Perlunya TKA

admin
admin September 18, 2025
Updated 2025/09/18 at 2:15 PM

Surabaya, pedulirakyat.id

Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah sebuah kebutuhan. Baik merupakan standar kemampuan individu siswa maupun untuk standar kualitas sekolah. Demikian pendapat Drs. Mulyadi Bayu Wibisana, Guru SMK Negeri 12 Surabaya dan Drs. Bambang Dwi Warianto, SE, MM, Dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Kedua pendidik senior ini merasa prihatin, sebab selama ini siswa lulusan SMA/SMK tidak mempunyai standar nilai yang berukuran nasional. Dengan adanya ujian sekolah, nilai yang didapat hanya dari pihak sekolah masing-masing. Namun dengan adanya TKA, nantinya setiap kelulusan siswa SMA/SMK mempunyai standar nilai.

“Memang TKA masih berupa anjuran. Ini untuk siswa yang akan melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Tetapi TKA sangat dibutuhkan, sebab bagi siswa akan memiliki standar nilai. Bagi sekolah akan mempunyai standar kelulusan. Bagi pemerintah (Dinas Pendidikan) akan mengetahui mapping tentang kualitas sekolah-sekolah di wilayah wewenangnya. TKA akan diberlakukan tahun ini (tahun ajaran 2025-2026). Materi TKA yang wajib, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Untuk materi pilihan, banyak sekali. Misal, siswa yang mau kuliah di teknologi, materi pilihannya adalah pelajaran eksak. Untuk bisa mengikuti TKA, siswa menulis pernyataan ikut TKA serta diketahui orang tua siswa,” papar Mulyadi Bayu Wibisana.

Dengan nada yang sama Bambang Dwi Warianto mengutarakan TKA sangat perlu dilaksanakan.

“TKA ini untuk mencari standar kemampuan individu siswa. Hal ini akan menjadi bekal siswa untuk percaya diri di kemudian hari. Dan saya setuju dengan adanya TKA,” kata Pak Bambang, sapaan akrabnya.

Kognitif ke struktutif.
Banyak sekolah (SMA-SMK) sudah menyiapkan diri menjelang diberlakukan Tes Kemampuan Akademik. Seperti mengadakan tryout yang bekerjasama dengan lembaga pendidikan dan upaya-upaya lain agar para siswanya bisa mencapai standar nilai yang memadai. Dengan demikian bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang dipilihnya.

Diharapkan hasil TKA, siswa memegang standar nilai yang baik dan sekolah memiliki standar kompetensi, dinas pendidikan (pemerintah) mempunyai mapping kondisi sekolah-sekolah yang di bawah naungannya.

Dr. Wijayadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengutarakan bahwa TKA itu sesuai dengan payung besar yang berangkat dari kognitif berkelanjutan pada struktutif. Ini berdasarkan pada pembelajaran taksonomi Bloom. Yaitu membangun kompetensi siswa.

“Pada prinsipnya setuju dengan TKA. Karena terwujudnya capaian setelah terjadi proses pembelajaran. Yaitu standar nilai dan standar kompetensi. Hasil ini bisa dilihat setelah mengikuti TKA,” papar dosen yang gemar membaca karya sastra ini di ruang kerjanya.

Kognitif ke struktutif melalui proses pembelajaran yang panjang dalam memproses informasi (inkuiri) dan membangun pengetahuan serta membentuk cara berpikir akselerasi.

Sementara Nafis Kurtubi, M. Pd. I, Guru SMA Muhammadiyah 7 Surabaya, juga setuju dengan adanya TKA.

“Untuk persiapan pelaksanaan TKA, sekolah kami mengadakan tryout yang bekerjasama dengan lembaga pendidikan,” katanya.

Dr. Mochtar Lutfi, Kaprodi Sastra dan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya, mengutarakan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, mutu kelulusan itu bagus. Termasuk TKA. Sebab kuliah di Unair Surabaya bila mutunya di bawah standar akan tertinggal saat perkuliahan.

“Unair memang mencari calon mahasiswa terbaik agar bisa lulus. Tidak putus di tengah jalan karena di DO. Karena itu, bila ingin kuliah di Unair harus lewat seleksi,” kata pria asal Pacitan ini di ruang kerjanya

TKA Bukan Untuk Syarat Kelulusan.
Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya berpendapat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jangan sampai dijadikan syarat kelulusan (SMA/SMK) sebab tidak semua lulusan jenjang sekolah tersebut akan melanjutkan belajar di perguruan tinggi.

“TKA itu bagus, karena untuk ukuran standar nilai.TKA akan mendorong untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Ini akan menjadi dorongan meningkatkan potensi kinerja. Baik siswa, guru, sekolah, masyarakat maupun pemerintah. Sebab hasil TKA tidak berdiri sendiri. Semuanya berperan. Karenanya TKA jangan untuk dijadikan syarat kelulusan siswa,” papar Sholihin Fanani.

Di tempat terpisah, Dr. Kris Nugroho, Dosen FISIP Unair Surabaya mengutarakan bahwa TKA diperlukan. Ini akan tampak obyektifitas dan akan terstandar. Baik pihak sekolah atau siswa.

“Dengan adanya TKA, semuanya akan terstandar, obyektif. Baik hasil nilai atau potensinya. Karenanya TKA diperlukan,” kata Kris Nugroho di ruang kerjanya

Untuk persiapan hal ini, banyak sekolah yang sudah berbenah. Seperti melakukan tryout dengan menggandeng lembaga-lembaga pendidikan lain. Ada juga yang meningkatkan bimbingan belajar dan banyak lagi upaya lain dari pihak sekolah. Semua ini diusahakan agar hasil TPA siswa menjadi bagus.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *