Surabaya, pedulirakyat.id
Drs. Bambang Dwi Waryanto, ST, MM, Dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, mengutarakan bahwa pendidikan itu harus mengikuti perkembangan anak. Oleh karena itu tahapan-tahapan belajar seyogyanya diperhatikan. Artinya, percepatan belajar, akselerasi belajar, sama halnya memaksa anak dalam belajar. Misalnya, SMP, SMA yang semestinya belajar 3 tahun dipercepat 2 tahun.
“Ini jelas tidak sesuai dengan perkembangan anak. Apalagi secara psikologis jelas tidak sesuai. Ini juga akan mempengaruhi bila kuliah di perguruan tinggi, akan tertinggal dan tidak bisa mengikuti materi kuliah. Kasihan anak kalau dipaksakan,” papar dosen senior ini serius.
Lebih lanjut Pak Bambang, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa proses belajar mengajar harus sesuai dengan perkembangan anak. Dengan demikian akan bisa mencapai prestasi. Baik prestasi akademik maupun non akademik.
Sesungguhnya dengan belajar, akan meningkatkan potensi. Potensi komunikasi, kerjasama, tanggung jawab dan leadership. Dalam proses belajar mengajar juga ada standar. Baik standar nilai, standar kompetensi, dan ujungnya penilaian akhir. Artinya, semuanya terukur. Parameter lembaga pendidikan adalah prestasi. Sekolah yang banyak memperoleh prestasi, baik bidang akademik atau non akademik, masyarakat menempatkan lebel sekolah unggulan, sekolah favorit dan lainnya. Tetapi untuk memperolehnya sudah dipersiapkan dengan serius. Misal, kompetisi di LKS SMK (lomba kompetensi siswa). Acara ini diselenggarakan setiap tahun. Tahapan LKS dimulai dari tingkat kota/kabupaten, naik tingkat propinsi, lalu ke tingkat nasional. Pada saat LKS tingkat Propinsi Jawa Timur, pernah bertempat di Surabaya, Malang, Tulungagung dan tempat lainnya. Guru akan senang kalau siswanya menang dalam lomba. Baik tingkat lokal, regional, apalagi tingkat nasional. Hal ini persiapannya harus matang.
Poedianto


