Surabaya, pedulirakyat.id
Dr. Yunus Karyanto, Dosen Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya, mengatakan bahwa Sekolah Garuda atau sekolah-sekolah yang lain harus melahirkan calon-calon pemimpin yang berpikir kritis, kemampuan intelektual yang memadai dan mampu dalam pemecahan masalah.
Dalam pada itu di tempat yang sama, Dr. Untung Lasiyono, Rektor UNIPA Surabaya, mengutarakan bahwa Sekolah Garuda mempunyai wawasan akademik, karakter yang bagus dan kepekaan sosial yang tinggi.
Sekolah Garuda meliputi Sekolah Garuda Tranformasi, merupakan penguatan yang sudah ada di SMA dan MA yang sudah ada. Yang dimaksud penguatan yaitu fokus pada akademik, berkarakter, kepekaan sosial. Kemudian Sekolah Garuda Baru, yaitu benar-benar baru dari berbagai hal. Seperti gedung, siswa, guru dan lainnya. Sekolah Garuda Baru ini dipersiapkan di wilayah-wilayah atau daerah-daerah yang kekurangan akses pendidikan.
Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, berpendapat keberadaan Sekolah Garuda adalah sebuah upaya pemerintah untuk menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa.
“Tetapi jangan sampai setelah lulus dari Sekolah Garuda terus bingung. Kerja atau kuliah. Oleh sebab itu ya harus dikawal hingga kuliah dan sesuai dengan minat bakatnya. Lulus dari perguruan tinggi, ditempatkan di pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Di tempatkan di dinas-dinas daerah atau pusat. Karena untuk menyiapkan pemimpin ya harus tuntas. Kalau ada seribu calon pemimpin yang demikian, problematik bangsa akan terpecahkan. Seribu pemimpin yang berkarakter, peka terhadap kondisi sosial dan berwawasan akademisi, niscaya Indonesia akan baik di semua lini kehidupan,” papar Sholihin Fanani.
Berbagai upaya pemerintah untuk melahirkan calon pemimpin yang berkualitas. Diantaranya, Sekolah Garuda.
Kalau Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi siswa yang tidak mampu secara ekonomi, tetapi Sekolah Garuda untuk siswa yang pintar tetapi tidak dapat tempat di sekolah yang baik
Sekolah Garuda dengan sistem berasrama dengan biaya negara. Fokus pembelajaran berbasis saint, teknologi, engineering, matematika (STEM). Kurikulum standar nasional. Tujuan, menyiapkan generasi emas Indonesia yang mampu menjadi peneliti, praktisi industri unggul dan menjadi pemimpin masa depan bangsa.
“Ini semua dirancang di seluruh Indonesia,” kata Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya.
Problematik Sekolah.
Banyak permasalahan yang terkadang mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Bisa Karena orang tua siswa yang ekonominya kurang mampu, bisa juga karena kesejahteraan guru yang tidak memadai, bisa karena kenakalan siswa, bisa karena Sapras yang minim, bisa juga kurang harmonisnya hubungan pimpinan dengan guru, guru dengan guru, dan lainnya. Semua ini bisa muncul dan mengganggu jalannya belajar.
“Dalam proses mendidik memakai cara kolaboratif partisipasi. Artinya melibatkan siswa, orang tua siswa. Misal orang tua siswa handal membuat film pendek atau youtube. Semua berkolaborasi membuat produk pembelajaran dengan film pendek atau youtube,” papar Mochtar Lutfi.
Poedianto


