Budi Pekerti dan Saintis

admin
admin April 14, 2026
Updated 2026/04/14 at 8:33 AM

Surabaya, pedulirakyat.id

Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga Surabaya, berpendapat perlunya olah hati, olah rasa, olah pikir dalam dunia pendidikan. Sementara Drs. Ec. Margiono, MM, pensiun guru sejarah di sekolah kejuruan, mengatakan perlunya Pendidikan Budi Pekerti yang mendasari saintis. Budi Pekerti adalah olah rasa, saintis olah akal. Keduanya bagai sekeping mata uang yang gambar di sisi-sisinya berbeda. Budi Pekerti yang menjadi landasan saint.

Budaya Sendiri.
Dr. Wijayadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya mengutarakan budaya sendiri sebagai dasar-dasar pendidikan. Oleh karena itu seni budaya diajarkan sejak sekolah dini, agar anak didik kita mengerti budaya yang baik. Budaya yang ada harus dimaknai dengan jeli.

Kejujuran.
Anak didik kita harus diajari jujur. Jujur hanya bisa dipelajari dengan keteladanan. Guru, orang tua, tokoh masyarakat ketika berbicara, bertindak dan bersikap harus memberi suri tauladan kepada anak didik. Bohong,, serakah, berlebihan harus dihindari oleh guru, orang tua dan tokoh masyarakat.

Cerita Wayang.
Dalam episode Barata Yudha. Pandawa yang sederhana, Kurawa yang tamak. Yang salah akan kalah. Semua perbuatan buruk akan sirna dengan perbuatan baik. Oleh karenanya jangan sombong karena banyak harta, jangan angkuh karena mempunyai jabatan. Kesemuanya itu bisa ditinjau dari perkataan dan perbuatan Pikiran, perkataan dan perbuatan harus sama.

Mengalah.
Mengalah bukan berarti kalah. Menang bukan berarti mengalahkan. Disini letak ujian kesabaran. Karena hidup itu ada yang menghidupi, maka dijalani saja tentang kesulitan-kesulitan hidup.

Dra. Ratna Indarwulan, Guru Bahasa Jawa di sekolah kejuruan Surabaya dan Falah Widodo, S. Th, Guru Agama Islam Surabaya, kedua guru senior mengatakan pembelajaran kejujuran itu yang utama. Seperti, berkata apa adanya, menepati janji. Tujuannya sudah jelas agar anak didik terbiasa berbicara jujur.

“Materi Ini sudah diajarkan di kelas 10 SMK. Seperti keteladanan pada cerita- cerita di dunia wayang,” kata Ratna Indarwulan.

“Kejujuran itu diajarkan di Materi Pendidikan Pancasila,” tambah Falah Widodo.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *