Foto : Ilustrasi M. Isa Ansori sebagai Penulis (berkaos Putih) diantara Orang Tua bersama anak-anak
Surabaya, pedulirakyat.id
Ketika bel sekolah berhenti berbunyi, pendidikan tidak seharusnya ikut padam. Pandangan itulah yang menjadi landasan langkah terbaru Dinas Pendidikan Kota Surabaya: mengajak orang tua memainkan peran lebih aktif selama masa liburan sekolah. Bukan sekadar imbauan administratif, program ini dimaksudkan mengembalikan keluarga ke posisi sentral dalam pembentukan karakter anak.
Di era gawai dan media sosial, kedekatan keluarga tengah tergerus. Anak-anak yang mahir menggunakan teknologi mudah memiliki banyak “teman” di dunia maya, tetapi kerap kekurangan kesempatan untuk percakapan hangat dan interaksi tatap muka dengan orang tua. Dinas pendidikan menempatkan liburan sekolah bukan hanya sebagai waktu rehat akademis, melainkan sebagai peluang memperbaiki relasi dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Inisiatif itu juga mengingatkan pada gerakan simbolis di Surabaya yang mengangkat tradisi membasuh kaki orang tua. Dianggap banyak pihak sekadar seremoni, gerakan tersebut menyimpan pesan pendidikan karakter yang kuat: kerendahan hati, penghargaan atas pengorbanan orang tua, dan praktik cinta yang konkret. Ketika anak dilibatkan dalam tindakan sederhana namun bermakna, nilai-nilai itu menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar pidato.
Dinas Pendidikan mendorong ragam kegiatan liburan yang menempatkan kehadiran orang tua sebagai fokus. Tidak perlu wisata mahal; yang paling dibutuhkan anak adalah waktu dan perhatian. Aktivitas seperti memasak bersama, mengunjungi keluarga lanjut usia, membersihkan lingkungan, berdiskusi tentang sejarah keluarga, atau membantu tetangga dapat menjadi media pengajaran karakter yang efektif. Selama aktivitas berlangsung tanpa gangguan notifikasi, anak berkesempatan belajar empati, tanggung jawab, dan rasa hormat lewat keteladanan.
Pendidikan karakter, sebagaimana ditegaskan para pendidik, tidak lahir dari slogan tetapi dari pengalaman dan keteladanan sehari-hari. Liburan menjadi momen strategis bagi orang tua untuk kembali berperan sebagai “guru pertama dan utama” — bukan sebagai tambahan tugas, melainkan kesempatan membina hubungan dan membentuk sikap. Investasi waktu sederhana selama liburan berpotensi memberi dampak jangka panjang: bukan hanya peningkatan kecerdasan akademik, melainkan penguatan karakter yang menentukan kualitas hidup dan kebersamaan sosial.
Di samping program Dinas Pendidikan, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada kesadaran keluarga dan kontinuitas praktik di rumah. Sekolah dapat memberikan panduan dan ide kegiatan, tetapi transformasi nilai berlangsung dalam interaksi harian—dari meja makan, cerita orang tua, sampai teladan tindakan sehari-hari. Di situlah benih penghormatan, rasa syukur, dan tanggung jawab ditanam.
Surabaya menghadapi tantangan zaman yang menuntut kecakapan digital sekaligus kedalaman nilai. Menjadikan liburan sebagai waktu untuk menguatkan ikatan keluarga adalah langkah pragmatis dan humanis. Jika keluarga mampu menjadi tempat pertama bagi pembelajaran etika dan empati, maka upaya membangun generasi berkarakter tidak sekadar mimpi, melainkan pekerjaan bersama yang nyata.
Apresiasi patut diberikan kepada Dinas Pendidikan Kota Surabaya atas inisiatifnya. Kini tugas berikutnya ada pada keluarga: memanfaatkan liburan bukan hanya sebagai jeda, melainkan momentum menumbuhkan akar karakter anak—karena bangsa yang kuat lahir dari rumah yang kuat.
Rophy Pareno


