Cerpen
Penulis : Poedianto
Bus antar provinsi masuk terminal. Pamot turun bersamaan penumpang lain. Pemuda yang badannya sedang itu langsung ke ponten yang letaknya di pojok terminal. Dia mandi membersihkan badannya. Air ditumpahkan ke sekujur tubuh dengan gayuh. Seolah air dalam bak dihabiskan sekaligus. Terasa segar badannya dan seolah tenaganya pulih kembali setelah perjalanan enam jam dilaluinya.
Pamot mengganti kemeja dan celananya yang sudah kotor dengan baju bersih. Lalu langsung menuju warung yang ada di terminal. Dia memesan kopi panas satu gelas dan sebungkus roti sisir.
Hari sudah surup, matahari akan masuk keperaduannya. Sinar lembayung tinggal sisanya. Sore berganti temaram. Tak selang lama suara adzan berkumandang. Itu tanda untuk buka puasa. Pamot menyeruput kopi yang sudah diiling ke lepek. Tenggorokannya sudah basah, wajahnya cerah kembali.
“Alhamdullilah, maturnuwun Gusti,” desisnya. Lalu Pamot menyulut rokoknya.
Hari masih pagi. Burung-burung berkicau sahut-sahutan. Meloncat dari dahan ke dahan yang lain. Pamot sudah sibuk memotong ranting-ranting yang kering di belakang rumahnya. Cabang-cabang pohon yang mangklung ke genting rumahnya dipotong. Memang sudah beberapa lama Pamot tidak pulang ke desanya. Rumput-rumput yang tumbuh liar dicabut. Genting yang jatuh dipasang kembali.
Ibunya sangat senang Pamot sudah berada di rumah, sehingga bisa menata kembali segala sesuatunya yang kurang patut.
Pamot hanya berdua bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal dunia tatkala Pamot masih perjaka kecil. Dia berangkat ke kota untuk mencoba keberuntungan. Itupun diajak teman-teman se-desanya. Pamot tidak punya keahlian apapun, apalagi modal. Dia dan teman-temannya mencoba mencari rejeki di kota.
“Bibi, kang Pamot sudah pulang nggih,” tanya gadis berkulit hitam dan berparas manis kepada ibu Pamot di teras depan rumah.
“Ya, tadi malam,” sahut ibu Pamot sambil berjalan ke teras, dan lanjutnya, “Pamot di belakang rumah, lagi bersih-bersih semak belukar. Gadis berparas manis itu langsung ke belakang rumah menemui Pamot.
“Kang Pamot,” sapa gadis berparas manis. Pamot menoleh dan meletakkan parangnya, “He kowe to Waginem,” suara Pamot.
“Ah kang Pamot sudah melupakan aku di kota. Tidak pernah kirim kabar. Apalagi titip salam lewat bibi. Ya di kota banyak gadis-gadis cantik kan, sehingga tidak ingat punya teman yang bernama Waginem ini. Ya kan,” gadis manis yang bernama Waginem terus nyerocos dengan menjiwit-jiwit lengan Pamot.
” Sudah-sudah Ginem, cubitanmu sangat panas,” suara Pamot sambil menyeringai.
“Ayo kita ke teras ngobrol. Aku ke pakiwan dulu,” suara Pamot lagi.
“Ayo. Tapi aku punya permintaan, kang Pamot jangan ke kota lagi,” pinta Waginem.
“Ya.”
“Janji,” tegas Waginem. Pamot mengangguk, Waginem berjingkrak kegirangan. Dan katanya lagi, “Nanti sore kita pergi ke alun-alun ya kang,”
“Ya,” jawab Pamot singkat. Lalu Waginem bergegas ke teras rumah lewat pintu dapur. Pamot membersihkan diri di pakiwan.
Setelah pamit sama ibunya, Pamot menstater sepeda motor dan keluar regol rumah, lalu menuju rumah Waginem.
Sore itu sepeda motor berjalan tidak terlalu cepat. Wajah Waginem sumringah duduk di boncengan.Tangannya melingkar erat di pinggang Pamot. Sepeda motor menuju alun-alun kabupaten. Angin berhembus segar, Waginem menceritakan beberapa teman desa yang kerja di kota sudah pada kembali di kampung halaman. Mereka sudah enggan pergi ke kota lagi.
Sepeda motor sudah melewati perempatan jalan induk. Kemudian belok ke kiri lurus sudah sampai di alun-alun.
Sepeda motor di parkir di penitipan. Pamot menggandeng Waginem memasuki area alun-alun. Kedua anak muda itu jalan-jalan mengitari alun-alun sambil melihat-lihat beberapa kios pakaian, sepatu, jajanan oleh-oleh dan mainan anak. Lalu kedua anak muda itu mencari tempat untuk santai. Dan langsung duduk di atas tikar yang sudah disediakan oleh para penjual makanan dan minuman. Banyak anak-anak muda yang seusia Pamot di alun-alun itu. Ada yang sedang berbincang dengan temannya, ada pula yang sedang bersendau-gurau. Alun-Alun ramai dengan muda-mudi. Mereka menunggu waktu buka puasa.
Bedug sudah di tabuh, disusul suara adzan. Maka semua pesanan makanan-minuman sudah boleh disantap. Bakso, bakmi, soto, nasi goreng, tahu tepo atau makanan lainnya tersedia semua. Wajah-wajah mereka gembira. Tak lama kemudian ada seorang gadis pelayan makanan yang menghampiri Pamot dan Waginem untuk menanyakan makan dan minuman yang dipilih untuk dipesan. Pamot pesan nasi goreng dan teh hangat. Waginem pesan bakmi godhok dan es jeruk. Gadis pelayan itu mencatat semua makanan dan minuman yang diminta pembeli di atas catatan kecil.
Udara dingin di alun-alun, Pamot dan Waginem menyantap makanannya untuk buka puasa.
Sudah berhari-hari hujan selalu turun setiap sore. Bakda isya, gerimis tak henti-henti. Geluduk sering terdengar. Sesekali kilat melejit ke angkasa seolah menjilat langit. Pamot dan ibunya masih berbincang di ruang tamu. Pintu dan jendela sudah ditutup.
“Aku kok masih memikirkan mimpiku dua hari yang lalu. Aku mimpi rumah kita roboh,” suara ibu Pamot pelan.
“Jangan dipikir terlalu dalam bu, itu cuma mimpi. Kata orang mimpi itu kembange wong turu.”
“Ya, saya ngerti itu. Tetapi firasatku kok tidak baik,” kata ibu Pamot lagi. Ketika ibu dan anak sedang berbincang, di luar terdengar suara ramai-ramai. Pamot membuka pintu dan keluar halaman, beberapa orang tampak tegang serta berbicsra dengan keras. Ternyata salah satunya adalah pamong desa. Ketika pamong desa melihat Pamot keluar halaman, pamong desa itu menghampiri dan memerintahkan Pamot untuk segera membawa ibunya ke truk pengungsi, untuk segera bersama-sama warga lain berangkat mengungsi. Pamot bingung dan dicobanya untuk bertanya. “Paman, apa sebenarnya yang terjadi.”
“Tanggul sebelah barat Kali Gedhe jebol. Sebentar lagi desa kita akan tenggelam. Cepat bawa ibumu ke truk yang disediakan. Kita ngungsi ke pendopo kabupaten,” terang pamong desa itu. Pamot cepat-cepat kembali ke rumahnya dan memberi tahu ibunya tentang tanggul Kali Gedhe jebol. Ibunya gemetar, lalu Pamot masuk kamarnya dan mengambil uang dalam almari, kemudian ibunya dibonceng sepeda motor menuju truk. Setibanya di truk, di bak truk sudah banyak orang didalamnya.
Setelah ibunya sudah ada di dalam truk bersama warga lain, Pamot menancap gas sepeda motor ke rumah Waginem. Rupanya ayah Waginem juga sudah persiapan mengusung keluarganya ke truk. Pamot membonceng Waginem. Ayah dan ibu Waginem berboncengan sambil menggendong anak yang masih kecil.
Sibuk desa itu. Semua orang menyelamatkan keluarganya masing-masing. Mereka hanya bisa membawa harta yang ringan-ringan. Mereka cepat-cepat ingin sampai ke truk pengangkutan pengungsi. Sementara gerimis belum mau berhenti.
Sebelas truk penuh dengan warga usia lanjut dan anak-anak sudah melaju naik ke jalan raya, dan diikuti puluhan sepeda motor dengan berboncengan.
Dengan dikawal para petugas, truk pengungsi menuju pendopo kabupaten.
Ternyata perhitungan petugas sangat tepat dalam menghitung waktu. Sesampainya truk-truk masuk halaman pendopo, tersiar kabar beberapa desa sudah tenggelam digenangi air.
Malam semakin dingin. Kesibukan yang luar biasa di pendopo kabupaten. Tikar-tikar sudah digelar untuk tidur para pengungsi. Dapur umum sudah mengepul. Obat-obatan dan vitamin sudah dibagi.
Pamot dan Waginem duduk di lantai pojok pendopo. Waginem terisak-isak sembari tangannya memegang erat lengan Pamot.
“Ternyata firasat ibu dari mimpi itu benar. Dan permintaanmu kepadaku juga benar Ginem. Bukankah kau meminta aku untuk tidak kembali ke kota. Nah terbukti semua kan. Lakon inilah sebagai jawabannya. Dengan adanya banjir ini, aku harus menjaga ibu dan dirimu. Benar kan,” suara Pamot pelan. Waginem tak kuasa membendung tangisnya. Gerimis masih terus rintik.Suara cengkerik dan belalang bersahutan.
Selesai
Poedianto adalah guru di SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya.


