Surabaya, pedulirakyat.id
Sudah menjadi asumsi umum, bahwa keinginan mengunjungi perpustakaan sekolah banyak siswa sudah enggan. Apalagi memilih buku dan membacanya. Padahal banyak orang bijak (Wasis) yang menasehati bahwa dengan “membaca” jendela cipta dan karsa menjadi terbuka. Pada ujungnya bisa berwawasan panjang, luas dan saintifik. Itu semua karena metode dan sistem perpustakaan sekolah masih cara lama. Padahal kini sudah era digitalisasi. Buku-buku di dalam perpustakaan harus diganti dengan sistem internet. Siswa kita sudah era google, era ebook. Sistem ini, begitu buka, langsung baca. Nah, disini perpustakaan sekolah harus difasilitasi oleh negara.
Metode pembelajaran yang bersifat manual seyogyanya ditinggalkan. Sebab jaman sudah berubah. Sekarang harus memakai metode E. I. Terutama saintis dan teknologi. Tetapi bila membangun karakter, yang utama adalah pendidikan moral, pendidikan karakter. Dengan adanya kemerosotan sikap kejujuran, perilaku kurang sopan, maka perlunya pemahaman pendidikan Ketuhanan, Kemanusiaan dan Kebangsaan. Semuanya ini akan menjadikan sikap ketaqwaan, peduli sesama dan cinta tanah air.
Tidak dipungkiri, perubahan teknologi membuat berubah pula media belajar. Dulu dengan memakai alat-alat lama, kini semua memakai digital. Semuanya berdampak pada siswa. Baik anak usia sekolah dasar hingga usia sekolah menengah (SD, SMP, SMA). Namun harus didorong oleh guru dan orang tua. Misal, anak diajari mereview makanan, mereview sejarah atau mereview lainnya. Lantas direkam. Apalagi apabila kemudian menjadi viral. Ini semua bisa terlaksana bila guru dan orang tua senantiasa mendorongnya. Nah, kalau sudah demikian, optimis literasi anak bisa terwujud. Dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan, Riset dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang penguatan budaya membaca, dalam peraturan tersebut, pelajaran sastra sudah masuk di kurikulum dan diharapkan budaya membaca bagi siswa akan nyata. Inilah kurikulum terintegritas dan membuahkan anak-anak senang membaca cerita-cerita. Misal, cerita-cerita yang tidak berat. Dan pada gilirannya anak akan senang membaca bacaan-bacaan lain, termasuk bacaan sastra. Kalau sudah demikian halnya, anak juga gemar menulis puisi, komik, bahkan animasi serta membaca bebagai tokoh sejarah. Seperti Patih Majapahit Gajahmada, Hikayat Hang Tuah, Ramayana, Mahabarata dan banyak lagi.
Pengalaman pengabdian di masyarakat itu penting untuk meningkatkan harkat manusia.
Era digital yang sangat mempengaruhi minat siswa dan sesungguhnya sekarang banyak dibantu oleh teknologi.
Teknologi ini harus dimanfaatkan untuk berkarya. Misal, menulis puisi, menulis komik, menulis sejarah dan membuat gambar animasi.
Contoh lagi tentang praktik memasak di sekolah bagi siswa yang kompetensi kuliner (olah makanan). Ini sudah sesuai dengan yang diinginkan Dunia Kerja dan Dunia Industri (Dudi). Melalui pelatihan tiga kali praktik dalam satu resep, siswa sudah bisa. Seperti masakan Asia Tenggara, yaitu masakan Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura. Contoh masak Nasi Lemak Malaysia, Nasi Dagang Malaysia, Lumpiang Shanghai. Yang dikehendaki dan sesuai standar Dudi adalah ketangkasan, kecepatan serta kebersihan. Utamanya ialah bersih. Apalagi saat platting.
Sudah sering kali lomba memasak diadakan. Baik tingkat lokal, regional maupun nasional. Seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Acara ini pernah diadakan di Bojonegoro, Tulungagung, Jember, Malang, Surabaya dan kota lainnya lagi. Juri juga dari kalangan praktisi. Secara umum para siswa sekolah kejuruan dalam kompetisi di ajang LKS sudah memadai. Artinya, baik ilmu pengetahuan tentang memasak, maupun praktiknya sudah mumpuni. Setidaknya sudah sesuai dengan standar Dudi.
Agar siswa bisa kuat mentalnya, sebaiknya didorong ikut lomba-lomba. Seperti merayakan Hari Kemerdekaan RI ke 80 tahun. Berbagai acara lomba diadakan di semua sekolah. Baik tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK. Ada jalan sehat, karnaval, panggung seni pertunjukan, lomba gigit sendok kelereng, makan kerupuk, kempit balon, balap karung, kebersihan kelas dan lainnya lagi. Disamping lomba-lomba di sekolah, ada pula lomba di kampung-kampung. Lomba kebersihan kelas untuk melatih siswa gotong royong, saling membantu.
Memperingati Hari Kemerdekaan hakikatnya adalah bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan. Karenanya di kampung-kampung, walau bersahaja tetapi diperingati dengan sepenuh hati. Dari orang tua sampai anak-anak berpartisipasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Mulai tanggal 1 Agustus 2025, seluruh sekolah, kantor, kampung dan tempat lain sudah mengibarkan bendera perah putih. Lomba-lomba juga sudah dimulai. Ada lomba bulutangkis, futsal, sepakbola, balap karung, gigit sendok kelereng, makan kerupuk, panjat pinang dan lain lagi.
Peringatan Kemerdekaan RI setiap tahun diadakan, tetapi diharapkan tidak hanya seremoni saja, namun sejarah dan perjuangan bangsa juga harus dipahami dan diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Memahami peringatan kemerdekaan untuk era sekarang adalah kontribusi di bidang masing-masing, memupuk rasa kesetiakawanan dan kesadaran ikut memiliki negara. Jadi pola pikir juga harus berubah. Kalau dulu kemerdekaan dipahami melawan penjajah. Tetapi sekarang untuk mengisi kemerdekaan adalah kontribusi di bidangnya masing-masing yang bermanfaat untuk orang banyak.
Di dunia pendidikan, guru berperan untuk selalu mengingatkan setiap saat kepada anak didiknya. Tidak pada hari kemerdekaan saja, tetapi setiap waktu. Misal saat outing klas, out bond, ekstra kurikuler.
Belajar sejarah bisa disisipkan di pelajaran Bahasa Indonesia, di pelajaran PKN. Yang utama esensi peristiwa sejarah yang harus dipelajari. Belajar sejarah akan bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan masa lalu. Ini semua untuk melangkah masa depan bangsa agar cerah dan sejahtera.
Belajar sastra.
Dalam bahasa terdapat nilai sastra yang tinggi. Maka, bila mempelajari bahasa, pelajari juga maknanya. Sebab makna sastra yang terkandung di dalam bahasa implikasinya luas. Seperti pada sastra tulis dan dialog. Bagi siswa atau mahasiswa yang ingin belajar sastra, terutama pada seni pertunjukan, seyogyanya banyak membaca, mendengar, menulis dan berbicara.
Betapa pentingnya penguasaan bahasa dalam karya sastra. Apalagi seni pertunjukan. Sebab seni pertunjukan sangat kental dengan dialog.
Banyak siswa yang tidak bisa berbahasa Jawa. Tetapi menguasai bahasa asing. Penguasaan bahasa sangat utama bagi yang ingin belajar sastra. Penting juga mengenal panggung pertunjukan. Semua ini menjadikan siswa yang berkualitas.
Poedianto


