Meimura dan Besutan Surabaya Buka-penghujung LISAN XIII di TIM: Pertemukan Chhau India, Gambang Kromong, Yospan, dan Silek Harimau

admin Agustus 2, 2026
Updated 2026/08/02 at 2:42 PM

Foto: Kesenian Besutan dari Surabaya

Surabaya, pedulirakyat.id

Dari surya kota Pelabuhan hingga panggung Taman Ismail Marzuki, tradisi lisan Indonesia akan bertemu ragam ekspresi budaya dunia dalam Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) pada 5–7 Agustus 2026. Salah satu momen paling dinanti adalah kehadiran Meimura, seniman dari Surabaya, yang membawa Besutan — bentuk awal ludruk — untuk membuka dan menutup forum budaya dua tahunan itu.

Besutan Meimura bukan sekadar tontonan; ia mewakili upaya pelestarian sebuah tradisi yang nyaris pudar. Selama ini Meimura dikenal melalui gerakan “Besut Jajah Desa Milangkori” yang menggelar pentas di 10 kota Jawa Timur sejak April lalu. Keberangkatan ke Jakarta menjadi kesempatan untuk menempatkan Besutan dalam percakapan internasional tentang kelestarian seni pertunjukan tradisional.

Pada pembukaan, 5 Agustus, Meimura akan berbagi panggung dengan Gambang Rancag/Kromong dari Jakarta dan Seraikela Chhau dari India. Seraikela Chhau — tarian topeng tradisional dari Jharkhand — memperkaya acara dengan gabungan teater, tari, dan unsur bela diri yang menceritakan epos Ramayana dan Mahabharata melalui gerak simbolik dan irama drum; sebuah warisan yang sudah diakui UNESCO sejak 2010.

Gambang Rancag/Kromong menawarkan kontras lokal: paduan bertutur (rancag) dan orkes Gambang Kromong yang lahir dari pertemuan budaya Betawi-Tionghoa. Ketiganya, dalam pertemuan lintas panggung, menghadirkan dialog teater—musik—narasi yang memperlihatkan keluwesan tradisi dalam merespons perubahan sosial.

Penutupan pada 7 Agustus membawa kembali Meimura berdampingan dengan Komunitas Papua Yosim Pancar yang menampilkan Yospan, tarian persahabatan dan perayaan dari Papua, serta Silek Harimau, cabang pencak silat Minangkabau yang memadukan kelincahan ala harimau dan nilai-nilai adat. Perpaduan ini menyuguhkan spektrum tradisi Nusantara—dari timur ke barat—yang menegaskan keberagaman dan kesalingterhubungan praktik pertunjukan rakyat Indonesia.

Selain pertunjukan, LISAN XIII tetap mempertahankan fungsi akademisnya: seminar, diskusi, dan Musyawarah Nasional Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Henri Nurcahyo, Wakil Ketua ATL Jawa Timur, akan membawakan makalah “Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan,” yang menempatkan langkah Meimura sebagai model revitalisasi berbasis komunitas.

“Penampilan ini penting untuk menggugah kepedulian publik terhadap ludruk yang semakin tergerus zaman,” kata Henri, yang akan mendampingi Meimura di Jakarta. Ia menegaskan bahwa Besutan bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi adaptif agar tradisi tetap relevan tanpa kehilangan akar kulturalnya.

Penyelenggara acara, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), dikenal luas sebagai wadah pemerhati tradisi lisan yang sudah berkiprah sejak 1993 dan mendapat akreditasi UNESCO (seri 90223) sejak 2011. LISAN sebagai agenda dua tahunan berfungsi sebagai ruang pertukaran bagi peneliti, pegiat, hingga praktisi dari dalam dan luar negeri untuk membahas tema pelestarian, inovasi, dan jejaring budaya.

Mengangkat Besutan ke panggung internasional bukan hanya soal mempertontonkan sebuah bentuk seni; ia juga soal memantik perhatian institusi, penonton, dan pembuat kebijakan agar memberi ruang bagi kelangsungan ludruk dan tradisi serumpun lainnya. Bila peluang semacam ini dimanfaatkan, kata Henri, nyala ludruk — melalui bentuk-bentuk adaptif seperti Besutan — berpeluang menyala kembali di ruang publik yang lebih luas.

LISAN XIII, dengan rangkaian seminar, festival, dan Musyawarah Nasional ATL, akan berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 5–7 Agustus 2026. Penampilan Meimura dan rangkaian pertunjukan lintas budaya itu diharapkan menjadi magnet yang mengundang perbincangan baru tentang arti, strategi, dan masa depan tradisi lisan di era global.

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version