Surabaya, pedulirakyat.id
Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya mengatakan bahwa sekolah itu sepanjang hayat. Artinya, belajar sampai tua, belajar sampai kapanpun. Belajar di sekolah tidak mengenal diskriminatif. Semua putra-putri bangsa bisa belajar sampai kapan saja. Misal, ada sekolah unggulan dan siswanya terdiri dari siswa-siswa pintar. Maka seyogyanya metode pembelajaran, materi dan referensi, semuanya bisa diakses untuk sekolah-sekolah lain.
“Metode pembelajaran, materi dan referensi di sekolah unggulan bisa diakses untuk sekolah lain. Sehingga semua siswa bisa mengenyam dan semua siswa bisa pintar. Jadi tidak ada diskriminatif,” kata Mochtar Lutfi.
Lebih jauh dosen kelahiran Pacitan ini mengutarakan bahwa yang namanya pintar itu tidak hanya olah pikir. Tetapi bisa olah raga, olah rasa dan olah hati.
“Oleh karenanya siswa yang pintar olah raga, olah rasa, olah hati, ya harus diberi kesempatan untuk belajar di sekolah unggulan,” katanya serius.
Memang berbagai pendapat yang ada di tengah masyarakat tentang predikat sekolah. Ada sekolah favorit, sekolah unggulan dan lainnya. Kelulusan dari sekolah-sekolah tersebut relatif berkualitas, sehingga saat PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) banyak yang mendaftar.
Perpustakaan yang representatif, pola pembelajaran yang aktual, materi yang update. Namun semuanya harus disesuaikan dengan selera kekinian. Ruang kelas yang nyaman, taman sekolah yang indah sehingga saat istirahat siswa bisa kerasan.
Interaksi guru dan orang tua murid dijalankan secara periodik, terutama guru konseling. Hal ini akan mudah dicarikan jalan keluar bila ada kebuntuan komunikasi. Harapannya adalah setiap problematik akan bisa tepat penanganannya. Amin.
Poedianto


