bunga potong
Seluruh material disediakan di lokasi dengan nilai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia.

Rudy menilai pameran internasional seperti ini memiliki potensi ekonomi sangat menjanjikan. Selain menjadi tempat berkumpulnya pecinta anggrek, kegiatan tersebut juga menjadi arena transaksi antarprodusen dan pebisnis tanaman hias dari berbagai negara.

Sebagai referensi, pameran anggrek di Kota Batu, Jawa Timur, pernah mencatat nilai transaksi hingga Rp6 miliar hanya dalam waktu satu pekan. “Potensi perdagangan di tingkat internasional tentu jauh lebih besar,” kata Rudy.

Meski telah mengikuti berbagai pameran internasional selama sekitar 15 tahun, Rudy mengaku belum pernah memperoleh dukungan signifikan dari pemerintah. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya membawa nama Indonesia ke forum dunia.
“Saya hanya ingin bendera Merah Putih tetap berkibar bersama negara-negara lain dan dunia tidak melupakan bahwa Indonesia memiliki anggrek terbaik,” ujarnya.

Kisah tersebut mengindikasikan bahwa promosi kekayaan hayati Indonesia masih banyak bergantung pada inisiatif individu. Sementara pelaku usaha anggrek nasional masih menghadapi birokrasi yang mahal, rumit, dan melelahkan ketika ingin menembus pasar global.

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *