Pendidikan Sebagai Ujung Tombak

admin
admin Agustus 12, 2025
Updated 2025/08/12 at 3:02 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

H. Abdul Hadi, AMA Pd, Penasehat MI Sunan Giri Surabaya, mengutarakan bahwa pendidikan itu sebagai ujung tombak segala lini kehidupan, sebagai dasar-dasar untuk masa depan bangsa.

“Karenanya pendidikan harus diperdalam supaya mengenal saripatinya. Jangan dibuat dangkal,” kata guru lukis senior ini.

Sementara Firmansyah, S. Psi, S. Pd, Kepala MI Sunan Giri Surabaya, berpendapat bahwa penanaman cinta lingkungan, cinta tanah air dan empati terhadap sesama, semuanya diajarkan kepada anak didiknya.

Sekolah itu untuk belajar. Jangan digunakan yang lain. Belajar agar berguna untuk diri sendiri, berguna buat keluarga, bermanfaat pada masyarakat, bangsa dan negara. Untuk bisa tegak, kerja keras, jujur. Ini yang dibutuhkan di dunia kerja. Mumpuni dalam pengetahuan dan keterampilan. Maka harus latihan-latihan dengan sungguh-sungguh. Di sekolah harus aktif mengikuti kegiatan sekolah, termasuk mengikuti lomba. Berbagai lomba diadakan untuk siswa. Dari yang interen di sekolah hingga yang tingkat nasional. Ada lomba saintis dan ada pula lomba keterampilan.

Lomba diadakan agar siswa bisa mengukur kemampuannya. Seperti lomba kompetensi siswa (LKS). Lomba ini diawali dari skala lokal, kemudian skala regional dan nasional. Berbagai jenis lomba dalam LKS. Lomba olahan makanan, permesinan, pertukangan, kepariwisataan, perhotelan dan lainnya. Hal ini peserta lomba mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Sudah tentu agar bisa menang. LKS tingkat Provinsi Jawa Timur pernah diadakan di Bojonegoro, Surabaya, Tulungagung, Jember, Malang dan lainnya. Di SMK Negeri 6 Malang lomba bidang Computer Aided Design. Lomba bidang peternakan (diikuti oleh SMK Peternakan). Yang dilombakan adalah budi daya, kesehatan hewan, reproduksi, pakan dan manajemen peternakan.

Balai Kota Kediri dan Kabupaten Tulungagung juga mengadakan Lomba Pedalangan (Dalang Cilik) untuk siswa SD, SMP dan SMA.

Semua kegiatan lomba semestinya dibiayai oleh pemerintah. Mulai persiapan di sekolah hingga akhir lomba. Sekolah hanya menyiapkan anak didiknya. Kalau sudah mengikuti semuanya, niscaya akan menjadi siswa yang berkualitas. Baik ilmu pengetahuan, keterampilan maupun etika.

Tes masuk.
Wacana untuk bisa masuk di sekolah negeri lewat sistem tes akademik, sudah banyak diperbincangkan di tengah masyarakat. Metode ini sangat masuk akal, karena kemampuan siswa hanya diukur dengan lulus tes. Jadi pertimbangan lain tidak menjadi ketentuan. Namun lewat cara tes, harus mempertimbangkan asas sama rata. Misal nilai delapan puluh di Surabaya juga harus sama perlakuannya dengan daerah-daerah lain. Patokan penilaian hasil tes ini harus disesuaikan dengan norma budaya setempat. Norma acuannya adalah penilaian kelompok, sosial masyarakat. Sementara fasilitas belajar sangat terbatas. Misalnya fasilitas gedung belajar sangat kurang bila dibanding dengan minat belajar siswa baru. Untuk memenuhi kuota pemasukan siswa baru harus di ranking menurut besar kecilnya nilai hasil tes.

Sistem tes seyogyanya di ranking menurut nilai hasil tes, sebab gedung-gedung untuk belajar sangat kurang. Maka layak bila setiap sekolah menentukan kuota.
Sistem seleksi lewat tes untuk bisa masuk di sekolah negeri seyogyanya memperhatikan kredibilitas, akuntabilitas, tranparansi seleksi, semuanya merupakan tolok ukur yang obyektif. Karenanya panitia harus jujur.
Semua ini merupakan tujuan seleksi terbaik. Dan setiap sekolah mempunyai kuota. Jadi harus di ranking menurut nilai hasil tes.

Belajar tidak hanya teori, tetapi juga praktik. Ibarat daun sirih, bagian atas adalah teori dan bagian bawah praktik. Namun bila digigit sama rasanya. Teori dan praktik adalah satu kesatuan.
Komponen pendidikan ialah: sekolah (gedung dan sarana prasarana), guru serta siswa. Bila ingin lancar proses pembelajaran, tidak ada jalan lain, semuanya harus sinergis. Misal, pelajaran Front Office di SMK Kompetensi Perhotelan. Dalam pelajaran pelayanan untuk para tamu di hotel, sudah semestinya dilakukan dengan sepenuh hati. Sebab tamu menginginkan cepat (fast), nyaman (nice) dan murah (cheap). Pelayanan buat tamu-tamu hotel harus maksimal. Baik tentang kamar, makan, maupun yang lainnya.

Service terhadap para tamu, pengunjung, apalagi dengan pelanggan harus maksimal. Karenanya semua karyawan hotel, dari pimpinan sampai bawahan semuanya sudah memiliki tanggung jawab masing-masing. Yang semua itu, ujungnya adalah melayani secara prima. Seperti jurusan/ kompetensi keahlian perhotelan diajari tata kesopanan, senyum, cekatan, buat tamu. Sebagai karyawan bagian resepsionis, front office dan house keeping (merawat kebersihan, keindahan rata ruang kamar), harus melayani secara maksimal terhadap para tamunya.

Jaman telah maju dan mampu menerobos kultur dan kebiasaan yang kolot. Kemajuan jaman mengisi ruang dan waktu hingga di sudut-sudut negeri. Seiring dengan itu pula tata pergaulan juga tidak dibatasi oleh pola lama. Pola lama berganti dengan pola baru Maka segala pola pergaulan global berpadu dengan pola pergaulan lokal. Interaksi setiap hari membentuk tatanan segala lini. Cara berdandan, cara komunikasi, cara mencari nafkah, pun cara makan di meja makan formal. Ini juga tidak hanya jamuan santai, tetapi jamuan formal yang kadang dihadiri ratusan undangan. Nah, disini tata cara makan sudah menggunakan tata cara internasional. Dan untuk menyesuaikan hal tersebut, tidak ada jalan lain kecuali belajar tata krama di meja makan formal. Hal ini juga diajarkan di SMK jurusan/ kompetensi keahlian kuliner. Guru produktif mengajarkan tata hidang. Di jurusan ini pula diajarkan masakan kontinental, oriental dan nasional. Internasional membentuk metode, kultur dan teknik baru. Jaman sudah berubah. Ini terjadi di semua lini kehidupan. Termasuk hubungan-hubungan kerja mengalami perubahan pula.

Misal, kompetensi keahlian kuliner (jurusan tata boga), semua jenis masakan diajarkan. Baik masakan asia, eropah maupun segala masakan Indonesia.

Belajar Kerjasama.
Di setiap sekolah sudah tentu para siswanya diajari kerjasama (gotong royong). Latihan ini dijalankan di luar kelas. Sering kali juga diadakan di alam terbuka. Tujuannya membentuk siswa mempunyai landasan yang kuat akan kepedulian terhadap sesama.

Table Manner.
-Piranti- piranti ditata sebelah kanan serbet makan (napkin).
-Serbet makan dibuka diletakkan diatas pangkuan.
-Bila piranti makan kurang lengkap, hendaknya meminta pada pelayan makan.
-Kalau minum pegang bagian bawah gelas, sudah barang tentu mulut dalam keadaan tidak mengunyah makanan.
-Apabila makan roti, roti harus sudah dipotong-potong.
-Piring jangan digeser posisinya. Tetap seperti semula.
-Apabila makan sup, sebaiknya jangan menunduk dan sendok didekatkan ke mulut.
-Tidak diperkenankan meniup sup, tetapi boleh mengaduk-aduk dengan arah ke muka atau ke belakang atau sebaliknya.
-Apabila sudah selesai, Sendok diletakkan di atas tatakan.

Kemajuan jaman seperti ini, dunia pendidikan juga harus mengikuti. Kalau tidak akan ditinggal anak didiknya.

Proses penyampaian ilmu di bangku sekolah, guru masih dominan sebagai sumber ilmu disamping dari sumber-sumber ilmu yang lain. Tahapan tranformasi ilmu diawali dengan teacher center, student center lalu kembali ke teacher center. Guru memberikan materi ajar, murid menyimak hingga paham terhadap ilmu yang diberikan oleh guru (teacher center). Tahapan berikut, murid menterjemahkan dalam bentuk praktik, tahapan ini murid yang dominan (student center). Tahapan terakhir, guru menilai hasil praktik murid dan memberikan saran-saran kepada murid tentang kekurangan-kekurangan hasil praktik murid (teacher center).

Seorang guru ketika mengajar di kelas harus mampu penguasaan kelas. Sebab jangan sampai mengganggu materi ajar tatkala materi ajar terkendala waktu disampaikan kepada siswa. Penguasaan kelas sangat utama. Bila semua siswa di kelas menyimak, tranformasi materi ajar akan diterima siswa akan lancar.

Metode pengajaran ada metode ceramah, dril, diferensiasi, quest, wawancara dan metode lainnya. Setiap guru mempunyai metode sendiri dalam menyampaikan materi ajar untuk anak didiknya. Itu bergantung situasi psikologi kelas. Itu juga bergantung pelajaran yang diampu. Pelajaran sejarah, matematika, front office, PKN, house keeping, IPA, guiding, tata hidang, sudah barang tentu beda metode pengajarannya.

Dalam mengajar bisa memakai pembelajaran diferensiasi dengan metode galery walk. Misal, pelajaran kimia, harus banyak praktik ketimbang teori. Prosesnya, guru memberikan materi ajar, lalu guru menanyakan apa sudah diberikan materi tersebut. Kemudian guru memberikan informasi materi tersebut. Siswa membentuk kelompok. Setiap kelompok bebas memilih cara pemecahan masalah (problem). Lantas per-kelompok mempresentasikan. Ada yang bagian presentasi, ada yang diam ditempat, ada pula yang bagian keliling dari kelompok satu ke kelompok lain dan bertugas mencatat (interaksi) hasil kelompok lain. Di sini terjadi interaksi. Saling bertanya problem pemecahan Dari kesemuanya itu, ujungnya setiap kelompok akan menilai kelompok lainnya (saling menilai). Guru hanya mengikuti proses diferensiasi tersebut.

Pada titik pangkalnya, guru bisa berinisiasi dengan berbagai metode pengajaran untuk mentransformasi ilmu kepada anak didik. Sesungguhnya semua metode pengajaran hanya semata agar anak didik berbudi luhur, berpengetahuan luas dan mempunyai kecerdasan kritis. Maka tidak bermaksud jumawa, guru itu sebagai jembatan ilmu bagi siswa. Namun kesemuanya itu, belajarlah dengan gembira.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *