Surabaya, pedulirakyat.id
Sejak Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya di tutup oleh Pemerintah Kota Surabaya, seluruh kesenian yang berada THR, turut berhenti.
Di THR saat itu, ada empat gedung pertunjukan, satu panggung terbuka, gedung Srimulat, gedung Lodrok, gedung Wayang Orang dan gedung Kethoprak. Di sela sela gedung gedung itu berdiri beberapa kios kios kecil niatnya waktu itu buat penjualan cenderamata.

Sejak Pemerintah Kota Surabaya merenovasi komplek Cagar Budaya Balai Pemuda. Dan beberapa grup kesenian yang di THR diberi kesempatan mentas, dengan fasilitas APBD.
Dan berekpresilah para grup kesenian dari THR, termasuk Srimulat Surabaya, pimpinan Eko Kocing putra tunggal almarhum pelawak maestro Surabaya Parman Kocing.
Catatan
Nyimak pentas Srimulat Minggu 29 Januari 2023 kemarin secara teknis panggung dan materi cerita luar biasa. Karena pemainnya para Jawa panggung, misal Agus Kuprit, Insap penyiar radio Susana, Hengki dan lainnya tak meragukan. Bahkan keseimbangan pentas sangat terjaga, bloking sangat bagus, dan dialonya tidak terjadi saling menumpuk. Penonton pun sangat antusias dan terpuaskan dengan penampilan mereka.
Aroma Lodrok
Dengan masuknya Agus Kruprit, sebagai bintang tamu dan tokoh wanita diperankan oleh waria aroma Lodrok sangat kental sekali. Dengan cara ini semakin memperkaya jenis pentas Srimulat Surabaya.
Menanggapi pentas kali ini sangat kental dengan lodrok, Eko Kocing mempersilahkan penonton menilai dengan persepsinya masing masing.
Menurutnya cirikas Srimulat ada dua. Pertama cirikas penokohan pembantu. Kedua penokohan horor.
Kedua konsep inilah yang dilakukan sejak Bu Srimulat, Pak Teguh almarhum hingga sekarang. Maka pada bulan lalu Srimulat mentas dengan lakon utamanya pembantu.
Digital
“Sesungguhnya, saya yang memperoleh kepercayaan tokoh Srimulat senior yang saat ini di Jakarta, ingin membawa pentas Srimulat bisa merambah dunia digital. Karena saya dan teman teman tergolong generasi gagap teknologi. Kalau ada infestor kami siap diajak kerjasama,” tutur Eko berharap.
Udik


