Mimbar Bebas DKS: Seniman Surabaya Interpretasi Ulang Nilai Kebangsaan

admin
admin Juni 2, 2026
Updated 2026/06/02 at 3:36 PM

Foto: Prosesi ritual pembukaan acara mimbar bebas Dewan Kesenian Surabaya

Surabaya, pedulirakyat.id

Halaman Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kembali menjadi titik temu komunitas seni dan publik pada 1 Juni 2026 malam. Mengangkat tajuk “Mimbar Bebas”, acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu menandai kebangkitan ruang kebudayaan di kota ini setelah beberapa waktu terakhir DKS terseret sejumlah polemik.
Mimbar Bebas bukan sekadar forum orasi. Panitia menghadirkan panggung terbuka yang menampung puisi, ludruk, pantomim, karawitan, musik, teater, dan seni rupa. Transformasi itu menegaskan pandangan para pelaku seni bahwa ekspresi kreatif dapat menembus batas birokrasi dan aturan formal, serta menjadi sarana pembentukan kesadaran publik.

Penyelenggaraan berlangsung di tengah kontroversi seputar keberadaan DKS: isu pengosongan ruang, pemindahan peralatan—termasuk gamelan—penyegelan sekretariat, dan pelaporan hukum yang melibatkan pengelola serta pihak pemerintah. Pemerintah merujuk tindakan itu sebagai upaya penataan aset dan ruang kota. Seniman dan budayawan menilai langkah tersebut sebagai upaya “menghilangkan ruang hidup” yang selama ini menjadi rumah kreativitas dan memori kolektif.

Para pegiat budaya melihat konflik ini sebagai benturan cara pandang terhadap kebudayaan. Bagi birokrasi, benda dan ruang seni sering diposisikan sebagai aset yang dapat dikelola secara administratif. Bagi seniman, ruang dan benda seni adalah wadah ingatan kolektif dan arena dialog sosial yang tidak dapat diukur dengan parameter inventaris semata.
“Seni bukan meja arsip, melainkan ingatan kolektif. Semakin ruang ini ditekan, semakin ia menemukan bentuk baru. Saat ruangan disegel, halaman menjadi panggung. Saat mikrofon dimatikan, tubuh manusia menjadi pengeras suara,” ujar salah satu inisiator Mimbar Bebas.

Pemilihan tanggal 1 Juni tidak kebetulan. Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, acara ini dimaksudkan sebagai penafsiran ulang nilai-nilai kebangsaan. Alih-alih menjadi seremonial, Pancasila dipresentasikan lewat pertunjukan jaranan, macapat, ludruk, musik kontemporer, dan seni rupa spontan, dengan pesan bahwa kebangsaan tumbuh ketika rakyat diberi ruang untuk berbicara dan berkarya.

Puncak acara menampilkan pembukaan kembali Galeri DKS melalui prosesi Mbukak Lawang (membuka pintu), simbolik pembukaan relasi antara manusia, ruang, dan sejarah. Galeri menampilkan pameran “Vivere Pericoloso” — istilah yang dipopulerkan Bung Karno, bermakna “hidup dalam bahaya”. Tema ini dipilih untuk menegaskan bahwa kemajuan budaya lahir dari keberanian mempertanyakan dan menghadapi tantangan, bukan dari kenyamanan.

Meimura, salah satu seniman yang terlibat, mengatakan pameran dan prosesi itu menegaskan bahwa keberadaan galeri tidak diukur dari kunci atau bangunan, melainkan dari keberlanjutan gagasan, karya, dan partisipasi publik yang menolak melupakan sejarah.

Dengan lampu sederhana dan kerumunan yang antusias, halaman dan galeri DKS kembali hidup. Mimbar Bebas menjadi bukti bahwa perdebatan seputar ruang kebudayaan di Surabaya belum usai, dan bahwa kebebasan berekspresi serta keberagaman cara berpikir tetap menjadi inti kehidupan kebangsaan.
Apakah Anda ingin versi yang lebih singkat (untuk berita cepat), atau versi long-form dengan kutipan lebih lengkap dan latar belakang hukum/polemik?

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *