Kolaborasi Tim PM-UPUD Unitomo dan Unipra Hadirkan Inovasi Teknologi untuk Batik Probolinggo.

admin November 14, 2025
Updated 2025/11/14 at 9:56 AM

Foto : Tim PM-UPUD bersama Mitra Perlihatkan Kain Batik Hasil Inovasi

 

Probolinggo, pedulirakyat.id

Usaha untuk memperkuat sektor kreatif batik di Kota Probolinggo kini mendapatkan dorongan baru melalui program Pemberdayaan Mitra–Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) yang digagas oleh para dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) di Surabaya dan Universitas WR Supratman Surabaya (Unipra). Inisiatif yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada tahun 2025 ini diberi judul “Optimalisasi Industri Kreatif Batik melalui Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas, Kuantitas Produk, dan Efisiensi Biaya.” Tim PM-UPUD dipimpin oleh Dr. Dra. Fedianty Augustinah, MM. (Unitomo), dengan anggota Dr. Nensy Megawati Simanjuntak, S.Pd., M.Pd., Bambang Sutejo, S.T., M.T. (Unipra), dan Dr. Ir. Suyanto, MM., ME. (Unitomo), serta empat mahasiswa Unitomo.

Program ini menjalin kerjasama dengan dua mitra utama, yakni IKM Batik Wahyulatri dan Poerwa Batik, yang berlokasi di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.
Dalam penjelasannya, Fedianty Augustinah menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan contoh nyata kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menciptakan ekosistem industri batik yang lebih maju dan berkelanjutan. “Target kami bukan hanya untuk meningkatkan kualitas produk, melainkan juga untuk menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan kemampuan produksi dengan teknologi yang sesuai,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa penerapan mesin pengering Dry Room Infrared dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berhasil mengurangi waktu dan biaya produksi secara signifikan. “Mesin pengering infrared yang kami rancang sudah terdaftar sebagai paten sederhana di Kemenkumham. Alat ini dapat mengeringkan hingga 16 lembar kain batik dalam waktu 10 menit, serta menekan biaya produksi hingga 70%,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, tim juga menyumbangkan kedua alat tersebut kepada mitra batik sebagai dukungan konkret terhadap keberlanjutan usaha.
Di sisi lain, salah satu anggota tim, Suyanto, menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya terfokus pada inovasi alat, tetapi juga meningkatkan kapasitas manajerial para pengrajin. “Kami memberikan pelatihan tentang manajemen usaha, pemasaran digital, serta sistem pembukuan berbasis akuntansi agar pengrajin dapat beradaptasi di era ekonomi digital,” jelasnya. Selain itu, menurut Suyanto, tim juga memperkenalkan konsep ekonomi hijau melalui penggunaan IPAL yang ramah lingkungan guna mengurangi pencemaran air akibat limbah pewarna sintetis. “Evaluasi awal menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak ekonomi yang nyata: kapasitas produksi batik meningkat 35–40%, penjualan digital naik hingga 40%, dan menciptakan peluang kerja baru di sekitar lokasi produksi,” tambah dosen dari FEB ini.

Dampak dari kegiatan ini juga dirasakan secara langsung oleh mitra pengrajin batik. Eva Sugiarti, pemilik IKM Batik Wahyulatri, mengaku bahwa inovasi yang diperkenalkan oleh tim Unitomo dan Unipra sangat mendukung efisiensi produksi. “Dulu kami memerlukan waktu berjam-jam untuk mengeringkan kain batik, sekarang hanya butuh 10 menit. Biaya listrik juga jauh lebih hemat. Selain itu, kualitas warna batik menjadi lebih merata dan tidak mudah pudar,” katanya dengan rasa syukur. Ia menambahkan bahwa bimbingan dari tim juga memberikan wawasan baru bagi para pengrajin dalam memasarkan produk secara digital. “Sekarang kami sudah bisa berjualan melalui media sosial dan marketplace. Hasilnya, pesanan dari luar daerah semakin banyak,” ujarnya.

Dengan pencapaian ini, program PM-UPUD Unitomo dan Unipra diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berbasis teknologi dan dapat diterapkan di wilayah lain. Seperti yang dinyatakan oleh Fedianty Augustinah, penggunaan teknologi dalam batik bukan hanya terkait dengan peningkatan efisiensi produksi, tetapi juga merupakan bagian dari pelestarian budaya lokal serta peningkatan taraf hidup masyarakat. “Kami berharap batik Probolinggo tidak hanya dapat bertahan, melainkan juga berkembang menjadi produk unggulan yang dapat membanggakan daerah dan Indonesia,” tegasnya.

 

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version