Kekayaan Sejarah, Budaya, dan Kuliner Ampel digagas melalui Peresmian ATIC

admin Agustus 9, 2025
Updated 2025/08/09 at 8:56 AM

Foto: Pengguntingan Pita oleh Ketua PCNU Kota Surabaya menandai peresmian ATIC

 

Surabaya, pedulirakyat.id

Peresmian ATIC (Ampel Tourist Information Centre) di lobi Quds Royal Hotel Surabaya berlangsung dengan baik dan penuh semangat pada Jumat sore (8/8/25). Acara ini disertai dengan Bazaar UMKM, yang memperkenalkan berbagai cita rasa khas Ampel, pertunjukan Ludruk Garingan oleh Seniman Meimura, serta alunan musik siter. Selain itu, diadakan juga pengenalan budaya literasi, seperti aksara Jawa yang memiliki sejarah di daerah tua Ampel Denta. Berbagai produk unik dari Ampel dan yang bertuliskan aksara Jawa menambah suasana meriah.

Terdapat menu seperti sambosa, nasi kebuli, martabak, zuppa soup dengan rasa gule kacang hijau, serta berbagai produk dalam kemasan yang menggunakan aksara Jawa. Salah satu stand dikelola oleh komunitas Puri Aksara Rajapatni yang menawarkan beragam camilan keripik dalam kemasan beraksara Jawa.

Peresmian dibuka oleh Farah Andita Ramdhani, Ketua Bidang Promosi Pariwisata Disbudporapar Kota Surabaya, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata, Hidayat Syah.

Dalam sambutannya, Farah menyatakan bahwa ATIC diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber informasi mengenai tempat-tempat wisata religi di Ampel, mengingat banyaknya lokasi menarik yang ada di sana, termasuk Masjid Ampel dan makam Sunan Ampel.

Ketua pelaksana acara yang juga bertindak sebagai manajer Quds Royal Hotel, Pungky Kusuma, sebelumnya menjelaskan bahwa rangkaian acara ini bertujuan untuk memperlihatkan kekayaan sejarah, budaya, dan kuliner Ampel. Ia mencatat bahwa area Ampel akan menjadi bagian dari segitiga emas yang menghubungkan Ampel, Peneleh Heritage, dan Kota Lama Surabaya.

Dengan selesainya peresmian ATIC, acara dilanjutkan dengan sarasehan budaya bertajuk “Menapak Jejak Peradaban Sunan Ampel”. Pembicara yang hadir adalah Riyadi Ngasiran, Wakil Ketua PC NU Surabaya, dan Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni.

Keduanya membahas peran Sunan Ampel dalam perkembangan sejarah di kawasan tersebut. Nanang Purwono menekankan bahwa Raden Rahmat (sunan Ampel) merupakan sosok penting dalam agama, pemerintahan, dan perdagangan, yang simbol-simbol peradabannya masih terlihat hingga hari ini.

Masjid berfungsi sebagai lambang penyebaran Islam, sementara aksara Jawa dengan tulisan “Kertining Pandhita Winayang ing Ratu” melambangkan seorang pemimpin, serta relief cengkeh yang menjadi simbol komoditas rempah Nusantara.

“Selama ini banyak yang mengira Ampel hanya dikenal lewat Masjid Ampel dan makam Sunan Ampel. Sebenarnya ada banyak aspek menarik lainnya, seperti kehidupan sosial budaya, arsitektur, dan seni,” ujar Nanang.

Dia juga menjelaskan bahwa inskripsi aksara Jawa yang berbunyi “Kertining Pandhita Winayang ing Ratu” menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi peradaban Ampel sebagai destinasi wisata sejarah.

Serangkaian kegiatan Jejak Peradaban Ampel Denta ditutup menjelang Maghrib. Acara ini dihadiri oleh Kepala Bidang Promosi Pariwisata Disbudporapar Surabaya, Lurah Ampel, jajaran PCNU Surabaya, RW 3 Ampel, serta tiga pelukis dari Yogyakarta yang juga memamerkan karya mereka di acara tersebut, serta sejumlah awak media. Selain itu, ditampilkan sketsa kawasan heritage Surabaya oleh Budi Irawan dan Edy Marga.

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version