Surabaya, pedulirakyat.id
MT. Yudihari, SH, MH, Ketua Yayasan Pendidikan Udatin Surabaya, mengatakan bahwa tujuan kurikulum pendidikan itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi bila salah terapkan bisa celaka, akan memproduksi kebodohan berkepanjangan.
Para pejuang kemerdekaan sudah membuktikan dan berkorban segalanya untuk merdeka. Arti kemerdekaan ialah bebas dari kebodohan, kemiskinan, akibat kekuasaan imperialis.
“Pendidikan di tanah air ini mempunyai jatidiri. Yaitu seirama dengan budaya leluhur. Maka jangan sampai meniru-niru pendidikan luar. Dulu kuliah sarjana muda sampai empat tahun. Sarjana enam tahun. Waktunya memang lama untuk menyandang gelar sarjana. Sekarang dengan percepatan kuliah, empat tahun sudah bisa lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana. Tujuan pendidikan itu untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa. Jadi jangan sampai pendidikan itu hanya untuk mencetak generasi yang hanya untuk mengisi lowongan pekerjaan. Pendidikan untuk mencetak calon pemimpin, leader yang cerdas. Oleh karena itu pendidikan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Dunia luar tidak suka bila generasi muda ini cerdas, sebab dunia luar tidak akan bisa menikmati kekayaan alam ini,” papar MT. Yudihari.

Di tempat lain, Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, berpendapat bahwa percepatan sekolah hanya memenuhi sisi olah pikir saja, sisi akademis bisa mengikuti, tetapi sisi olah rasa, olah hati dan olah fisik terabaikan. Ini berdampak pada sosiologis dan psikologis siswa.
“Siswa yang mengikuti kelas akselerasi (percepatan) mengalami kesulitan dalam pergaulan di sekolah. Kelas akselerasi, belajar di SMP dua tahun, di SMA dua tahun, sementara kelas yang umum belajar di SMP maupun SMA tiga tahun. Maka siswa kelas akselerasi, ketika bergaul dengan teman-temannya yang usianya lebih tua, akan mengalami kesulitan komunikasi interpersonal,” tegas Mochtar Lutfi.
Poedianto


