KAIDAH-KAIDAH BUDI PEKERTI

admin Juli 11, 2025
Updated 2025/07/11 at 9:25 AM

 

Oleh: Poedianto

Etika, sikap perilaku, tata kesopanan, halusnya tutur kata, sesungguhnya kesemuanya sudah tersurat dan tersirat dalam kultur masyarakat Indonesia. Apalagi dalam kultur Jawa, hal tersebut malahan lebih rinci. Coba tinjau di esensi sastra Jawa. Baik pada trap susila keseharian pergaulan maupun pada sastra tulis Jawa. Kesemuanya terkandung muatan kaidah-kaidah budi pekerti.

Dengan kacamata budaya, pendidikan, menyatakan bahwa banyaknya fenomena perilaku yang menyimpang dari kaidah-kaidah kepatutan, kesusilaan, ini sebenarnya merupakan keprihatinan para pendidik, yaitu guru, dosen dan semua saja yang bergelut untuk pencerdasan anak-anak bangsa. Tak ada kata lain, prihatin.

Untuk hal ini, sebenarnya sudah diajarkan pada mata pelajaran (mapel) Bahasa Daerah (Jawa). Yakni di literasi Maca Pat. Sudah diterangkan pula di Serat Wedhatama tulisan Kanjeng Mangkunegoro ke 4, Surakarta. Dalam kitab tersebut terdapat pada Tembang Nulatdho Laku Utomo (Teladan Kebaikan), ini membahas tentang Wong Agung Ing Ngeksi Gondo. Yaitu untuk mencapai tataran perbuatan mulia. Perbuatan mulia, keutamaan, harus bisa menjalankan Kepati Amarsudi Sudoning Hawa Nafsu. Tentu dengan menjalankan Tapa Brata, Tanapi Siang Ratri. Arti semua ini adalah menahan semua hawa nafsu angkara murka dengan menjalankan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Siang dan malam.

Sebab apabila ini diabaikan maka yang terjadi adalah senantiasa menuruti hawa nafsu. Baik nafsu biologis maupun nafsu indrawi panca indra.

Perilaku memuaskan diri pada duniawi akan selalu tak terbendung, akan selalu serba kurang. Maka yang terjadi adalah banyaknya fenomena pola laku tindak korupsi, kriminal, tidak jujur serta semua perilaku menyimpang lainnya.

Dalam tataran yang memprihatinkan ini para guru, dosen dan semua saja yang bergelut di dunia pendidikan merasa terketuk hatinya. Sebab hakikat pendidikan itu bisa mengkukuhkan, menguatkan, menegakkan pendirian lurus dan mengkikis, menghilangkan hawa nafsu angkara.

FILOSOFI WAYANG.
Ada makna lain tentang Barata Yudha. Barata mempunyai arti tindak laku atau perbuatan. Yudha berarti perang. Barata Yudha berarti memerangi perilaku angkara, tercela, tidak terpuji. Intinya ialah memerangi perbuatan yang buruk. Maka dalam diri setiap manusia pastilah mengalami pergolakan antara baik dan buruk. Dan benar adanya bahwa yang paling berat adalah memerangi diri sendiri. Setiap saat akan nengalami Barata Yudha. Baik mikro maupun makro..

Dalam Barata Yudha ada tokoh-tokoh Pandawa (baik) dan tokoh-tokoh Kurawa (buruk). Pandawa dan Kurawa adalah bentuk peraga untuk memvisualisasikan perbuatan manusia. Ada yang baik, ada yang buruk. Maka Barata Yudha terjadi setiap saat pada kehidupan manusia.

RAMA TAMBAK.
Dalam cerita Ramayana, ada episode Rama Tambak. Yaitu Prabu Rama Wijaya sedang membangun tambak kemakmuran bagi rakyatnya. Namun setiap perbuatan baik selalu mengiring pula aral rintangan. Ramayana (Rama Wijaya) merintis jalan kemakmuran (membangun tambak). Kemudian datanglah gangguan-gangguan dari musuh-musuh yang tidak mnghendaki kesuksesan Prabu Ramayana dalam memimpin bangsa dan negaranya. Gangguan itu datangnya dari Prabu Dasamuka dan kawan-kawan jahatnya. Seperti Yuyu Rumpung, Bajul Putih, Katak Sini dan banyak lagi. Semuanya berusaha mengganggu dan merusak tambak kemakmuran tersebut.
Cerita ini menggambarkan orang yang ingin sukses, tentu harus berusaha. Jangan pilih enaknya saja, ibarat orang yang tidak mau menanam, tidak mau membangun, tetapi ingin memetik hasilnya. Tidak ikut menanam tetapi ingin mengunduh buahnya.

Bangunan tambak Ramayana ini selalu digerogoti oleh lawan-lawannya. Namun “sing becik ketitik, sing ala bakal ketara” (baik dan buruk akhirnya kelihatan).

JANGAN INGKAR.
Jangan ingkar (ojo cidro). Ingkar kata, ingkar janji dan lainnya, pasti akan menemui kesulitan (mundak sangsoro). Bisa diterjemahkan dengan “jangan dusta bisa sengsara.” Falsafah Jawa ini acapkali diajarkan oleh guru bahasa daerah di sekolah. Tujuannya sudah jelas agar anak didik terbiasa berbicara jujur.

Terkadang para guru bahasa daerah dalam mentranformasi hal kejujuran terkadang juga dengan mengkisahkan cerita-cerita yang sesuai dengan usia anak. Seperti keteladanan tokoh-tokoh dalam legenda, ephos, cerita rakyat. Seperti Panji Sumirang, Ande- Ande Lumut, Timun Emas, Malin Kundang dan cerita-cerita lainnya.

Dalam alur setiap cerita, guru biasanya memberi gambaran dua tokoh. Yang satu berperilaku jujur dan yang satunya berperilaku dusta. Kedua tokoh tersebut mempunyai dampak yang beda. Yang jujur dalam ending cerita mendapat kemuliaan. Yang dusta akan mendapat sengsara.

Harapan guru tentang kedua ending cerita tersebut bisa menjadi pelajaran bagi siswa. Kalau suka dusta akan memetik buah pahit, pun sebaliknya bila senantiasa jujur akan memanen kebaikan.

Anak usia TK, SD, SMP kan gampang mencerna pelajaran tentang kisah-kisah. Bila masih anak-anak. Maka guru harus sering menanamkan pembelajaran budi pekerti.

“Penanaman budi pekerti harus lewat tutur yang berupa cerita,” kata Wening Sari, AMA Pd, mantan Guru TK. Tunas Bangsa Surabaya.

Tema cerita jangan yang dusta (ojo cidro). Ini sangat penting bagi penanaman aklaq siswa. Disini memang diperlukan kreasi para guru. Penanaman kejujuran seyogyanya diberikan pada jam-jam pelajaran pertama (jam pagi). Sebab pada jam pelajaran pertama, siswa masih segar, energik. Tetapi apabila diberikan pada jam-jam terakhir (siang), siswa sudah penat dan kantuk.

“Ya memang itu kami berikan pada jam pertama setiap hari. Kecuali hari Jumat. Sebab hari Jumat pagi kan ada olah raga. Hari Jumat memang kami bebaskan bermain setelah olah raga,” tambah Wening Sari, AMA. Pd.

Bagaimana dengan pengaruh lingkungan rumah ? Alumni PGTK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mengatakan bahwa harus ada waktu untuk konsultasi dengan orang tua murid. “Terutama dengan murid-murid yang bermasalah. Kami harus tahu sebab-sebab masalahnya, kemudian dicarikan solusinya. Ini harus ada kerja sama dengan semua pihak. Terutama dengan orang tua murid. Sebab pendidikan itu bersifat tri pusat pendidikan. Yaitu pendidikan sekolah, pendidikan rumah serta pendidikan lingkungan. Kalau kesemuanya sinergis, Insya Allah akan berhasil mendidik siswa menjadi jujur, pintar dan berguna bagi nusa bangsa,” tambahnya serius.

HANYA BERANGAN-ANGAN.
Biaya tinggi masuk perguruan tinggi. Sulitnya mencari pekerjaan. Maka dikawatirkan banyak siswa lulusan SMA dan SMK tergelincir ke pergaulan yang salah. Dan pada gilirannya melakukan perilaku yang menyimpang dari kepatutan. Tetap saja banyak kalangan yang menuding kepada lembaga pendidikan yang kurang berhasil mendidik siswanya menjadi siswa yang berkualitas. Dianggap kelulusan yang kurang bermutu, kurang siap pakai untuk mengimbangi di dunia kerja dan dunia industri.

Namun lembaga pendidikan sudah maksimal dalam mendidik siswanya. Baik membekali keterampilan kerja, wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi, budi pekerti, disiplin serta kaidah-kaidah agama. Tetapi waktu belajar di sekolah hanya sebatas pada jam pelajaran. Waktu di luar jam sekolah, ini juga sangat mempengaruhi pembentukan kharakter siswa.
Kontrol orang tua juga sangat penting untuk pembentukan siswa. Peranan orang tua jangan sampai kendor terhadap pergaulan putra-putrinya. Kemajuan alat-alat komunikasi yang canggih juga mempengaruhi siswa.
Kesemuanya bergumul menjadi satu dan saling mempengaruhi. Inilah yang banyak membentuk watak anak-anak muda.

Sementara sisi yang lain jati diri bangsa semakin ditinggalkan. Seperti, tata kesopanan, belajar seni budaya, norma-norma kepatutan. Semua jati diri bangsa semakin lama semakin dijauhi. Seiring dengan itu penetrasi budaya asing yang tidak cocok dengan adat ketimuran semakin mendesak dan semakin diminati oleh anak-anak muda kini. Maka yang terjadi adalah kebiasaan tiru-tiru model asing inilah yang sering kita lihat.

Watak tiru-tiru inilah yang membuat ongkos hidup semakin mahal. Karena semua harus digapai dan dicocokan dengan iklan-iklan yang dilihat. Sementara banyak anak-anak muda yang penghasilannya pas-pasan. Dikotomi antara keinginan dan pendapatan inilah yang membuat semakin tidak rasional. Apalagi apabila kurang siap mental dan pendiriannya. Maka kekawatiran menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginan. Ini sudah banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Berangan-angan tinggi, kurang dicocokkan dengan kondisi sendiri.

Kekurangan ekonomi dan besarnya keinginan muncul dalam bentuk-bentuk kenakalan, kurang sopan, pongah, dan segala perilaku yang merugikan. Dan lebih parah lagi mudah menyalahkan orang lain, termasuk menyalahkan orang tua sendiri.

Fenomena inilah yang acapkali disitir oleh orang Jawa dengan pepatah “Kegedhen Ampyak Kurang Cagak.” Keinginan yang tinggi namun tidak sesuai dengan kenyataan.

MENCARI KEBAHAGIAAN.
Kata Kalimosodo acapkali didengar pada dunia pewayangan. Yaitu senjata ampuh yang dimiliki oleh Pandawa. Namun kata Kalimosodo bisa berarti kalimo (lima) dan usodo (penyembuhan, kebahagiaan). Dan bila dikembangkan secara semantik bisa bermakna penyelamatan terhadap lima nafsu yang bisa merusak kehidupan. Penyelamatan bagi siapa ? Sudah barang tentu untuk hidup dan kehidupan manusia. Nah, disini masyarakat Jawa yang sangat kental dengan budaya wayang meneladani kepada sikap satria para Pandawa. Berkat senjata Kalimosodo inilah terbukti Pandawa menang dalam memerangi angkara murka saat perang besar Barata Yudha.

Perang Barata Yudha bisa juga dimaknai dengan memerangi nafsu besar yang senantiasa mengiring dalam kehidupan. Baik kehidupan secara induvidual maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kelima nafsu yang dilarang itu adalah maling (korupsi), main (berjudi), madhon (main selingkuh/main wanita), madat (narkoba), minum (arak). Dan dalam falasafah Jawa barang siapa yang bisa memerangi kelima-limanya, maka akan selamat di dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Hidup bahagia.
Falsafah Ini, bisa dibungkus dengan budaya, pendidikan atau dengan kepentingan yang lainnya. Bergantung siapa yang membungkus dan untuk apa ?

Lima penyelamatan (Kalimosodo) ini bila dihubungkan dengan kejayaan kerajaan. Yaitu tatkala Majapahit mengalami masa kesuraman dan tidak mampu lagi mengayomi rakyatnya, maka perlu sebuah negara baru sebagai pengganti. Diceritakan dalam Kitab Babad Tanah Jawa, konon Majapahit diserang oleh pasukan Pangeran Udhoro dari Kediri. Majapahit kalah, dan raja terakhir Majapahit Prabu Brawijaya Pamungkas beserta pasukannya meninggalkan kota raja menuju Demak untuk meminta bantuan. Maka dengan bantuan Raden Patah Raja Demak, Pangeran Udhoro beserta pasukannya bisa ditundukkan dan digulung oleh pasukan Demak. Kala itu juga ibu kota Majapahit dipindah ke Demak. Sejak Demak berdiri, masyarakat Jawa mulai mengenal konsep Kalimosodo, yaitu lewat tontonan wayang.
Ini bila ditinjau dari bungkus sejarah dan budaya. Namun apabila ditinjau dari sudut pendidikan, bisa juga Kalimosodo dipahami sebagai pendidikan moral. Semua bisa saja, bergantung dari sudut pandang mana yang akan diangkat,

Tafsir akan Kalimosodo banyak ragamnya. Ada yang mengartikan Kalimosodo dengan kalimo (lima) sodo (sebatang sapu lidi). Artinya limo-limo ning nyawiji (manunggal). Yakni, kelimanya (limo) menjadi satu. Satu tekad untuk memerangi kelima nafsu (main. maling, madhon, minum, madat). Tetapi ada juga yang mengkaitkan dengan nilai-nilai luhur. Bahkan ada juga yang menghubungkan dengan budaya. Dan mungkin banyak lagi pendapat lainnya. Tetapi pada hakikatnya adalah sebagai pegangan hidup untuk kebahagian. Baik kebahagian orang perorang atau pun kebahagian masyarakat luas.
Yang pada intinya adalah sebagai penyembuhan manusia dari lima nafsu (penyakit). Ungkapan dalam bahasa Jawa memang mempunyai makna yang dalam, apalagi dikaji secara filsafat. Ada yang mencontohkan Harjuna dalam lakon wayang adalah seorang satria yang banyak istrinya. Artinya dalam pandangan masyarakat umum Harjuna suka kawin. Padahal apabila dikaji dengan makna sastra yang dalam, Harjuna mempunyai banyak istri itu adalah Harjuna yang suka berguru untuk mencari ilmu. Maka maknanya adalah Harjuna mempunyai banyak ilmu. Ilmu perang, ilmu kesusasteraan, ilmu kenegaraan, ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain. Ini semua disimbulkan Harjuna mempunyai banyak istri.

Diantaranya Dewi Sebodro, adalah bertemperamen halus, lemah gemulai. Halus berbudi luhur ini adalah simbul dari kesusasteraan.(Ilmu sastra). Dewi Srikandi, seorang wanita yang pandai memanah, pandai perang. Dan dalam hikayat wayang, Srikandi adalah salah seorang senopati perang. Dewi Srikandi adalah lambang ilmu perang. Dan Harjuna juga mempunyai istri seorang bidadari dari kayangan (surga). Ini simbul keagamaan. Maka Harjuna mempunyai banyak ilmu. Ilmu perang, kesusasteraan, pemerintahan dan keagamaan. Ini disimbulkan dalam cerita Jawa sebagai istri.

Kesemuanya ini bergantung pada ketajaman dalam memaknai. Ada yang mengartikan secara konotatif ada yang denotatif. Kedua-duanya adalah baik sepanjang dipaparkan dengan tepat. Karena kesemuanya ini adalah khasanah kekayaan nilai sastra dan budaya dalam masyarakat majemuk.

TEMBANG KETELADANAN.
Dalam pembelajaran Pendidikan Bahasa Daerah di tingkat sekolah dasar (SD-SMP) dan Pendidikan Seni Budaya di tingkat sekolah menengah atas (SMA-SMK) semua guru bidang studi tersebut telah mengajarkan Tembang Pucung. Mengapa ? Tembang Pucung sarat dengan muatan moral pendidikan.

Pucung.
Ngilmu iku, kelakone kanti laku.
Lawase lawan khas.
Tegese khas nyantosani.
Budio setyo pangekesi durangkoro.

Terjemahan bebasnya sebagai berikut : Ilmu (pengetahuan) itu bukan hanya dilafal (dihafal saja), namun dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dan apabila dilakukan dengan konsisten, semua keangkaraan akan sirna.

Tembang Pucung ini banyak disadur di buku-buku Lembar Kerja Siswa (LKS), baik untuk siswa SD maupun siswa SMP. Apalagi apabila gurunya sangat paham tentang falsafah Jawa. Tentu dalam pengajaran di kelas seyogyanya diberikan juga contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Bisa juga dalam mengurai Tembang Pucung disisipi dengan kisah-kisah tokoh, atau sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah. Dan yang lebih utama, guru harus menekankan pada anak didik bahwa budaya bangsa sendiri tidak kalah luhurnya dengan budaya manca negara. Disini akan tertanam pembelajaran jiwa nasionalisme, patriotisme, rasa mencintai budaya bangsa sendiri. Belajar seni apapun, termasuk seni tembang, akan bisa membentuk budi pekerti luhur, kehalusan sikap perilaku, andap asor bagi siswa. Sebab sastra Jawa sangat kental dengan pendidikan budi pekerti luhur. Sopan santun sangat ditekankan dalam budaya Jawa. Sebab kini sudah terjadi penetrasi budaya asing dalam tata pergaulan generasi muda. Ini sangat memprihatinkan. Budaya liberal yang kurang bisa membedakan mana yang tua mana yang muda. Semua di gebyah uyah (sama ratakan) apabila berbicara. Tidak membedakan berbicara dengan orang yang lebih tua atau dengan usia yang sesama. Kalau budaya ini diterus-teruskan, ke depan bangsa Indonesia akan kehilangan jati diri. Untuk membendung hal ini, gurulah sebagai garda terdepan.

MENJAGA KEARIFAN LOKAL
Bung Karno dalam tri sakti mengatakan bangsa Indonesia harus mandiri di bidang politik, ekonomi dan budaya. Artinya harus mengutamakan sejati-jatinya dari bumi Indonesia. Tidak tergantung pada asing.

Masyarakat Sumatera terkenal dengan pantun-pantunnya, Betawi dengan syair-syair sindiran dan di Jawa dengan werdhatama, wulang reh dan macapat (Jawa Tengah dan Jawa Timur), sementara ada juga yang dengan parikan kidungan jula-juli (Jawa Timur). Kesemuanya merupakan tembang-lagu (dengan irama masing-masing). Ini semua digunakan sebagai sarana mendidik masyarakat, terutama untuk generasi muda.

Berbagai media untuk melestarikan dan untuk pembelajaran sudah banyak yang di bukukan, majalah berbahasa Jawa. Seperti Jayabaya, Panji Masyarakat dan lainnya. Belum yang lewat lagu-lagu. Ada yang lewat syair-syair, ada pula yang diiringi irama. Baik irama tradisi setempat atau sudah kolaborasi.

Seperti tembang Pangkur yang sudah barang pasti syairnya sangat kental dengan pendidikan moral.

Simak syair ini :
Sapa bisa ura-ura
Uran-uran paringane Kanjeng Nabi.
Jagad jembar, langit dhuwur.
Geni kalangkung panas.
Mori putih yen diwedel dadi gandung.
Yen ora ngandel den nyatakna
Asem kecut gula legi.

Tafsir bebasnya ini :
Siapa bisa melantun. Lantunan pemberian Baginda Nabi.
Bumi yang luas, langit yang tinggi. Api yang amat panas. Kain putih bila dicelup (wenter) bisa menjadi hitam. Jika tidak percaya bisa dibuktikan. Asam masam rasanya, gula manis rasanya.

Syair ini bisa dilantunkan dengan diiringi irama tembang menurut budaya yang berlaku dalam masyarakat.

Pangkur, sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Bahkan di sekolah dasar (dulu sekolah rakyat/SR) pada era tahun 60-an sudah diajarkan oleh guru. Bahkan tembang Pangkur menjadi wajib bagi siswa agar bisa menghafalnya.
Untuk apa ? Sudah barang tentu agar anak didik bisa memahami serta meneladani pesan-pesan moral yang terdapat dalam tembang. Termasuk tembang Pangkur.

Seperti syair diatas tadi, sudah jelas merupakan pendidikan akan besarnya kekuasaan Tuhan, keagungan Tuhan. Lewat ciptaan Tuhan yang digambarkan dengan luasnya bumi serta alam semesta. Langit yang menjulang tinggi tak terukur. Manusia bisa merasakan rasa makanan ; manis, pahit, getir, asin dan rasa lainnya. Ini semua adalah pemberian Tuhan. Seperti yang dicontohkan dengan rasa asam dan gula dalam syair tersebut.

Esensi yang terkandung pada syair tersebut, manusia harus “eling” (ingat) bila tidak punya kuasa apa-apa. Bisa merasakan masam pada buah asam atau merasakan manis pada gula (tebu).

MEMBERI JALAN BAIK.
Jangan berpikir untuk diri sendiri saja. Bantu membantu sesama. Jangan selalu merugikan orang lain. Daun klaras (kering) saja akan bermanfaat bagi manusia. Bisa untuk membungkus makanan. Daun jati untuk membungkus bumbu dapur, daun busuk bisa jadi rabuk. Yang pada pokoknya, peranan apa saja yang disandang manusia seyogyanya digunakan sebesar-besarnya untuk kebaikan.

SANGKAN PARANE DUMADI.
Lebih jauh harus merenung bahwa manusia berasal dari mana dan akan pergi kemana. Perjalanan hidup semestinya harus mempunyai pegangan, mempunyai panduan. Pegangan dan panduan inilah yang dipakai sebagai tongkat untuk meniti hidup serta mengarungi kehidupan di tengah masyarakat yang semakin lama semakin komplek. Cobaan serta ujian senantiasa silih berganti. Yang satu belum rampung terselesaikan, yang satunya lagi sudah menghadang di depan mata.

Menghadapi yang demikain inilah, harus teguh. Jangan sampai hanyut oleh semua yang harus dipikul. “Ngintir, ning ora kintir.” Menyesuaikan keadaan, bukan hanyut oleh keadaan. Karenanya harus mempunyai prinsip yang kuat. Sebenarnya ini semua sudah diajarkan oleh ayah, ibu dan para guru. Teguh dalam prinsip fleksibel dalam pergaulan.

Di sekolah, metode pembelajaran yang mudah dicerna oleh siswa dan sesuai dengan jenjang usia, ini penting. Sebab akan mudah dicerna. Apalagi tentang falsafah kearifan lokal. Oleh karena itu siswa harus dikenalkan dengan budaya-budaya lokal. Pada gilirannya akan mengerti tentang kekayaan, keragaman kearifan lokal masyarakat. Yang saripatinya adalah sama, yaitu memberi, berderma kepada sesama. Baik memberi tenaga, harta maupun ilmu pengetahuan. Dengan demikian akan mengerti hakikat hidup. Hidup itu dari mana dan akan kemana.

Dalam era jasa dan industri di segala bidang kehidupan ini, dikhawatirkan generasi muda akan cenderung mengedepankan sifat materialistik. Yaitu sifat yang mengutamakan kebendaan dan konsumtif.

PENGABDIAN SEJATi.
Simak syair ini:
Tapak-tapak ing gladhen sejati.
Gladhene wong kang kepingin ngabdi marang Ibu Pertiwi.
Ora butuh pangalembana
Ora butuh puji-puji.

Tafsir bebasnya ini :
Jejak-jejak di medan kehidupan bagi insan yang ingin mengabdi pada bangsa dan negaranya. Tanpa pamrih, tidak ingin dipuji. Sebab pengabdiannya dengan tulus hati serta tidak mengharap pangkat serta kedudukan duniawi.

Pengabdian ini tepat bila ditujukan kepada guru. Sebab selama ini guru memang sudah teruji pengabdiannya untuk pencerdasan anak-anak bangsa.

Guru, mendidik dengan tidak mengukur penghasilan. Hasil materi yang tidak seberapa, masih semangat mengajar. Masih bisa hadir mengajar walau dengan jarak tempuh yang jauh dari rumah ke tempat mengajar. Ada yang jaraknya 10 km, 15 km dan bahkan ada yang lebih dari 30 km. Tidak pernah mengeluh, badan bersimbah peluh, hasil yang pas-pasan masih bertanggung jawab membangun moral anak bangsa.

Pengabdian inilah sebagai bukti dedikasi terhadap profesinya. Sebagai intelektual senantiasa konsekwen terhadap keilmuan yang dimilikinya. Semuanya ditumpahkan untuk anak didik. Dengan tidak meradang apalagi mengeluh menghadapi serpihan-serpihan derita kehidupan. Derita di atas derita dipanggul dipundaknya, bahkan tak jarang menerima cerca.

Pengabdian guru tak bisa dibayar dengan apapun. Pengabdian guru sudah jelas menghasilkan gedung-gedung menjulang tinggi, menghasilkan jutaan buku diperpustakaan, menghasilkan para pemimpin bangsa. Mulialah pengabdian guru.

SINDEN
Hanya di SMK Negeri 12 yang mengajarkan ilmu pesindenan dan pedalangan di Surabaya. Tak semudah yang dibayangkan orang untuk menjadi seorang sinden. Dibutuhkan ketelatenan, keluwesan, wira swara dan tentunya harus menguasai gending. Gending alit, gending nengah dan gending gedhe. Namun dalam perkembangannya, seiring interaksi budaya dan selera masyarakat, profesi sinden harus bisa juga melantunkan lagu berirama langgam, keroncong, campursari, bahkan lagu berirama dangdut, pop dan irama lainnya.

Tidak kalah pentingnya sikap perilaku dalam membawa diri di tengah pertunjukan. Kesemuanya ini akan menentukan dalam mengemban nama baik profesi sinden.

Sinden harus bisa mengikuti iringan gending dalam pagelaran wayang. Ketika jejer pertama yaitu Gending Soren (sore), Patet Sanga (tengah malam) serta Patet Manyuro (menjelang subuh).

Waktu goro-goro (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), banyak permintaan dari penonton untuk meminta dilantunkan lagu-lagu. Gending, campursari, langgam, keroncong dan segala lagu lainnya. Seorang sinden seyogyanya melayani permintaan penonton. Bila kesemuanya itu bisa dilayani dengan baik, maka sinden tersebut sudah bisa dikatakan sinden yang mumpuni. Kesemuanya itu akan membantu popularitas. Seperti Nyi Sanyem, Nyi Sunyahni, Nyi Tjodro Lukito, Nyi Suwarni, Nyi Elisha, Nyi Eka, Nyi Candra serta yang lainnya.

Sinden, harus menguasai gending klasik. Misalnya, Gending Semarangan, Gending Rujak Sentul, Gending Jangkuk Kuning dan gending-gending klasik lainnya.

Menjadi pengrawit seperti Yurnino Takenouchi, pengrawit dari Jepang memerlukan belajar dengan waktu lama. Sindenpun demikian. Sinden juga belajar makna dari tembang. Seperti tembang Maca Pat. Ini membutuhkan waktu yang lama, telaten serta tekun dalam mempelajarinya.

Sinden pemula harus belajar Gending Madya. Misalnya, Ladrangan, Pangkur, Asmaradana, Ciblon, Jineman dan lainnya. Kemudian meningkat ke Gending Gedhe. Seperti Gambir Sawit, Onang-Onang dan gending gedhe lainnya.

Gending langgam masa kini juga harus bisa dilantunkan. Contoh, Ngidam Sari, Bengawan Sore, Caping Gunung dan gending langgam lainnya.

OMONGAN MIRING.
Rupanya omongan miring terhadap profesi sinden juga masih ada, bahkan benci terhadap sinden.

SINDEN DARI LUAR NEGERI.
Hiromi Kano dari Jepang, Megan O’Donoghue dari Amerika, bahkan bukan berasal dari Jawa, seperti Elisha Orcarus Allasso dari Sulawesi Tengah, ketiganya membutuhkan waktu yang lama belajar menjadi sinden.

TANDAK
Desa Paras, Lawang, Malang, dikenal dengan seni tradisi Tandak Andong. Yaitu penari yang diiringi seperangkat gamelan yang ngamen keliling dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Tandak Andong, seperti Engtrak di Blitar, Lengger di Madiun, sudah mulai tersingkir dalam percaturan seni tari pertunjukan. Bahkan anak-anak muda lebih tertarik dengan tari dance, tari modern dan tari kekinian yang lain.

Karsinah, penari Tandak Andong, merasa sedih terhadap keadaan ini. Tandak Andong semakin lama semakin tergerus oleh pergumulan jaman dan semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Namun Karsinah sudah berupaya agar seni Tandak Andong dicintai kembali oleh masyarakat sekarang. Tetapi upaya Karsinah rupanya mengalami kesulitan.

Gedung Cak Durasim Surabaya sering mengadakan pagelaran ludruk, janger Banyuwangi, ketoprak, teater, wayang kulit dan seni pertunjukan lainnya. Seperti Ludruk Kendo Kenceng dari kota Malang yang tampil dengan inspiratif. Para pemain dari siswa-siswa SMP Negeri 18 Malang, SMA Negeri 7 Malang, mahasiswa dan dosen Universitas Brawijaya Malang, Universitas Gajahyana Malang dan Universitas Malang (UM). Tampil dengan suasana kekinian dan penuh dengan sindiran-sindiran kritik sosial terhadap konstelasi era sekarang. Ini tampak dalam lakon Karsinah.

Sutradara Sutak Wardiono yang juga pelatih tari dari Malang menuturkan kepada penulis dengan serius di ruang rias Gedung Cak Durasim Surabaya bahwa pentingnya uri-uri seni tradisi.

Gending Jula-Juli, gending Samirah dan gending-gending lainnya dilantunkan oleh Kartika, mahasiswa Universitas Malang dengan suara renyah, merdu dan mampu membuat terkesima penonton.

Walau malam semakin malam, udara dingin menusuk kulit, namun penonton enggan bergeser dari duduknya, menikmati hiburan rakyat dengan riang gembira.
Mari kita rayakan budaya bangsa sendiri.

OBAH GEDRUK BUMI.
Para seniman dari Jakarta, Solo, Indramayu, Purworejo, Lumajang, Jombang, Blitar, Malang, Ponorogo, Surabaya, Kota Batu serta seniman-seniman daerah lain lagi, menghadiri dan memeriahkan gebyar seni Obah Nggedruk Bhumi (pemberian tanda negeri) di Desa Pendem, Junrejo, Kota Batu. Berbagai tari tradisi, kontemporel dan teater silih berganti dipentaskan.

SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya menampilkan tari kontemporel religi. Sebuah tari kreatif oleh Aris Setiawan, M. Pd (guru seni budaya) dengan iringan syair-syair spiritual yang bernuansa Islami oleh Drs. Mohamad Gufron (guru agama Islam). Tari ini diberi judul “Meneb.”

Kesemuanya ini dilakukan para seniman untuk sebuah negeri yang dicintai, agar dijauhkan dari ribet dan bebendu (malapetaka).

Winarto Ekran, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Kota Batu mengutarakan bahwa misi diadakannya acara ini agar negeri kita jauh dari malapetaka.

“Yang urgen adalah uri-uri budaya bangsa. Pelestarian budaya akan membentuk rasa cinta kepada tanah air. Mencintai tanah air akan senantiasa berdoa serta berupaya memajukan kehidupan bangsa agar sejahtera,” papar Winarto Ekran.

Utari Dian Palupi, guru sanggar tari Nara-Nari, Kota Malang menambahkan, bahwa acara Obah Nggedruk Bhumi ini semata agar negeri ini bisa aman dan damai. Guru SMP Negeri 25, Kota Malang yang mahir dalam tari genre Jawa Timur, genre Jawa Tengah dan genre Bali ini pernah mementaskan “Tari Sesaji” dalam hari ulang tahun sanggar Malang Dance di candi Songgoriti beberapa tahun lalu juga untuk mendoakan bumi kita.

“Generasi muda supaya belajar serta memahami seni budaya bangsa sendiri,” timpal Tri Broto sang maestro tari tradisi Jawa Timur. Sehubungan dengan ini, Tri Broto dan Maymura (sutradara ludruk Irama Budaya Nusantara) mementaskan fragmen “Besutan.”

Drs. Mohamad Gufron, seniman qori’ sekaligus guru agama Islam SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya, mengatakan pentingnya apresiasi seni natural seperti Gedrug Bumi kali ini,” kata Mohamad Gufron.

“Kreasi seni tidak harus di panggung yang gemebyar dengan alat-alat modern. Namun apresiasi seni bisa ditranformasikan di alam terbuka. Alam makrokosmos menyatu dengan alam mikrokosmos. Energi manusia menyatu dengan lingkungan alam semesta,” tambahnya.

Bela, Devi, Binti, Chendra dan teman-teman, semuanya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membantu dengan tak mengenal lelah agar acara tersebut sukses.

“Saya menyukai sastra dan seni tari,” aku Devi mahasiswi Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia, Malang.

Sementara acara kali ini ditempatkan di Nggopit, dusun Mojorejo, desa Pendem, kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Udara segar menyelimuti panggung acara di Dusun Mojorejo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Suara gemericik air pancuran yang jatuh di bebatuan, air sungai Brantas mengalir jernih, gemerisiknya dedaunan tertiup angin pelan dan sesekali terdengar suara kokok ayam liar dari rerimbunan hutan. Simponi suara-suara sekitar. Kesemuanya menyatu dengan alam.

JANGAN HARDIK WAKTU.
Emha Ainun Najib, budayawan “Bang-Bang Wetan” tatkala memberi wawasan kritis kepada jamaah Maiyah di Balai Pemuda Surabaya (Selasa malam 5 Februari 2018). Pencerahan, pemikiran kritis yang disampaikan kepada generasi muda tentang problematika kehidupan, kepemudaan, kemasyarakatan hingga politik tata negara.

Budayawan asal Jombang ini senantiasa menekankan bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah. Menyerah terhadap segala macam bentuk kehidupan. Konkretnya adalah berupaya terus-menerus walau secara finansial tidak menghasilkan harta sedikitpun. “Kalian semua duduk didepan panggung ini hampir enam jam, berangkat juga dengan beli bensin sendiri, namun kalian jalankan dengan sabar. Dengan kesadaran sendiri, tidak ada yang menyuruh, tetapi akan membuahkan kedewasaan berpikir. Tidak pendek berpikir,” papar suami Novia Kolopaking ini dengan didampingi Suko Widodo, dosen Unair.

Sebelum memberi wawasan kepada jamaah Maiyah, Cak Nun, sapaan akrabnya, berdialog dengan beberapa seniman, wartawan tentang berbagai macam permasalahan hidup dan kehidupan bangsa. Religi, filsafat, sosiologi, pemilu, hukum serta pemerintahan.
Ditanya tentang pendidikan, Cak Nun mengutarakan bahwa pendidikan kita menempatkan murid sebagai obyek, bukan subyek. “Kurikulum hanya sebagai alat mencetak siswa. Selama sekian tahun siswa belajar di bangku sekolah dicetak menjadi ini, menjadi itu. Padahal setiap siswa mempunyai gawan (pembawaan) sendiri-sendiri. Siswa akan menjadi dirinya sendiri tanpa dicetak. Apabila dicetak dengan waktu yang ditetapkan, tiga tahun, enam tahun, hasilnya akan jauh dari harapan. Oleh karena itu jangan menghardik waktu (Hadis Qudsi). Apabila demikian pasti gagal,” paparnya.

Lebih lanjut Cak Nun mengatakan, seharusnya pendidikan merupakan penelitian tentang siswa. Memang membutuhkan waktu lama. Pendidikan akan gagal kalau dipatok dengan waktu tertentu. “Realitanya siswa kan banyak bertanya. Itu menandakan harus banyak jawaban. Pendidikan kan banyak problem. Maka seharusnya harus banyak solusi. Tetapi mengapa diarahkan pada satu solusi saja, yaitu kurikulum. Kalau hanya dengan satu solusi saja untuk menyelesaikan problematik pendidikan, dipastikan gagal. Di pendidikan banyak problematik, maka harus banyak pula solusi,” katanya serius.

SANG MAESTRO CAMPURSARI TELAH TIADA.
Bagai petir siang bolong, pagi itu, Selasa 5 Mei 2020 tersiar kabar dari Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Didi Kempot menutup mata selamanya karena sakit jantung.

Sontak masyarakat Indonesia tertegun. Para “Sobat Ambyar” dan khalayak kebanyakan berduka. Sebab kehilangan seniman besar. Bahkan Presiden Joko Widodo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Solo FX. Rudi Hadyatno, Ketua Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, semua ikut kehilangan. Tak ketinggalan para seniman, seperti Soimah, Via Vallen, Didi Nini Thowok serta sejumlah seniman turut kehilangan.

Belum lupa ingatan kita, beberapa waktu lalu, penyanyi yang dijuluki The God Father Of Broken Heart bersama Kompas TV (Rosiana Silalahi, Pimpinan Redaksi Kompas TV) menggalang dana untuk korban virus corona dalam “Konser Rumah.” Konon konser tersebut terkumpul dana 7 miliyar rupiah lebih.

Didi Prasetyo, dikenal dengan panggilan populer Didi Kempot meniti karier sebagai pengamen dari kampung ke kampung, hingga sampai pada puncak ketenaran, namun selalu bersahaja dan peduli dengan sesama.

Lagu Stasiun Balapan, Cidro Janji, Sewu Kutho, Ketaman Asmoro, Layang Kangen, Suket Teki, Pamer Bojo, Banyu Langit, sangat digemari kaum muda. Sudah 700 lagu ciptaannya yang sudah dipersembahkan kepada dunia seni di Indonesia serta manca negara.

Didi Kempot, putra Ranto Edi Gudel pemain Srimulat dan adik Mamiek Prakoso, pelawak senior, maka sudah barang tentu jiwa seni Didi Kempot amat kental.

Lagu Ojo Mudik, ciptaannya, baru saja dirilis bersama Walikota Solo dan kini sudah bisa dinikmati publik. Lagu ini adalah sumbang sihnya demi membantu pemerintah dalam upaya menghimbau masyarakat untuk tidak mudik. Sebab dengan tidak mudik, diharapkan bisa memutus mata rantai penularan penyakit corona. Satu liriknya berbunyi “Jaga jarak, cuci tangan, pakai masker.”

Dan rupanya lagu Ojo Mudik adalah lagu terakhir yang diciptanya.

Selamat tinggal Didi Kempot. Semoga diterima di sisi Allah. Amin.

Didi Kempot lahir di Solo 31 Desember 1966.
Meninggal di Solo 5 Mei 2020.

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version