Surabaya, pedulirakyat.id
UNESCO menetapkan Pantun sebagai warisan budaya dunia pada 17 Desember 2020. Selanjutnya, pemerintah Indonesia menetapkan Hari Pantun Dunia pada 16 Desember 2025 dan Hari Pantun Nasional 17 Desember 2025
“Ini sebagai pintu masuk pelajaran sastra, termasuk pantun, puisi dan karya sastra lain bisa masuk di kurikulum. Sebab sekarang yang diutamakan adalah STEM (sain, teknologi, engineering, matematika). Sastra sangat penting untuk siswa, karena sastra belajar olah hati, olah rasa. Termasuk Pantun sebagai warisan budaya tak benda. Tetapi STEM belajar olah pikir,” demikian Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya
Ini karya Pantun Melayu:
Dari Flores membeli kain tenun
benang dipintal secara tradisonal
Dari nusantara ada pantun
sekarang bergaung go internasional
Ke Danau Toba dari Simalungun
Simalungun ibukotanya di Parapat
Indah nian tradisi berpantun
jaga komunikasi tetap bermartabat.
Dalam budaya Jawa dikenal dengan Parikan. Isinya mengenai pitutur religi, sindiran sosial, guyonan dan lainnya. Kebanyakan Parikan hanya terdiri dua baris.
Ini karya Parikan Jawa:
Teklek kecemplung kalen.
Timbang golek alung balen.
Ali-ali ilang matane.
Ojo lali karo kancane.
-Tanggal 16 Desember 2025 diadakan Hari Pantun Dunia di Pontianak, Kalimantan.
-Tanggal 17 Desember 2025 diadakan Hari Pantun Nasional di Riau.
Poedianto


