Di Luar Perkiraan

admin Agustus 16, 2025
Updated 2025/08/16 at 1:46 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

Masih bulan peringatan kemerdekaan RI, Sherly Precillya S, S. Pd, Guru Bahasa Indonesia juga Ketua Panitia Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 80 tahun SMA Ipiems Surabaya mengutarakan selama memandu setiap fase acara merasa sangat senang. Betapa tidak! Karena Bu Sherly, sapaan sehari-harinya ini semua diluar ekspektasi yang dibayangkan. Setiap tahapan senantiasa diikuti dengan semarak oleh siswa maupun guru.

“Ya betul, semuanya diluar ekspektasi yang saya bayangkan,” katanya. Lebih lanjut guru yang supel ini memaparkan bahwa dalam mengkoordinasi OSIS dan para guru untuk menjadual acara senantiasa lewat rapat. Dan inipun saya juga mempresentasikan gagasan. Walhasil, dibagi tugas masing-masing. Ada penanggung jawab koordinasi perlengkapan, konsumsi, jalan sehat, upacara dan lainnya.

Acara pembagian dorprixe diadakan di pelataran depan sekolah (16 Agustus 2025). Tampil tari dance siswa dan iringan musik band siswa. Kumandang lagu Bendera-Coklat, Seberapa Pantas-Sheila On 7 dan lainnya.

“Macam-macam lomba kami adakan, gerak jalan sehat, dorprixe dan besok ditutup dengan upacara bendera. Semuanya lancar, tertib. Saya sangat puas” tambah Bu Sherly.

Di tempat terpisah SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya juga mengadakan berbagai lomba dan jalan sehat.

Memperingati Hari Kemerdekaan RI, jangan pula mempelajari sejarah kemerdekaan itu sendiri, belajar mengenal tokoh-tokohnya saja tidak. Dus dengan demikian maka peranan sejarah sangatlah jauh dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Oleh sebab itu, panduan dan keteladanan untuk melangkah kedepan.menjadi samar.

Dr. Mochtar Lutfi, SS, M. Hum, Ketua Departemen Sastra dan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, memaparkan bahwa sekarang sudah dimudahkan oleh teknologi untuk mencari literasi sejarah dan kesejarahan.

“Generasi sekarang dimudahkan oleh teknologi. Tinggal ketik, keluar dan ada penjelasan. Peran guru dan ahli yang memberi penjelasan sesuai dengan kontek sejarah. Kalau sudah demikian, tidak akan lagi bingung menghadapi berbagai versi sejarah. Anak-anak muda sekarang tidak mau di indokrin lagi. Maka harus diajak terlibat dalam proses pencarian secara obyektif. Maka hasilnya akan berfikir obyektif pula,” papar Mochtar Lutfi.

Orang-orang bijak mengatakan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab, bangsa yang berjiwa besar adalah bangsa yang menghargai sejarah pahlawannya.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version