Foto: Re-Desain Kumpulan Foto Kegiatan Festival Nasional Reog Ponorogo 2026
Surabaya, pedulirakyat.id
Reog Ponorogo resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda setelah ditetapkan pada Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-19, Desember 2024. Pengakuan ini mengukuhkan kesenian kolosal asal Jawa Timur tersebut sebagai aset budaya bernilai internasional.
Pengakuan UNESCO mendorong penguatan pelestarian, termasuk lewat Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) yang rutin digelar di Ponorogo. Kementerian Pariwisata telah memasukkan festival ini ke dalam daftar 10 Kharisma Event Nusantara.
Untuk gelaran 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur memfasilitasi partisipasi kelompok Kyai Lodra. Kelompok ini dipilih karena beranggotakan akademisi dari sejumlah institusi pendidikan, sehingga dinilai mampu menjamin kesesuaian jenis-jenis pertunjukan dengan aturan adat serta mendukung regenerasi pelaku budaya.
“Kami menekankan bahwa kontingen yang dibina adalah yang belum pernah merasakan panggung besar Festival Nasional Reog Ponorogo,” ujar Evy selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur.
Dalam persiapan, Kyai Lodra berproses bersama seniman dan calon seniman yang masih menjalani pendidikan formal seni selama sekitar tiga bulan. Kegiatan mencakup riset, pengembangan materi, dan peningkatan standar tampilan agar pertunjukan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis serta relevan dengan segmentasi pasar saat ini.
Disbudpar juga mengapresiasi kelompok-kelompok seni lain seperti ludruk, jaranan , campursari, seni Tengger, seni Banyuwangi, dan sebagainya yang mengedepankan standar pertunjukan lebih tinggi dan program regenerasi berkelanjutan.
Upaya ini memperluas akses seniman terhadap program pelestarian dengan kualitas yang meningkat dibanding sebelumnya.
Visi peningkatan mutu tersebut diwujudkan Kyai Lodra di FNRP XXX: mereka merebut Piala Bergilir Presiden setelah menampilkan pembaruan artistik tanpa menghilangkan esensi Reog.
Rophy Pareno


