Literasi Rendah

admin Maret 18, 2025
Updated 2025/03/18 at 12:19 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

Prof. Dr. Sarkawi B. Husain , M. Hum, Kaprodi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya dan Edy Budi Santoso, M. Pd, Direktur Museum Ilmu Sejarah, keduanya mengutarakan bahwa kemauan membaca sejarah sangat rendah bagi generasi muda. Literasi rendah. Padahal belajar sejarah adalah sebuah keharusan, agar tidak mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu. Belajar sejarah hakikatnya untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, karena sejarah adalah proses perubahan untuk masa depan.

“Ibarat tali busur panah yang ditarik ke belakang, semakin kencang menariknya, semakin pesat pula anak panah meluncur ke depan. Sejarah pun demikian, semakin peduli dengan peristiwa sejarah masa lalu, maka untuk melangkah ke masa depan tidak akan salah dalam memilih jalan. Semua harus dimulai di sekolah. Dinas Pendidikan harus peduli dalam hal ini. Terutama kemauan politik pemerintah,” papar PaK Sarkawi, sapaan akrabnya, serius.

“Bentuknya adalah pembekalan guru-guru sejarah,” tambah Edy Budi Santoso.

Belajar Sejarah.
Belajar sejarah adalah belajar kehidupan bangsa. Tentang sosiologi, antropologi, ekonomi, budaya, politik, religi dan pasang surut kehidupan di suatu komunitas bangsa.

Indonesia diapit dua lautan dan dua benua. Bentang inilah, Indonesia menjadi sebuah wilayah yang subur. Terutama tentang hasil rempah-rempah yang melimpah ruah. Kondisi inilah yang dilirik oleh bangsa asing. Seperti bangsa Inggris, Belanda, Portugis, dan bangsa asing lainnya. Mereka mencari rempah-rempah. Sementara daerah-daerah penghasil rempah-rempah sudah dimiliki dan dikuasai oleh kerajaan-kerajaan lokal. Maka yang terjadi adalah saling berebut otoritas penguasaan daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Lalu, politik devide it Impera dipakai oleh bangsa asing. Adu domba antar kerajaan, adu domba antar bangsawan di satu kerajaan. Taktik inilah yang mengakibatkan penjajahan selama beratus tahun. Perlawanan ada di setiap kerajaan. Perlawanan-perlawanan lokal terhadap penjajah rupanya mengalami kegagalan. Seperti perang Diponegoro. Aceh, Maluku dan daerah lainnya. Kemudian muncul ide membentuk sebuah bangsa. Tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta terbentuklah sebuah organisasi kebangsaan.Boedi Oetomo yang didirikan oleh para pelajar School tot Opleinding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang dimotori dr. Soetomo dan kawan-kawan. Dilanjutkan tanggal 27-28 Oktober tahun 1928 berdiri organisasi pemuda Sumpah Pemuda oleh Moh. Yamin dan kawan-kawan. Esensinya yaitu sebuah sumpah peneguhan, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Dan puncak dari jiwa nasionalis, patriotis membuahkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, atas nama rakyat Indonesia.

Lewat organisasi kebangsaan menghasilkan sebuah bangsa yang bersatu dan berdaulat. Maka sudah menjadi kewajiban generasi penerus untuk memupuknya agar rempah-rempah yang subur di bumi pertiwi ini dimiliki oleh bangsa sendiri. Semua ini, harus sungguh-sungguh dalam belajar sejarah.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version