DIKLAT TANI MERDEKA ANGKATAN III: Mencetak Petani Berkarakter untuk Kedaulatan Pangan

admin
admin Juli 17, 2026
Updated 2026/07/17 at 7:45 AM

Foto : Suasana Kegiatan Diklat Tani Merdeka

Malang, pedulirakyat.id

Pagi itu halaman Balai Besar Pelatihan Pertanian Lawang dipenuhi barisan seragam latihan. Di bawah spanduk besar bertuliskan “DIKLAT TANI MERDEKA INDONESIA ANGKATAN III”, ratusan peserta duduk rapi sambil menunggu pembukaan resmi program yang digelar sejak 16 Juli 2026. Selama tiga hari ke depan, tempat ini berubah menjadi pusat pelatihan intensif yang bukan sekadar mengajarkan teknik bertani—melainkan membentuk karakter petani sebagai garda depan kedaulatan pangan nasional.

Diklat ini disusun secara terstruktur: rutinitas harian dimulai sejak subuh, meliputi latihan kedisiplinan baris-berbaris, ibadah berjamaah, latihan fisik, dan dilanjutkan dengan sesi materi kelas. Tujuannya jelas; selain transfer teknologi pertanian, penyelenggara menekankan pembentukan mental tangguh, kedisiplinan, dan wawasan kewirausahaan bagi para peserta.

“Pendidikan teknis tanpa pembentukan karakter hanya menghasilkan praktik sementara,” kata salah seorang panitia. Dalam berbagai sesi, para peserta mendapatkan materi teknis serta pembinaan karakter dari narasumber yang kompeten. Nama-nama kunci hadir sebagai pemateri, termasuk Don Muzakir, serta pengarahan mendalam dari Ketua Dewan Pembina TMI, Dr. Sudaryono, B.Eng., M.M., MBA. Rangkaian kegiatan juga diwarnai gladi renungan, pelatihan kebersihan mandiri, dan penutupan yang ditandai pembagian sertifikat kelulusan.

Program ini berjalan sejalan dengan visi besar pemerintahan untuk memperkuat kedaulatan pangan dan kemandirian bangsa. Penyelenggara menyatakan acara ini akan dihadiri Wakil Menteri Pertanian, sebagai bukti perhatian pemerintah terhadap upaya pemberdayaan petani. Kehadiran pejabat negara juga menegaskan status Diklat Tani Merdeka sebagai bagian dari strategi nasional dalam membangun sumber daya manusia pertanian yang mampu berdikari.

Para peserta datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang dan tantangan pertanian yang berbeda—dari lahan sempit perkotaan hingga sawah luas di dataran tinggi. Meski begitu, semangat kolektif tampak nyata: diskusi hangat di sela istirahat, tanya-jawab intens di kelas, serta komitmen untuk menerapkan ilmu yang didapat di kampung halaman masing-masing. “Kami tidak hanya belajar menanam, tetapi juga belajar merencanakan usaha, mengelola pasar, dan membangun jaringan,” kata seorang peserta yang mengikuti pelatihan.

Lebih dari sekadar transfer ilmu, penyelenggara menekankan pembentukan kader petani unggul—individu yang menguasai teknologi pertanian terkini, mampu mengelola usaha tani secara mandiri, dan memiliki semangat nasionalisme untuk memperkuat ketahanan pangan. Konsep ini penting karena tantangan sektor pertanian tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal manajemen, pemasaran, dan keberlanjutan lingkungan.

Dampak jangka panjang yang diharapkan dari Diklat Tani Merdeka adalah hadirnya generasi petani yang mampu menjadi pelaku perubahan di tingkat lokal: meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi ketergantungan pada impor pangan, serta memperkuat nilai tambah produk pertanian hingga ke hilir. Dengan kata lain, pelatihan ini dipandang sebagai investasi sumber daya manusia yang berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Di akhir hari kedua, suasana penutupan dipenuhi harapan. Para peserta menerima sertifikat, namun lebih penting lagi, mereka pulang membawa pengalaman, jejaring, dan tekad untuk menerapkan pola bertani yang lebih modern dan berdaya saing. Bila semangat ini mampu diteruskan di desa-desa, program semacam ini berpeluang menjadi motor perubahan yang nyata bagi masa depan pertanian Indonesia.

 

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *