Oleh: Poedianto.
Mudik, tunjangan hari raya (THR), parcel, pakaian baru dan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan tatkala Hari Raya Idul Fitri tiba.
Namun semua itu tak dirasakan oleh lelaki yang rambutnya sudah memutih itu.
Siang itu sinar mentari tertutup mendung. Lelaki tua itu duduk di bangku panjang yang ada di sudut kanan ruang tunggu stasiun kereta api Gubeng. Penuh sesak penumpang yang mudik di stasiun siang itu. Silih berganti kereta api berhenti di stasiun membawa penumpang menuju ke daerahnya masing-masing. Rupanya lelaki tua itu masih duduk di bangku panjang stasiun. Sudah berganti-ganti kereta api berhenti, tetapi lelaki tua itu tidak ikut naik.
Malahan pikirannya melayang ke masa-masa lalu. Ingat ketika masih bekerja di pabrik, ingat teman-teman lamanya, semuanya silih berganti melintas di benaknya. Tiba-tiba lelaki tua itu terhenyak dari lamunannya saat seorang pemuda duduk disampingnya, “Nyuwun sewu pak, boleh saya duduk di sini,” ucap pemuda dengan santun.
“O silakan, silakan mas,” kata lelaki tua dengan cepat.
“Bapak mudik kemana?”
“Saya tidak mudik. Saya tidak punya famili di daerah. Selama ini saya hidup sendiri mas. Di stasiun ini saya hanya duduk-duduk saja sembari melihat orang-orang yang mudik.”
“O begitu,”
“Lha mas mau mudik kemana?”
“Saya ke Kediri pak. Setiap tahun saya mudik. Di desa masih ada ayah, ibu dan adik- adik.”
“O begitu. Mas di kota ini bekerja apa kuliah?”
“Saya bekerja pak, sebagai honorer di instansi pemerintah.”
“Sudah lama bekerja sebagai honorer?”
“Enam tahun pak.”
“Lumayan lama. Memang banyak anak-anak muda dari daerah yang bekerja di kota.”
“Benar pak. Saya juga pergi ke kota diajak teman ”
“O ya. Anak-anak muda dari desa pergi ke kota, ada yang kuliah, ada yang bekerja. Yang bekerja, mereka lebih senang bekerja di sektor industri, sektor jasa atau sebagai pedagang, walau pedagang kecil. Mereka meninggalkan sektor pertanian. Oleh karena itu sekarang sangat padat penduduk kota. Sore atau pagi, jalan-jalan pada macet. Apalagi bila jam-jam kerja atau jam-jam sekolah. Tetapi kalau menjelang.lebaran seperti sekarang ini, jalan-jalan sepi. Banyak yang mudik ke kampung halaman masing-masing.”
“Ya benar pak. Di desa lahan sawah sudah banyak yang dijual untuk perumahan. Sementara generasi mudanya juga banyak yang bekerja di kota untuk menambah pengalaman.”
Pembicaraan keduanya berhenti, karena mendengar pengumuman dari sentra informasi stasiun. Rupanya kereta api yang menuju Kediri akan tiba. Pemuda itu siap-siap dan membenahi beberapa barang bawaan yang akan dibawa mudik ke rumahnya. Lalu, pemuda itu bersalaman dengan lelaki tua untuk berpamitan.
Kereta api jurusan Kediri berhenti di stasiun. Pemuda itu naik bersama penumpang yang lain.

