Cerita Rakyat
Penulis : Poedianto
Di taman kaputren Kerajaan Medang Kamulan. Sang raja Prabu Seconegoro sedang bercengkerama bersama permaisuri Adaningrum dengan didampingi istri selir Murtengsari.
Perbincangan pagi itu membahas tentang kandungan sang permaisuri yang semakin tua.
“Dinda Adaningrum, paranpara kerajaan sudah memperhitungkan bahwa bulan depan putramu sudah lahir. Maka aku sudah memerintahkan semua punggawa kerajaan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran putra kita,” titah Prabu Seconegoro.
Hening taman kaputren. Burung-burung berkicau sambil berloncat-loncatan dari dahan ke dahan yang lainnya. Ramai suara burung pagi itu.
Namun kesemuanya itu tidak membuat senang istri selir. Sebab bila kerajaan Medang Kamulan mempunyai pewaris, maka istri selir merasa semakin tersisih dari percaturan kerabat istana.
Selang beberapa waktu, lahirlah putra waris kerajaan Medang Kamulan. Persiapan yang sudah mapan mendadak diurungkan. Tenda-tenda diturunkan kembali. Hias janur, bebungaan dan segala bentuk persiapan kemeriahan ditarik, dicopoti oleh abdi dalam istana.
Malu tak terhingga keluarga besar bangsawan istana Medang Kamulan. Bayi yang lahir dari kandungan permaisuri tidak dikehendaki oleh raja. Bayi tersebut buruk muka. Maka secara tersembunyi permaisuri dan bayinya diungsikan ke desa terpencil.
Konstelasi inilah dimanfaatkan oleh istri selir. Dengan berbagai cara istri selir berupaya untuk menarik perhatian sang raja. Hanya satu kepentingan istri selir, ialah agar raja menaikkan statusnya menjadi permaisuri.
Di ujung hutan kecil, sekelompok orang berbincang, merencanakan niat jahat untuk menyingkirkan permaisuri bersama bayinya.
“Kakang Gagak Bengis, menurut laporan telik sandi kita, permaisuri Adaningrum bersama bayinya bersembunyi di desa Randu Agung. Oleh sebab itu kakang, malam ini kita bumi hanguskan desa Randu Agung,” suara seorang yang berbadan kecil sembari mulutnya mengunyah makanan. Dan kemudian katanya lagi, “Kakang Gagak Bengis, ternyata permaisuri mendapat perlindungan dari beberapa prajurit yang simpati kepada permaisuri.”
Gelap malam itu. Tak ada bintang gemintang. Burung malam berkoak-koak. Sebagian warga percaya itu pertanda buruk. Beberapa orang menelusuri jalan setapak sambil mengendap-endap. Sesekali meloncat parit-parit. Beberapa orang tersebut memasuki pekarangan rumah yang agak besar. Disebelah samping rumah tersebut juga sudah ada beberapa orang yang merangkak mendekati pintu. Namun tanpa disadarinya didalam rumah yang besar tersebut sudah menunggu sekelompok kecil prajurit yang sudah siaga dengan senjata terhunus. Tak lama kemudian pimpinan prajurit memberi isyarat untuk menyergap orang-orang yang menyatroni rumah besar itu. Sergapan yang mendadak membuat kaget orang-orang yang bermaksud jahat itu. Keributan terjadi. Orang-orang yang bermaksud jahat itu memang sudah kenyang pengalaman di segala medan pertempuran. Maka sergapan yang tiba-tiba itu bisa dipatahkan dengan meloncat kebelakang sembari melemparkan pisau-pisau kecil kearah para prajurit yang menyergap. Para prajurit sedikit tergagap mendapat serangan yang demikian. Pisau-pisau kecil itu ditangkisnya dengan kibasan pedang. Terdengar suara denting. Namun ada juga prajurit yang terserempet ujung pisau itu di pundak sebelah kiri. Suara desis mengaduh terdengar. Lalu perkelahian tak bisa dihindarkan di pekarangan belakang.
“Setan alas, prajurit Medang Kamulan beraninya hanya menyergap. Hayo serahkan permaisuri Adaningrum,” teriak Gagak Bengis.
“Aku tahu siapa kalian. Istri selir Murtengsari yang memerintahkan untuk membinasakan permaisuri gusti ratu Adaningrum,” suara pimpinan prajurit.
“Keparat,” teriak Gagak Bengis sambil meloncat dengan mengacungkan pedangnya yang besar kearah pimpinan prajurit. Pimpinan prajurit memutarkan tombaknya untuk melindungi dada. Benturan pedang dengan tombak tak bisa dihindarkan. Suara denting memekakkan telinga. Kemudian keduanya telah menyerang satu dengan yang lainnya. Saling desak-mendesak kedua belah pihak pada pertempuran di halaman belakang. Di samping rumah pun tak kalah sengitnya. Perkelahian penjahat yang berbadan kecil melawan prajurit yang berbadan kekar.
Dalam pada itu, tanpa diperhitungkan oleh para penjahat, dua prajurit membawa lari permaisuri Adaningrum beserta bayinya keluar lewat jalan-jalan kecil, pergi menjauh dari desa Randu Agung.
Cekaknya, para penjahat dapat diringkus oleh prajurit yang mendapat bantuan dari warga desa. Penjahatpun kewalahan menghadapi lawan yang jumlahnya bertambah banyak. Lalu para penjahat ditawan dengan diikat kedua tangannya dan digiring ke kota raja Medang Kamulan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
Dua puluh tahun kemudian. Suatu sore di kerajaan Banjar Anom, sang raja Prabu Kartiko Aji sedang berbincang bersama putrinya yang semata wayang tentang kenegaraan. Setelah ditinggal mangkat permaisuri, raja enggan untuk mengangkat salah satu selirnya menjadi permaisuri.
“Roro Retno Sari, sepeninggal ibumu, aku hanya berharap kau cepat mendapat pendamping hidup. Aku sudah tua, aku berharap kerajaan Banjar Anom mempunyai penerus pengemban mahkota. Karena kau tidak mau menggantikan aku, maka hanya putramu kelak yang akan memimpin negara ini. Namun, sampai hari ini kau belum punya calon suami. Banyak bangsawan yang menginginkan kau menjadi istri, tetapi selalu kau tolak,” suara raja semakin pelan. Roro Retno Sari hanya menundukkan kepala sembari dahinya berkerut. Tak seberapa lama seorang abdi dalem menghadap dengan menghatur sembah. Kemudian menyampaikan bahwa ada seorang pemuda yang mau menghadap raja dengan maksud meminang Roro Retno Sari.
Pemuda tersebut sontak ditolak oleh raja, karena mempunyai buruk muka dan bentuk perutnya besar bundar seperti kendil. Sumpah serapah dilontarkan sang raja dan seketika itu mengusir pemuda berperut seperti kendil dari pendopo istana.
“Keluar dari pendopo ini. Kau pemuda yang tak tahu diri, manusia yang tidak jelas asal-usulmu, orang pidak pidarakan, rupamu jelek, perutmu seperti kendil,” murka raja.
“Aduh rama prabu, paduka itu berkedudukan sebagai raja, maka janganlah semena-mena terhadap rakyat jelata,” sela Roro Retno Sari sembari bersimpuh dan memegang kaki raja.
“He Retno Sari, kau mau membela pemuda murba ini,” suara raja dengan nada tinggi sembari telunjuk jarinya menuding-nuding pemuda yang buruk muka. Lantas katanya lagi,” Sekarang juga, hai pemuda, pergi dari hadapanku,” perintah raja dengan nada keras sembari menghunus keris. Seketika pemuda buruk muka meloncat keluar meninggalkan pendopo istana.
Pemuda buruk muka berlari kencang meninggalkan tapal batas kerajaan Banjar Anom. Lalu menelusuri hutan dan berhenti duduk di bebatuan.
Malam pun tiba, pemuda buruk muka tertidur. Di dalam tidurnya bermimpi ditemui seorang pertapa. Kemudian pertapa tersebut memerintahkan mandi di gerojokan pinggir goa. Setelah bangun, pemuda buruk muka mencari gerojokan yang dimaksud pertapa. Setelah tahu gerojokan yang dimaksud, kemudian pemuda buruk muka segera mandi.
Pada saat enak-enaknya merasakan segarnya air gerojokan, terdengar suara gemuruh, angin kencang dan menggelegar hentakan halilintar. Tak selang lama kemudian, suasana menjadi hening. Pemuda buruk muka keluar dari gerojokan dan menelusuri sungai kecil. Berhenti sejenak, kemudian berjongkok mengambil air dengan kedua telapak tangannya untuk minum. Dan betapa kagetnya pemuda buruk muka melihat wajahnya di bayang-bayang air. Kemudian terhenyak berdiri sebab ragu-ragu akan penglihatannya sendiri. Wajahnya berubah menjadi tampan. Lalu berjongkok lagi menatap wajahnya dengan tajam pada bayang-bayang air. Ditatapnya sekali lagi wajahnya dalam air. Wajahnya menjadi tampan. Benarkah ! Dan seketika menangis sesenggukan dengan berdesis, ” O Gusti, Gusti, lakon apa yang aku jalani ini.”
Suatu siang, Roro Retno Sari sedang melamun mengingat kejadian pengusiran pemuda buruk muka oleh ayahandanya. Tiba-tiba terdengar suara seruling mendayu-dayu. Retno Sari keluar dari biliknya dan mengajak pelayannya untuk mencari suara seruling.
Di bawah pohon beringin, seorang pemuda tampan memainkan seruling dengan kaki selonjor.
“Kisanak siapakah kau ini,” Retno Sari bertanya kepada pemuda peniup seruling.
“Apakah gusti ayu lupa,” kata pemuda tampan sembari menyelepkan seruling dibalik bajunya.
“Ya, aku benar-benar lupa.”
“Gusti Ayu, aku ini bernama Joko Kendil. Aku inilah yang dahulu meminang Gusti Ayu dan diusir raja,” Joko Kendil berhenti sejenak. Kemudian Joko Kendil menceritakan semua tentang dirinya kepada Retno Sari. Putri Kedaton itupun mengangguk-angguk tanda percaya.
Bulan Purnama. Alun-Alun kerajaan Banjar Anom diramaikan oleh berbagai tontonan. Wayang kulit, ketoprak, tari dan tontonan lain. Berbagai penjual makanan, pengunjung, tumplek blek memenuhi alun-alun.
Rupanya ada perhelatan besar. Semua kerabat bangsawan juga hadir, termasuk Prabu Seconegoro raja Medang Kamulan dan permaisuri Adaningrum (ayah dan ibu Joko Kendil). Prabu Kartiko Aji raja Banjar Anom, sebagai tuan rumah, tertawa tak henti- hentinya karena hatinya sangat senang, putrinya sudah mendapatkan pendamping hidup.
Rakyat bersuka ria menyaksikan perkawinan Joko Kendil bersama Roro Retno Sari.
S e l e s a i
Poedianto,
Guru SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.


