MEROSOTNYA BUDI PEKERTI.

admin April 4, 2025
Updated 2025/04/04 at 4:17 AM

Oleh: Poedianto.

Keseimbangan antara nilai-nilai religius dan sain sangat menentukan sikap anak-anak muda. Ilmu pengetahuan agama, sosial dan pengetahuan lainnya, harus mendapat porsi yang pas. Kuncinya ialah keseimbangan dari semua itu.

Bahwa kurangnya program dinas pendidikan pada penanaman budi pekerti bisa membuat merosotnya nilai-nilai kesopanan. Misalnya, hubungan-hubungan pergaulan, sosialisasi di masyarakat, tata kesopanan cenderung menurun.

Dahulu, orang tua banyak memberi contoh tentang ber-sosialisasi dan tata kesopanan di tengah masyarakat. Anak-anak mengikuti orang tuanya dengan taat.
Sekarang anak-anak canggung dalam tata kesopanan di masyarakat. Anak-anak kurang terbiasa dan kurang memahami untuk bersikap tata kesopanan dalam pergaulan. Misal, bersikap dengan orang tua, kerjasama, peduli sesama, gotong royong, kurang memahami kepentingan orang banyak. Yang ada asyik dengan diri sendiri dan cenderung acuh tak acuh.

Bahwa kemajuan alat-alat komunikasi seperti telpon genggam, akan membawa anak-anak semakin mementingkan diri pribadi. Enggan bersosialisasi bersama orang lain.
Bahwa anak-anak muda sekarang (termasuk para siswa) sudah terbiasa menikmati dirinya sendiri. Sibuk dengan dunianya sendiri bersama HP.
Anak-anak muda sekarang lebih menikmati dunianya sendiri, sehingga mengesampingkan orang lain, kurang peduli dengan sekitarnya dan cenderung tidak peduli.

Bahwa penataan kesopanan, budi pekerti dan nilai-nilai kepatutan dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, sudah ditanamkan sejak pelaksanaan PPDB dan MPLS di sekolah.

PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) tahun 2025 bisa lebih baik. Pendidikan akan lebih maju. Bila pendidikan maju, putra-putri bangsa akan cerdas dan berwawasan luas.

PPDB, bisa sistemnya, pelayanannya harus diperbarui agar bisa memberi peluang yang sama bagi pendaftar. Semua ini akan memajukan pendidikan. Bila pendidikan maju, putra-putra bangsa akan cerdas, pintar. Bersaing dalam PPDB sudah lumrah, tentu setiap sekolah akan menunjukkan keunggulannya masing-masing. Tujuannya mendapat murid baru sebanyak-banyaknya.
Memandang perlu adanya persamaan hak bagi siswa dalam PPDB Tahun 2025. Dengan dihapusnya syarat zonasi, maka setiap siswa boleh berkeinginan memilih sekolah yang dipercaya. Untuk itu, yang tepat adalah dengan melalui tes akademik. Dengan melalui tes untuk semua siswa yang berkeinginan belajar di sekolah yang dipercaya. Dan ini akan baik hasilnya. Faktor kolusi dan like and this like akan tersingkirkan Maka syarat lewat tes inilah yang obyektif dan rasional. Apalagi apabila ingin belajar di sekolah favorit. Dengan dihapusnya syarat zonasi, mutu pendidikan akan berkualitas. Sementara tidak setiap daerah mempunyai sekolah yang sesuai kebutuhan siswa, tidak semua sekolah mempunyai kreatifitas yang sama. Setiap sekolah mempunyai ciri khas yang beda dan memandang perlu semua sekolah harus berani melangkah untuk menerobos kesulitan, lalu mendapatkan solusi yang baik. Harus berani untuk menerobos kendala yang mungkin timbul dalam PPDB.

Kemudian tahap pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) dijalankan. Semua yang terkandung dalam budi pekerti diterangkan, dijabarkan oleh para guru. Hasilnya, kita semua yang tahu.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version