Sumbangsih 2 Tim Dosen dari PKM Kampus di Surabaya untuk Pengrajin Batik Wonosalam Jombang

admin
admin Agustus 14, 2025
Updated 2025/08/14 at 7:18 AM

Foto: Ketua Tim PKM dari Unitomo, Safrin Zuraidah (kanan), menunjukkan cetakan cap hasil pelatihan batik modern berbahan triplek yang mampu digunakan hingga 450 kali,

Jombang, pedulirakyat.id

Dalam cuaca lembab di pegunungan Wonosalam, para pengrajin batik dan ecoprint kini merasa lebih baik. Ini semua berkat alat pengering kain yang menggunakan teknologi infrared yang dibawa oleh Tim PKM dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Dulu, mengeringkan kain bisa memakan waktu sampai tiga hari, tetapi sekarang hanya butuh 90 menit.

Tim dosen dari kedua universitas ini bekerja sama untuk memberikan solusi modern kepada para pengrajin di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam. Program ini adalah bagian dari Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) 2025. Mereka memberikan bantuan kepada Nusantria Batik Ecoprint untuk membuat proses produksi lebih efisien sambil menjaga kualitas dari hasil karya mereka. Ketua Tim PKM Unitomo, Safrin Zuraidah, mengatakan teknologi ini bisa mengurangi waktu produksi dengan signifikan.

“Dengan mesin pengering infrared ini, kita bisa mengeringkan 12 lembar kain hanya dalam 90 menit,” kata dosen senior dari jurusan teknik sipil Unitomo. “Produktivitas bisa meningkat sampai 300 persen, dan warna kainnya juga lebih terjaga,” tambahnya.

Tim dosen PKM yang terdiri dari Safrin Zuraidah dan Ilya Farida (dari Unitomo) serta Ichlas Wahid (dari Untag Surabaya) tidak hanya memberikan mesin. Mereka juga memberikan pelatihan tentang cara menggunakan dan merawat alat tersebut. Selain itu, mereka mengajari pengrajin cara membuat canting cap dari kardus yang lebih murah. Meskipun durasi penggunaannya tidak lama, canting cap ini sangat membantu pengrajin untuk menciptakan desain unik sesuai permintaan pasar.

Ichlas Wahid, dosen dari Untag Surabaya, berharap dukungan ini dapat memberikan semangat kepada pengrajin muda. “Semoga pelatihan ini bisa mendorong mereka untuk melestarikan dan mengembangkan seni batik dan ecoprint, sambil memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi,” kata dosen dari jurusan teknik mesin ini.

Di sisi lain, Kepala LPPM Unitomo, Prof. Nur Sayidah, menekankan pentingnya kerja sama antara dunia akademik dan pelaku usaha lokal. “PKM ini adalah contoh nyata bagaimana universitas bisa memberikan solusi bagi masyarakat. Kami ingin pengrajin di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam bisa tidak hanya bertahan tapi juga tumbuh dengan memadukan kearifan lokal dan teknologi modern,” ujarnya.

Dengan dukungan teknologi ini, diharapkan batik dan ecoprint dari Desa Sumberjo Wonosalam bisa lebih bersaing, baik di pasar lokal maupun nasional, serta mempertahankan budaya yang menjadi kebanggaan daerah.

Rophy Pareno

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *