(Baca: Waktu Penuh Nestapa)
Catatan Kuratorial
Oleh : Chrisman Hadi
Ketua Dewan Kesenian Surabaya
“Perjuangan belum selesai.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik yang diwariskan oleh Bung Karno, melainkan sebuah kenyataan historis yang terus berulang dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kemerdekaan memang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, tetapi perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial, kedaulatan ekonomi, kebudayaan yang bermartabat, dan kemanusiaan yang utuh masih terus berlangsung hingga hari ini.
Pameran Vivere Pericoloso: Waktu Penuh Nestapa hadir sebagai ruang refleksi atas kondisi tersebut. Istilah Vivere Pericoloso yang diperkenalkan Bung Karno pada pidato kenegaraan tahun 1964 bukan sekadar ajakan hidup dalam bahaya, melainkan keberanian menghadapi kenyataan sejarah yang penuh risiko, ketidakpastian, dan pergulatan. Hari ini, enam puluh tahun setelah pidato itu dikumandangkan, dunia kembali memasuki fase yang penuh gejolak: perang, krisis energi, ketimpangan ekonomi global, kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, dan memudarnya solidaritas sosial.
Di tengah suasana itulah sepuluh seniman dalam pameran ini menghadirkan tafsirnya masing-masing tentang Indonesia, tentang Bung Karno, tentang rakyat, dan tentang harapan yang terus diperjuangkan di tengah nestapa zaman.
Karya “Doa Ibu” dari Ketut Widiastra menghadirkan pertemuan antara sejarah dan kasih sayang. Sosok ibu renta yang memandang penuh harap menjadi simbol doa-doa yang selama ini menjaga perjalanan bangsa. Di belakangnya, riuh sejarah terus bergerak, tetapi cinta seorang ibu tetap menjadi energi yang tak pernah habis. Dalam karya ini, bangsa digambarkan bukan hanya lahir dari perjuangan para pemimpin, tetapi juga dari doa-doa sunyi yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah.
Sementara itu, “JAS Merah” karya Desemba Titaheluw tampil sebagai peringatan yang keras sekaligus puitis. Jas merah yang kehilangan tubuhnya menghadirkan kekosongan sekaligus kehadiran. Ia mengingatkan pesan Bung Karno yang paling terkenal: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Sebab bangsa yang melupakan sejarah pada akhirnya akan kehilangan arah dan identitasnya sendiri.
Pada karya “Ngopi Dulu Bung”, Shodiq Indo mengajak kita memasuki ruang kontemplasi. Bung Karno duduk santai di bawah pohon raksasa, seolah mengajak bangsa ini berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pertengkaran politik dan kegaduhan informasi. Kadang-kadang revolusi membutuhkan perenungan, sebagaimana kopi membutuhkan waktu untuk dinikmati perlahan.
Karya “Non Blok” dari Sentot Usdek menghidupkan kembali salah satu warisan terbesar Bung Karno bagi dunia: politik bebas aktif. Di tengah dunia yang kembali terbelah oleh rivalitas kekuatan global, lukisan ini mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas menentukan jalan sendiri.
Jika karya-karya sebelumnya berbicara tentang Bung Karno sebagai gagasan, maka “Lanange Jagat” karya Didik Hari Shin menghadirkan Bung Karno sebagai manusia. Api korek dan kepulan asap menjadi simbol semangat yang tak pernah padam, sementara kehadiran Fatmawati dan jejak para perempuan dalam hidup Bung Karno memperlihatkan sisi personal seorang tokoh besar. Di balik pidato revolusioner dan panggung politik dunia, terdapat seorang manusia yang juga mengalami cinta, kerinduan, kesepian, dan konflik batin. Sejarah menjadi lebih manusiawi ketika kita mampu melihat para tokohnya sebagai manusia, bukan sekadar monumen.
Karya “Red In Love” dari Bagas Karunia Putra membawa penonton memasuki wilayah yang lebih eksperimental. Perpaduan benda-benda mekanis, warna-warna yang cair, suara, gerak, dan bentuk-bentuk baru menghadirkan sebuah ruang perjumpaan yang cair. Dalam karya ini, kehidupan tampil sebagai rangkaian perjumpaan antara gairah, konflik, humor, perjuangan, dan ketidakpastian. Sebuah metafora tentang dunia kontemporer yang tidak lagi memiliki batas-batas tegas, tetapi justru menemukan makna melalui keterhubungan yang terus bergerak.
Pada “Dialog Kebangsaan”, Dodik Hartono mempertemukan dua figur besar lintas zaman: Semar dan Bung Karno. Pertemuan simbolis ini menjadi percakapan antara kebijaksanaan rakyat dengan visi kenegaraan. Semar mewakili suara akar rumput, sementara Bung Karno mewakili cita-cita besar bangsa. Keduanya seolah mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak dapat dibangun hanya dengan pembangunan fisik dan kekuasaan politik, tetapi juga membutuhkan moralitas, kebijaksanaan, dan kejujuran.
Karya “Jejak Semangat Sang Proklamator” dari Erwin Budianta mengambil inspirasi dari fenomena yang sangat sederhana: tembok yang dicat ulang menjelang Idul Fitri. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan metafora yang mendalam. Dinding yang kusam diperbarui, retakan diperbaiki, warna baru diberikan. Sebuah simbol tentang bangsa yang terus berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Sejarah bukan sesuatu yang selesai, melainkan ruang yang terus dicat ulang oleh generasi-generasi baru.
Dalam “Marhaen: Saat Cangkul Menjadi Kapal”, Andi Prayitno menghidupkan kembali salah satu konsep paling penting dalam pemikiran Bung Karno: Marhaenisme. Cangkul yang berubah menjadi kapal menghadirkan gambaran magis tentang rakyat kecil yang tidak menyerah pada nasib. Para Marhaen duduk di atas gagang cangkul yang menjelma kendaraan harapan. Mereka adalah petani, nelayan, buruh, dan rakyat biasa yang selama ini menjadi penyangga kehidupan bangsa. Dalam karya ini, alat kerja bukan lagi sekadar benda, tetapi berubah menjadi kendaraan menuju masa depan.
Di sisi lain, karya abstrak “Jejak Semangat Sang Proklamator” menghadirkan lapisan-lapisan warna yang saling bertubrukan dan saling menyatu. Warna-warna itu dapat dibaca sebagai metafora keberagaman Indonesia yang terus mengalami benturan, tetapi tidak pernah benar-benar tercerai. Ia adalah peta emosional sebuah bangsa yang terus mencari bentuknya sendiri.
Dan akhirnya, karya “Ejakulasi Akal-Akalan” dari Asri Nugroho menjadi semacam epilog yang getir. Pohon tua raksasa berdiri di tengah suasana yang muram dan nyaris angker. Sebuah papan sederhana bertuliskan ajakan makan mi instan menjadi satire yang tajam terhadap realitas sosial-ekonomi hari ini. Ketika geopolitik global memengaruhi harga pangan, energi, dan kebutuhan dasar masyarakat, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling rentan menanggung akibatnya.
Namun justru di titik itulah makna Vivere Pericoloso menemukan relevansinya.
Pameran ini tidak sedang merayakan nestapa. Ia justru memperlihatkan bagaimana manusia bertahan di dalamnya. Para seniman menghadirkan kesaksian bahwa di tengah tekanan hidup, ancaman perang, krisis ekonomi, ketidakpastian politik, dan kegelisahan sosial, masih ada ruang bagi harapan untuk tumbuh.
Masih ada doa seorang ibu.
Masih ada ingatan yang dijaga.
Masih ada kebijaksanaan yang diwariskan.
Masih ada rakyat yang bekerja.
Masih ada semangat yang menolak padam.
Dan sebagaimana pesan Bung Karno, tujuan besar bangsa ini memang belum selesai. Tetapi sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang menyerah. Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang tetap berjalan meski jalan itu dipenuhi risiko.
Teringat sepenggal bait Sajak: *Hujan Bulan Juni*
Yang ditulis Sapardi Djoko Damono:
*Tak ada yang lebih tabah*
*Dari hujan bulan juni*
*Dirahasiakannya rintik rindunya*
*Kepada pohon yang berbunga itu*
Karena pada akhirnya, seperti hujan bulan Juni. Bangsa ini mungkin sedang menyimpan banyak kerinduan dan harapan yang belum terucapkan. Dan selama ketabahan itu tetap hidup — masa depan akan selalu memiliki kemungkinan untuk tumbuh dan berbunga.
Pada sebuah zaman ketika perang kembali menjadi berita harian. Ketika harga pangan ditentukan oleh keputusan negri-negri sebrang nun jauh di mata. Ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan manusia dan ketika rakyat kecil kembali dipaksa menanggung beban sejarah. Sepuluh perupa berkumpul untuk mengajukan satu pertanyaan sederhana: masihkah semangat Vivere Pericoloso hidup di dalam diri kita?
Ist


