Balai Pemuda akan suguhkan Jejak Gombloh: Pameran Foto dan Reuni Lemon Tree’s

admin Juli 6, 2026
Updated 2026/07/06 at 7:34 AM

Foto : Rangkaian Acara Gombloh bukan hanya di Radio

Surabaya, pedulirakyat.id

Di sudut Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, nama Gombloh akan kembali mengisi ruang-ruang nostalgia: foto-foto, lagu-lagu, dan cerita tentang seorang seniman yang akarnya menancap kuat di Kota Pahlawan. Pameran bertajuk Sasana Shanti Antropologi membuka rangkaian acara Gombloh Bukan Hanya di Radio, 7—9 Juli 2026, penyelenggaraan yang digagas komunitas Memories of Gombloh (Mogers) sebagai penghormatan pada karya dan semangat sang musisi.

Gombloh — dikenal luas oleh berbagai generasi berkat gaya lirisnya yang lugas dan lagu-lagu yang melekat pada identitas kolektif, termasuk Kebyar-Kebyar — hadir dalam foto-foto dokumenter yang mengeja sisi personal dan publiknya. Puluhan gambar menelusuri perjalanan hidupnya: dari panggung-panggung kecil hingga momen pemakaman pada 9 Januari 1988. Foto-foto itu direkatkan dalam benang narasi yang sengaja memilih kata-kata dari salah satu lagu Gombloh sebagai tema pameran.

“Sasana Shanti Antropologi diambil dari karya Gombloh yang berbicara tentang kenangan, museum, dan bayangan manusia masa depan,” kata Guruh Dimas Nugraha, penulis Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya. “Lagu itu memotret imajinasi Gombloh tentang dunia satu juta tahun setelah hari ini, termasuk gambaran fosil manusia — sebuah metafora untuk bagaimana karya dapat bertahan melampaui masa hidup penciptanya.”

Ketua panitia, Esthi Susanti Hudiono, menjelaskan tujuan acara bukan sekadar mengenang hits radio. “Sebagai idola, ia patut terus dikenang. Lagu-lagu Gombloh ada dalam satu garis konsisten,” ujarnya. Menurut Esthi, konsistensi itu terlihat pada cara karya-karyanya mengaitkan pengalaman individu dengan isu kebangsaan, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Karyanya memiliki energi untuk membangun karakter, juga membangun rasa kebangsaan,” tambahnya.

Pameran ini dilengkapi rangkaian kegiatan: live music, pertunjukan seni, dan diskusi ringan. Salah satu titik tumpu acara adalah reuni Lemon Tree’s anno ’69 — grup musik yang mengiringi Gombloh semasa hidup dan vakum sejak 1988. Pada malam pembukaan mereka akan tampil kembali, membawakan repertoar-periode keemasan yang lahir ketika Gombloh bersinggungan dengan label Golden Hand Records.
“Soal reuni, kami sudah 38 tahun tak berada dalam satu band. Kami latihan dua kali dan tersentuh saat memainkan kembali lagu-lagunya. Gombloh selalu kami kenang sebagai kawan baik,” kata Soelih Estopangestie, vokalis sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Formasi reuni terdiri dari Soelih (vokal), Ratih Sumarsono (vokal), Pardi Artin (gitar), Totok Afiat (bass), dan Mamat Bahasuan (drum).

Selain Lemon Tree’s, panggung selama tiga hari akan diramaikan oleh beragam penampil lokal: Ludruk Luntas, Seketastakula, Sekaring Jagad, Max Baihaqi, Cep Ocim, Simpang Musim, Yuli Zedeng, Laily & Family, Jumadi Candu Aksara Grobogan, Indrie & Untung, serta beberapa figur lokal lain yang merepresentasikan spektrum budaya Surabaya.

Di luar aspek seni, pameran juga dimanfaatkan sebagai momentum advokasi. Panitia bersama Mogers mendorong Pemerintah Kota Surabaya mempertimbangkan penamaan ulang gedung Balai Budaya di kompleks Balai Pemuda menjadi Gedung Lokaseni Gombloh. Heri Lentho, supervisi kepanitaan, mengatakan latar historis mendasari usulan itu: “Di Balai Budaya itu dulu Gombloh berproses kreatif, khususnya saat bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya. Bentuk penghargaan ini layak dipertimbangkan.”

Guruh menambahkan argumen emosional di balik usulan tersebut. “Kecintaan Gombloh terhadap Surabaya tak perlu diragukan. Di manapun ia tampil, ia selalu meneriakkan, ‘Selamat malam, Surabaya!’” kata Guruh. Pesan itu mencerminkan pilihan hidup Gombloh yang tetap bertahan di kota kelahirannya, memilih akar ketimbang mengejar pusat industri musik di ibu kota.
Pameran Sasana Shanti Antropologi tidak hanya memajang foto: ia mencoba merajut kembali memori kolektif yang menempatkan Gombloh sebagai figur yang tak hanya pencipta lagu, tetapi juga pelaku sosial yang ‘membaur’ dan aktif dalam kerja kemanusiaan. “Gombloh membangun jiwa manusia, tidak hanya berkarya tetapi juga turun langsung melakukan kerja kemanusiaan,” tutur Affandy Willy Yusuf, ketua Mogers.

Dengan campuran arsip visual, pertunjukan musik bersejarah, dan wacana publik tentang warisan budaya, Gombloh Bukan Hanya di Radio menawarkan ruang bagi publik Surabaya untuk menyentuh kembali warisan yang hidup — bukan sebagai benda museum semata, melainkan sumber inspirasi yang terus bergaung.

Acara berlangsung 7—9 Juli 2026 di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya. Informasi program harian dan tiket dapat diakses melalui kanal resmi penyelenggara.

 

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version