ISTANA YANG REDUP

admin
admin Juli 21, 2022
Updated 2024/08/29 at 10:50 PM

Cerpen:
Legenda

oleh : Poedianto

Setelah Tumenggung Wiryo Suhardjo wafat, istana yang dulu ramai dihuni oleh putra-putri istana dan kerabat katemenggungan, kemudian satu demi satu meninggalkan istana untuk menjalani kehidupan beserta keluarganya masing-masing.

Pelita penerang istana tidak segemerlap dulu. Kini hanya sudut-sudut istana yang dinyalakan. Itu saja pelitanya terkadang padam karena tertiup angin pelan. Apalagi apabila juru pelita malas menyalakan kembali.

Halaman istana yang dulu bersih dari kotoran dedaunan, karena sering dibersihkan. Disapu dengan sapu lidi oleh pelayan. Kini tampak berserakahan sampah bertebar di segala sudut penjuru halaman. Ini semua semakin menambah suramnya istana sepeninggal Tumenggung Wiryo Suhardjo.

Kini istana itu hanya dihuni oleh sepasang keluarga “punggawa” yang sudah usia lanjut. Bahkan satu-satunya anak gadis punggawa tersebut juga sudah meninggalkan istana karena mengikuti suami ditempat lain.


Sore hari. Hujan rintik-rintik tak henti-henti. Mendung tipis juga enggan menyibak. Seorang pemuda dengan memakai topi caping masuk halaman regol istana dengan mengucapkan salam. Terdengar balasan ucapan salam juga dari dalam istana. Pemuda melepas topi caping sembari mengkibas-kibaskan tangan karena basah. Kemudian bersalaman dengan penghuni istana yang rambutnya sudah memutih.

“Silakan kisanak, silakan masuk. Apakah ada yang perlu kami bantu,” sapa lelaki penghuni istana.

“Terimakasih bapak”.

“Silakan, silakan duduk kisanak,” ajak lelaki berambut putih. Keduanya kemudian duduk di kursi beranda tamu. Lantas seorang ibu yang juga sudah rambutnya penuh uban keluar dengan membawa dua cangkir berisi wedang jahe serta beberapa potong pisang rebus dalam piring.

Di luar istana hujan semakin deras. Sesekali sinar kilat masuk ke istana dengan dibarengi suara gemuruh geludug. Lelaki berambut putih menutup pintu ruang tamu. Karena tetes air hujan juga masuk keberanda lewat celah-celah atap yang rapuh.
Lelaki tua penghuni istana menengadakan kepala keatap genteng.

“Kami disini jarang sekali menerima tamu. Kecuali sanak famili yang ingin menengok istana ini. Itu saja tidak pernah bermalam. Kami juga memanfaatkan halaman belakang istana. Kami tanami palawija, sayuran dan buah-buahan. Ya untuk mencukupi makan kami sehari-hari. Putra-putri Kanjeng Tumenggung sudah enggan lagi ke istana ini. Cuma kami abdi dalem yang masih betah di istana ini. Abdi dalem yang lainnya juga sudah kembali ke desanya masing-masing,” suara lelaki berambut putih pelan. “Oh, ya, kisanak dari mana dan ada keperluan apa,” katanya kepada tamunya.

“Kami dari desa di ujung timur kabupaten ini pak. Kami mendengar kesohoran istana ini pada masa-masa kejayaan Tumenggung Wiryo Suhardjo. Beliau memimpin katemenggungan ini dengan sabar. Tahap demi tahap dilaluinya dalam memimpin. Dan dalam puncak keberhasilannya, katemenggungan ini bisa mencapai swasembada pangan. Petani makmur, para pedagang bisa tenang berusaha. Warga mengalami jaman murah sandang pangan,” suara pemuda itu berhenti sejenak, kemudian lanjutnya. “Bapak, apakah bapak masih menyimpan secuil peninggalan Tumenggung Wiryo Suhardjo. Kalau masih ada, kami memintanya untuk kami bawa ke desa kami, dan akan kami taruh di gapura desa agar di kenang oleh seisi penghuni desa.”

“Kisanak, kalau peninggalan berupa benda berharga, sudah habis dibawa semua kerabat, punggawa dan siapa saja yang membutuhkan. Bahkan memang sudah sangat lama kami tidak menerima tamu. Mungkin dianggapnya seluruh harta benda di istana ini sudah habis. Karenanya sudah tidak ada lagi tamu yang singgah,” sela lelaki tua pelan sambil menarik nafas dalam dalam.

“Tetapi kisanak, kalau kisanak menghendaki, masih ada satu peninggalan Kanjeng Tumenggung yang berupa tulisan beliau. Namun juga sudah tidak lengkap lagi karena rusak. Tetapi apabila kisanak menghendaki untuk dipelajari, silakan diambil,” kata lelaki tua itu lagi.

Malam semakin malam, kedua lelaki itu masih berbincang-bincang berbagai hal. Wedang jahe sudah tinggal cangkirnya, pisang rebus juga tinggal kulitnya di piring, namun tidak membuat kantuk keduanya. Di luar suara cengkerik dan belalang bersahutan seolah membentuk simponi. Angin bertiup menambah dinginnya malam.


Selang beberapa waktu kemudian, di pematang sawah desa Kuncoro Laras, seorang yang rambutnya mulai beruban, namun masih tampak gagah berdiri kokoh dengan kaki kotor karena lumpur sawah. Senyumnya tersungging tampak puas menyaksikan tanaman padi sudah mulai menguning tanda siap dipanen. Dan beberapa orang yang lewat di pematang lain melambaikan tangan. Ada juga yang mengacungkan jempol. Semua itu simbul ucapan terimakasih kepada lelaki yang gagah itu karena semua sawah telah siap dipetik.

Dan lelaki itu bergumam “Terimakasih Tumenggung Wiryo Suhardjo. Berkat tulisanmu mengenai swasembada pangan, desa ini berhasil meningkatkan kesejahteraan warganya. Tetapi sayang, bapak tua penghuni istana itu juga telah tiada, sehingga tidak bisa menyaksikan sawah-sawah telah menguning. Semoga keduanya ditempatkan di surga paling tinggi. Dan semoga istana yang redup itu akan bercahaya kembali.

S e l e s a i

@ Poedianto.
Guru SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya
.

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *