Surabaya, pedulirakyat.id
Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Airlangga Surabaya, keduanya memandang perlu untuk meningkatkan kualitas karakter bangsa. Sebab bila karakter bangsa baik, negara akan menjadi baik.
“Pemerintah melalui kementerian pendidikan telah mensosialisasikan tentang deep learning, pendidikan karakter dan coding and AI. Ini sebuah ide besar dan diimplementasikan di semua jenjang pendidikan. Yakni, dari SD, SMP, SMA dan SMK. Sudah barang tentu masuk di semua pelajaran,” papar Sholihin Fanani.
Lebih jauh, Pak Sholihin, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya sisi akademik semata, namun juga sisi karakter. Dan juga pendidikan, keteladanan, karakter, harus baik. Ini juga yang mendapat perhatian semua pihak. Sekolah, masyarakat dan para pejabat.
“Pejabat harus memberi keteladanan yang baik kalau karakter baik, negara juga menjadi baik,” kata Pak Sholihin.
Di tempat terpisah, Dr. Mochtar Lutfi tidak menjadi kuatir akan kehilangan keteladanan dari para tokoh. Sejak jaman dulu kala sudah banyak tokoh-tokoh yang bisa memberi contoh yang baik, teladan yang bagus.
“Walau jaman sudah menjadi digital, kemajuan teknologi sudah pesat, tetapi tetap saja masih ada tokoh-tokoh yang hidupnya banyak bermanfaat bagi masyarakat. Seperti tokoh yang hidupnya menghijaukan lereng-lereng tandus atau tokoh yang hidupnya mengajar di daerah-daerah tertinggal.


“Keteladanan, tidak harus dari tokoh-tokoh sekarang. Bisa dari tokoh-tokoh para pemimpin dahulu. Seperti tokoh-tokoh pendiri bangsa, Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh lainnya,” jelas Mochtar Lutfi.
Drs. M. Ghufron, Guru Pendidikan Agama Islam dan juga sebagai Pembina Osis, SMK Satya Widya Surabaya memaparkan tentang keteladanan dan pembiasaan beretika baik. Tugas penting pendidikan adalah menanamkan etika pada pribadi peserta didik.
Mengapa ? Sebab etika atau akhlak adalah kemampuan pribadi masing-masing individu untuk mengaktualisasikan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa direncanakan terlebih dahulu. Etika itu timbulnya otomatis tanpa dirancang lebih dahulu. Namun beretika baik itu seyogyanya dilatih serta dibiasakan mulai dari usia anak-anak.
Berbeda dengan ilmu pengetahuan. Kemampuan membaca, menelaah, memahami bahkan sampai pada tingkat penghayatan serta menyampaikan kepada orang lain, membutuhkan waktu yang relatif lebih pendek di banding dengan penanaman dan pembiasaan etika.
Maka sagat tepat kalau di sekolah atau lembaga pendidikan senantiasa terus-menerus membiasakan perilaku baik. Guru sebagai pendidik tanpa lelah menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik bagi murid-muridnya. Jika demikian pembiasan tersebut akan menghasilkan perilaku baik yang tanpa paksaan, mereka akan melakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sisi lain keteladanan seorang figur, dalam hal ini guru sangat dibutuhkan, sebab murid akan berbuat kebiasaan baik manakala ada sosok teladan yang ditiru. Maka menjadi ironi, jika gurunya tidak bisa menjadi contoh keteladanan.
Keteladanan sangat dibutuhkan, karakter baik dari para pejabat yang diharapkan. Semua ini yang menjadi dasar-dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Poedianto


