Foto: Dr. Djoko Adi Waluyo
Surabaya, pedulirakyat.id
Era Abundance, era berseliweran informasi. Era ini terkadang sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang opini. Konstelasi ini bisa membuat tipisnya berpikir kritis. Era ini juga menjauhkan kepedulian terhadap nasib sesama, dehumanisasi, demikian Dr. Djoko Adi Waluyo, Ketua PGRI Jawa Timur.
“Kini era derasnya informasi. Era techno mania. Oleh karena itu jangan menjadi techno phobia. Tetap dalam koridor berpikir kritis,” kata Pak Djoko, panggilan akrabnya.
Jangan kehilangan berpikir kritis, terutama generasi muda. Menerima informasi harus bisa memilah-milah. Mana yang benar, mana yang bohong.
Pemimpin Selalu Ada.
Setiap jaman, pemimpin selalu ada dan juga hadir dari golongan terpelajar. Tahun 1908 lahirlah Budi Utomo yang diprakarsai dr. Soetomo dkk. Tahun 1928 lahirlah Sumpah Pemuda dimotori Soegondo Djojopoespito dkk. Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bung Karno, Bung Hatta, atas nama rakyat. Sejarah mencatat dalam setiap percaturan bangsa, golongan terpelajar tampil untuk membatu berupaya memecahkan problematik bangsa.
Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, berpendapat bahwa siswa, mahasiswa harus belajar dengan sungguh-sungguh, sebab mereka adalah calon pemimpin bangsa. Oleh karena itu para pemuda jangan sampai diombang-ambingkan informasi yang tidak benar. Seyogyanya setiap kebijakan pemerintah harus melibatkan pemuda. Mochtar Lutfi mengatakan kurikulum pendidikan dalam implementasinya agar siswa, mahasiswa, diajak ikut aktif.
“Itu yang dinamakan pembelajaran partisipasi dan kolaborasi,” kata Mochtar Lutfi.
Sementara itu Dr. Wijayadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengingatkan untuk menengok sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Dengan memahami sejarah, setidaknya akan mengenal masa lalu. Kekurangan beserta kelebihannya,” jelas Wijayadi.
Poedianto


