Menepati Janji Itu Mulia

admin
admin April 4, 2026
Updated 2026/04/04 at 12:22 PM

Foto: Dr. Wijayadi

Surabaya, pedulirakyat.id

Janji, lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Banyak orang mengharap akan realisasi janji. Sebab yang diberi janji mengharap dengan penuh akan kesesuaian janji. Misal, tatkala PPDP lembaga pendidikan untuk mencari murid baru dengan janji-janji Dalam brosur dipasang semua janji-janji. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang dijanjikan.

Prisna Andreanus Effendi, M. Pd, Dosen UNIPA Surabaya, berpendapat bahwa semua itu bergantung pada kualitas sekolah. Kalau memang berkualitas, tidak akan ditinggalkan oleh calon-calon siswa.

“Ada yang naik jumlah muridnya, ada pula yang turun. Semuanya bergantung pada kualitas sekolah,” kata Pak Prisna , panggilan sehari-harinya

Bisa diterjemahkan dengan “jangan dusta bisa sengsara.” Falsafah ini sering diajarkan oleh guru di sekolah. Tujuannya sudah jelas agar anak didik terbiasa berbicara jujur..

“Ini sudah diajarkan di kelas satu Seperti cerita- cerita keteladanan,” kata Falah Widodo, S. Th. I. Guru Agama Islam SDN Mojo 3 Surabaya.

Terkadang para guru bahasa daerah dalam mentranformasi hal kejujuran juga dengan mengkisahkan cerita-cerita yang sesuai dengan usia anak. Seperti keteladanan tokoh-tokoh dalam legenda, ephos, cerita rakyat. Seperti Panji Sumirang, Ande- Ande Lumut, Timun Emas, Malin Kundang dan cerita-cerita lainnya.

Dalam alur setiap cerita, guru biasanya memberi gambaran dua tokoh. Yang satu berperilaku jujur dan yang satunya berperilaku dusta. Kedua tokoh tersebut mempunyai dampak yang beda. Yang jujur dalam ending cerita mendapat kemuliaan. Yang dusta akan mendapat sengsara.

Harapan guru tentang kedua ending cerita tersebut bisa menjadi pelajaran bagi siswa. Kalau suka dusta akan memetik buah pahit, pun sebaliknya bila senantiasa jujur akan memanen kebaikan.

Anak usia TK, SD, SMP kan gampang mencerna pelajaran tentang kisah-kisah. Bila masih anak-anak. Maka guru harus sering menanamkan pembelajaran budi pekerti.

“Penanaman kejujuran ada di budi pekerti dan diajarkan lewat tutur yang halus dan yang berupa cerita-cerita rakyat,” tambah Wening Sari, AMA Pd, alumni Prodi PGTK UNIPA Surabaya.

Tema cerita tentang kejujuran sangat penting bagi penanaman karakter siswa. Disini memang diperlukan kreasi para guru. Penanaman kejujuran seyogyanya diberikan pada jam-jam pelajaran pertama (jam pagi). Sebab pada jam pelajaran pertama, siswa masih segar, energik. Tetapi apabila diberikan pada jam-jam terakhir (siang), siswa sudah penat dan kantuk.

“Ya memang itu kami berikan pada jam pertama setiap hari. Kecuali hari Jumat. Sebab hari Jumat pagi kan ada olah raga. Hari Jumat memang kami bebaskan bermain setelah olah raga,” kata Wening Sari.

Bagaimana dengan pengaruh lingkungan rumah ? Alumni PGTK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mengatakan bahwa harus ada waktu untuk konsultasi dengan orang tua murid.

“Terutama dengan murid-murid yang bermasalah. Kami harus tahu sebab-sebab masalahnya, kemudian dicarikan solusinya. Ini harus ada kerja sama dengan semua pihak. Terutama dengan orang tua murid. Sebab pendidikan itu bersifat tri pusat pendidikan. Yaitu pendidikan sekolah, pendidikan rumah serta pendidikan lingkungan. Kalau kesemuanya sinergis, Insya Allah akan berhasil mendidik siswa menjadi jujur, pintar dan berguna bagi nusa bangsa. Oleh karena itu, menepati janji adalah mulia,” tambah Falah Widodo.

Banyak Rejeki, Banyak Membagi.
Ramadan, bulan suci, bulan yang penuh rahmat dan hidayah, karenanya dalam bulan ini banyak yang menyisihkan sebagian dari rejeki untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Instansi pemerintah, lembaga pendidikan, warga biasa dan yang lainnya sudah banyak yang membagi rejeki, berupa sembako, uang, pakaian dan yang lain.

“Yayasan pendidikan Baiturrahman Surabaya membagi 60 parsel untuk orang tua murid TK, SD, MI, SMP, SMA,” ujar Drs. Muhammad Sahrul Suhartaji, S. Pd. I, Kepala MI Baiturrahman Surabaya.

Karyawan pabrik, karyawan toko, guru dan lainnya juga mendapat tunjangan hari raya dari pimpinan masing-masing. Kesemuanya itu untuk keperluan hari raya, termasuk mudik.

Drs. Dradjat Poespito, Dosen LP3I Surabaya mengatakan bahwa diwajibkan bagi yang mampu untuk membantu yang kekurangan.

Kata orang bijak, banyak rejeki, banyak membagi.

Dr. Wijayadi, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, menerangkan bahwa hidup di dunia itu harus memegang teguh komitmen. Sungguh-sungguh memegang janji, peduli sesama, membagi rejeki buat yang butuh. Itu semua adalah ibadah.

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *