Surabaya, pedulirakyat.id
Jaman kemajuan teknologi. Ini ditengarai dengan kepercayaan yang tinggi terhadap internet sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal ini bukan satu-satunya sumber informasi. Di negara Swedia, Finlandia sudah kembali pada buku sebagai sumber informasi dan sumber belajar. Karenanya menganggap perlu landasan moral agama untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sisi yang lain olah rasa, olah hati juga utama di samping olah pikir. Kemajuan teknologi abad ke 21 harus diantisipasi dampak-dampaknya.
Tetapi kemajuan teknologi memang harus diterima, namun harus tahu rambu-rambu, batas-batasnya.
“Semua ini harus dilandasi dengan moral agama,” ujar Drs. M. Ghufron, Guru Agama Islam SMK Satya Widya Surabaya.
Konstelasi inilah yang terjadi di jagad maya. Tidak ada jalan lain untuk mengantisipasi penggunaan kemajuan teknologi informasi yang kebablasen, maka potensi karakter bangsa yang harus mendasarinya. Budaya, moral, sejarah, semuanya ini sebagai potensi karakter yang bisa membentengi. Jadi jaman digital, yaitu jaman yang informasi berseliweran, berlimpahan, kebanjiran, bisa membuat techno mania yang menuju post truth, lalu pada gilirannya menjadi dehumanisasi. Maka harus berpikir dengan wawasan yang luas. Apalagi para pemegang kebijakan negara bidang pendidikan kurang konsisten terhadap perkembangan pendidikan dan kualitas anak-anak bangsa. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan-perbaikan di segala lini jenjang pendidikan. Maka tak bisa dipungkiri bahwa internet dipercayai sebagai sumber belajar. Kebutuhan akan internet digunakan sebagai sumber belajar, sebagai media informasi dan komunikasi bagi peserta didik tak bisa dielakkan. Hal ini sebuah keniscayaan. Namun di Negara Swedia dan Finlandia sudah kembali pada buku. Faktor pragmatis yang mendorong ketergantungan pada internet. Semuanya ditanyakan ke internet. Karena jawabannya lebih logis dan praktis. Misal, ingin mengetahui nama pohon. Pohon tersebut difoto dan diunggah. Kemudian langsung dijawab dengan cepat nama pohon tersebut. Era sekarang masih demam menggunakan internet, seyogyanya ada rambu-rambu dalam penggunaan internet dan dibutuhkan kebijakkan negara. Dengan adanya rambu-rambu, siswa bisa memilah yang boleh dan yang tidak boleh dalam menggunakan internet.
Hal ini perlu pengawasan dari guru, orang tua murid dan masyarakat. Solusinya dengan kolaboratif kegiatan-kegiatan yang positif, penggunaan internet bisa dikurangi. Seperti komba-lomba di sekolah dan kegiatan yang bermanfaat. Jaman derasnya informasi, banjirnya opini dan kenyataan. Bercampur baur di dunia maya. Kemajuan jaman, seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Cepat seperti kilat meninggalkan busur yang berada ditempat.
Namun semua itu akan bermanfaat bila dipakai untuk kemaslahatan umat. Jaman sekarang hidup pada era derasnya informasi, era berseliweran informasi, era banjirnya informasi. Data dan informasi yang berseliweran tanpa bisa di stop sama sekali. Baik data yang benar atau bohong (hoax). Sehingga bercampur baur antara opini dan fakta. Ini bisa membuat manipulasi emosi dan bisa dikatakan era pasca kebenaran (Post Truth). Dampaknya adalah lebih percaya opini ketimbang kenyataan. Banjirnya informasi ini membuat dehumanisasi, merosotnya kepedulian terhadap sesama. Mengembalikan hakikat hidup, mengembalikan manusia sebagai suprema. Teknologi itu alat, bukan kekuasaan. Maka tidak boleh menjadi techno mania, namun jangan pula techno phobia. Maka manusialah yang resultan antara techno mania dengan techno phobia.
Poedianto


