Foto: APOC (Asia Pacific Orchid Conference) 14 Singapore 2023 – mendapat juara 3 kompetisi display landscape uk. L Size
Surabaya, pedulirakyat.id
Di tengah geliat pameran anggrek internasional di kawasan Asia, nama Rudy M. Mintarto terus hadir membawa bendera Indonesia. Alumni Arsitektur Universitas Udayana Bali itu hampir tak pernah absen memenuhi undangan pameran anggrek dunia selama 15 tahun terakhir.
Rudy bukan eksportir besar dan juga bukan pemilik perusahaan anggrek berskala internasional. Namun, ia konsisten membawa misi yang menurutnya belum mendapat perhatian serius dari negara, yakni menjaga agar Indonesia tetap dikenal sebagai salah satu penghasil anggrek terbaik di dunia.
“Saya ingin merah putih tetap berkibar bersama negara-negara lain. Dunia juga harus tahu bahwa anggrek Indonesia masih hidup,” ujar Rudy saat menyiapkan materi pameran di rumahnya di kawasan Gubeng Kertajaya 7D/9, Surabaya.
Pada 29 Mei 2026, Rudy kembali bertolak ke Genting Highland, Malaysia, untuk mengikuti pameran anggrek internasional yang berlangsung pada 3–10 Juni 2026 di Resort World Awana. Dalam ajang tersebut, ia menyiapkan area display seluas 32 meter persegi yang tidak hanya menampilkan koleksi anggrek, tetapi juga mengusung unsur budaya Indonesia.
Visual Jaranan, Tari Remo, Gandrung Banyuwangi, hingga latar candi dipadukan dengan pesona anggrek Nusantara sebagai bentuk diplomasi budaya yang dibawanya ke panggung internasional.
Menurut Rudy, langkah itu dilakukan hampir tanpa dukungan berarti dari pemerintah. Ia menilai Indonesia belum menempatkan anggrek sebagai komoditas strategis yang berpotensi menghasilkan devisa besar, meski negara ini memiliki kekayaan spesies anggrek yang sangat tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, ekspor anggrek Indonesia tercatat hanya sekitar 38 ribu kilogram dengan nilai sekitar Rp3,2 miliar. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan Thailand yang disebut mampu menghasilkan ratusan juta dolar AS per tahun dari ekspor anggrek. Taiwan bahkan berhasil menjadikan anggrek Phalaenopsis sebagai industri berbasis teknologi dan riset dengan nilai ekspor lebih dari 200 juta dolar AS per tahun.
“Masalahnya bukan kualitas anggrek kita. Komunitas anggrek dunia mengakui kualitas Indonesia sangat bagus. Tapi kita kalah dalam keberpihakan kebijakan pemerintah,” kata Rudy.
Ia menilai perhatian pemerintah masih lebih banyak tertuju pada komoditas pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura konsumsi. Akibatnya, anggrek masih dipandang sebatas tanaman hias, bukan komoditas ekspor bernilai tinggi.
Kondisi itu, kata Rudy, membuat petani anggrek harus menghadapi sendiri berbagai hambatan, mulai dari aturan ekspor yang rumit, proses karantina yang panjang, hingga regulasi CITES yang kerap membingungkan.
Persoalan utama, menurut dia, terletak pada sistem regulasi. Sejumlah jenis anggrek Indonesia masuk dalam Appendix I dan II CITES karena berasal dari spesies alam yang dilindungi. Namun, di lapangan, aparat sering tidak bisa membedakan secara tegas antara anggrek liar dan hasil kultur jaringan.
“Petani akhirnya takut ekspor. Padahal itu hasil budidaya, bukan mengambil dari hutan,” ujarnya.
Rudy membandingkan kondisi Indonesia dengan beberapa negara Asia lain yang dinilainya lebih serius mengembangkan industri anggrek. Thailand, kata dia, aktif mendorong riset, sertifikasi kebun, dan akses pasar internasional dengan sistem industri yang terintegrasi dari petani kecil, koperasi, pusat perdagangan, hingga fasilitas pengemasan ekspor.
Taiwan bahkan melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan teknologi greenhouse otomatis, kultur jaringan modern, dan diplomasi perdagangan yang agresif. Negara itu, menurut Rudy, mampu mengekspor anggrek lengkap dengan media tanam ke Amerika Serikat, sementara Indonesia masih diwajibkan mengirim anggrek tanpa media tanam sehingga biaya logistik lebih tinggi dan risiko kerusakan tanaman meningkat.
Singapura, meski bukan produsen utama, disebut berhasil menjadi pusat perdagangan anggrek premium Asia karena regulasinya cepat dan transparan.
Rudy menilai pengembangan industri anggrek nasional sebenarnya tidak membutuhkan proyek besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian pemerintah menyederhanakan regulasi, memperjelas perbedaan antara anggrek liar dan anggrek hasil kultur jaringan, serta membuka akses pasar yang lebih luas.
Ia juga menekankan pentingnya diplomasi karantina dengan negara tujuan ekspor agar Indonesia memperoleh perlakuan setara dengan negara lain seperti Taiwan.
“Kalau regulasi dipermudah, petani anggrek Indonesia bisa berkembang sangat cepat,” katanya.
Selain regulasi, Rudy menyebut perlunya dukungan riset varietas unggul, pembangunan fasilitas packing dan rantai dingin, serta pembentukan koperasi atau off-taker yang mampu menjamin pasar ekspor bagi petani kecil.
Ia menyesalkan belum kuatnya branding anggrek Indonesia di pasar dunia. Menurutnya, dunia sudah mengenal “Thai Orchid”, tetapi belum ada gaung besar untuk “Indonesia Orchid”, padahal Indonesia memiliki ribuan spesies anggrek eksotis yang tidak dimiliki negara lain.
Meski berjalan dengan dukungan terbatas, Rudy tetap konsisten membawa nama Indonesia ke berbagai negara. Baginya, pameran anggrek bukan sekadar ajang memamerkan bunga, melainkan juga ruang mempertaruhkan reputasi bangsa, budaya, dan peluang ekonomi yang belum dikelola secara serius.
Rudy berharap pemerintah mulai memberi perhatian lebih besar pada potensi anggrek sebagai komoditas ekspor strategis. Sebab, tanpa dukungan kebijakan yang jelas, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton di tengah kekayaan hayatinya sendiri.
Rophy Pareno


