Surabaya, pedulirakyat.id
Janji, lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Banyak orang mengharap akan realisasi janji. Sebab yang diberi janji mengharap dengan penuh akan kesesuaian janji. Misal, tatkala PPDP lembaga pendidikan untuk mencari murid baru dengan janji-janji Dalam brosur dipasang semua janji-janji. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang dijanjikan.
Prisna Andreanus Effendi, M. Pd, Dosen UNIPA Surabaya, berpendapat bahwa semua itu bergantung pada kualitas sekolah. Kalau memang berkualitas, tidak akan ditinggalkan oleh calon-calon siswa.
“Ada yang naik jumlah muridnya, ada pula yang turun. Semuanya bergantung pada kualitas sekolah,” kata Pak Prisna , panggilan sehari-harinya
Bisa diterjemahkan dengan “jangan dusta bisa sengsara.” Falsafah ini sering diajarkan oleh guru di sekolah. Tujuannya sudah jelas agar anak didik terbiasa berbicara jujur..
“Ini sudah diajarkan di kelas satu Seperti cerita- cerita keteladanan,” kata Falah Widodo, S. Th. I. Guru Agama Islam SDN Mojo 3 Surabaya.
Terkadang para guru bahasa daerah dalam mentranformasi hal kejujuran juga dengan mengkisahkan cerita-cerita yang sesuai dengan usia anak. Seperti keteladanan tokoh-tokoh dalam legenda, ephos, cerita rakyat. Seperti Panji Sumirang, Ande- Ande Lumut, Timun Emas, Malin Kundang dan cerita-cerita lainnya.
Dalam alur setiap cerita, guru biasanya memberi gambaran dua tokoh. Yang satu berperilaku jujur dan yang satunya berperilaku dusta. Kedua tokoh tersebut mempunyai dampak yang beda. Yang jujur dalam ending cerita mendapat kemuliaan. Yang dusta akan mendapat sengsara.
Harapan guru tentang kedua ending cerita tersebut bisa menjadi pelajaran bagi siswa. Kalau suka dusta akan memetik buah pahit, pun sebaliknya bila senantiasa jujur akan memanen kebaikan.
Anak usia TK, SD, SMP kan gampang mencerna pelajaran tentang kisah-kisah. Bila masih anak-anak. Maka guru harus sering menanamkan pembelajaran budi pekerti.
“Penanaman kejujuran ada di budi pekerti dan diajarkan lewat tutur yang halus dan yang berupa cerita-cerita rakyat,” tambah Wening Sari, AMA Pd, alumni Prodi PGTK UNIPA Surabaya.
Tema cerita tentang kejujuran sangat penting bagi penanaman karakter siswa. Disini memang diperlukan kreasi para guru. Penanaman kejujuran seyogyanya diberikan pada jam-jam pelajaran pertama (jam pagi). Sebab pada jam pelajaran pertama, siswa masih segar, energik. Tetapi apabila diberikan pada jam-jam terakhir (siang), siswa sudah penat dan kantuk.
“Ya memang itu kami berikan pada jam pertama setiap hari. Kecuali hari Jumat. Sebab hari Jumat pagi kan ada olah raga. Hari Jumat memang kami bebaskan bermain setelah olah raga,” kata Wening Sari.
Bagaimana dengan pengaruh lingkungan rumah ? Alumni PGTK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mengatakan bahwa harus ada waktu untuk konsultasi dengan orang tua murid.
“Terutama dengan murid-murid yang bermasalah. Kami harus tahu sebab-sebab masalahnya, kemudian dicarikan solusinya. Ini harus ada kerja sama dengan semua pihak. Terutama dengan orang tua murid. Sebab pendidikan itu bersifat tri pusat pendidikan. Yaitu pendidikan sekolah, pendidikan rumah serta pendidikan lingkungan. Kalau kesemuanya sinergis, Insya Allah akan berhasil mendidik siswa menjadi jujur, pintar dan berguna bagi nusa bangsa. Oleh karena itu, menepati janji adalah mulia,” tambah Falah Widodo.
Banyak Rejeki, Banyak Membagi.
Ramadan, bulan suci, bulan yang penuh rahmat dan hidayah, karenanya dalam bulan ini banyak yang menyisihkan sebagian dari rejeki untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Instansi pemerintah, lembaga pendidikan, warga biasa dan yang lainnya sudah banyak yang membagi rejeki, berupa sembako, uang, pakaian dan yang lain.
“Yayasan pendidikan Baiturrahman Surabaya membagi 60 parsel untuk orang tua murid TK, SD, MI, SMP, SMA,” ujar Drs. Muhammad Sahrul Suhartaji, S. Pd. I, Kepala MI Baiturrahman Surabaya.
Karyawan pabrik, karyawan toko, guru dan lainnya juga mendapat tunjangan hari raya dari pimpinan masing-masing. Kesemuanya itu untuk keperluan hari raya, termasuk mudik.
Drs. Dradjat Poespito, Dosen LP3I Surabaya mengatakan bahwa diwajibkan bagi yang mampu untuk membantu yang kekurangan.
Sopo sing temen bakal tinemu.
Drs. Muhammad Sahrul Suhartaji, S. Pd. I, Kepala MI Baiturrahman Surabaya, mengatakan bahwa pendidikan harus mengutamakan dasar-dasar moral. Sopan santun, tolong menolong, sikap menghormati yang lebih tua, jujur.
“Tidak ada pelajaran khusus mengenai moralitas. Semua diintegrasikan di rana masing-masing dan ini melalui proses. Jadi jangan melihat hasil, tetapi proses. Apalagi sekarang, siswa lebih suka pelajaran yang bisa dilihat, karena bisa melihat warna gambar walaupun dalam bentuk animasi,” paparnya.
Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya, mengatakan “Sopo sing gelem usaha kanti tenanan, bakal katekan opo sing dikarepke.” Artinya, semua itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Guru harus bisa mengkondisikan siswa agar belajar sungguh-sungguh. Mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Namun semuanya berpulang pada metode pembelajaran.
Guru juga harus bisa menjelaskan materi dengan menarik. Yang pada pokoknya, siswa bisa tertarik. Lalu siswa bisa diajak belajar di luar kelas. Misal, pelajaran sejarah, siswa bisa diajak ke candi, diajak ke peninggalan-peninggalan sejarah.
Siapa bersungguh- sungguh maka ia akan berhasil. Bentuk kongkritnya adalah belajar dengan tekun dan konsisten untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Ini secara umum. Bila ingin sukses harus berusaha dengan sungguh-sungguh.
Poedianto

