Prof. Septi Ariadi
Surabaya, pedulirakyat.id
Profesor Septi Ariadi, Dosen Sosiologi Fisip Unair Surabaya, memaparkan bahwa seringnya terjadi buliying dikarenakan relasi sosial yang tidak seimbang. Atasan dengan bawahan, guru dengan murid, orang tua dengan anak, kakak kelas dengan adik kelas dan lainnya. Realitasnya mengapa tidak dicari akar masalah? Dosen yang bersahaja ini berpendapat pelaku buliying merasa lebih unggul dari korban bullying, merasa lebih banyak teman, merasa kuat, merasa pintar, merasa kaya. Pada pokoknya, pelaku buliying merasa lebih baik dan meremehkan kepada korban bullying. Akar masalah ini yang semestinya ditangani. Kemudian ditopang oleh status sosial, gaya hidup, pengaruh media sosial, pengaruh klik (grup) dan lainnya.
“Disini peran pemerintah yang musti mengeluarkan regulasi untuk menghentikan buliying. Regulasi yang mampu membuat jera pelaku buliying,” kata Prof. Septi Ariadi.

Di tempat terpisah, Dra. Ratna Indarwulan, Guru Bahasa Jawa SMK Satya Widya Surabaya, mengutarakan bahwa di dalam pelajaran Bahasa Jawa ada materi tentang keteladanan yang dicuplik dari lakon wayang.
“Yang utama adalah keteladanan. Teladan seorang atasan untuk bawahan, teladan orang tua untuk putra-putrinya, teladan guru untuk para muridnya. Semua ada dalam lakon wayang. Budaya bangsa ini adalah Ing ngarso sung tulada. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani. Di depan memberi teladan. Di tengah membangun karya. Di belakang setia pada aturan (pemimpin). Intinya cinta damai. Jauh dari kekerasan, termasuk buliying,” papar Bu Ratna, panggilan sehari-harinya.
Poedianto


