Surabaya, pedulirakyat.id
Syair lagu Didi Kempot, Waljinah, Ki Narto Sabdo, Manthous, Sundari Sukoco (Syair lagu Jawa) dan Rhoma Irama, Hijau Daun, Masiv, ST 12, Peterpan, Raja, Ungu, Letto, Angkasa (Syair lagu Indonesia) sangat kental dengan tema kepedulian lingkungan, keluarga, asmara dan tema sosial lainnya. Ini bisa dimaklumi sebab personilnya relatif masih muda. Di era tahun 70 dan era tahun 80 juga banyak grup band, seperti Koes Plus, Panbers, The Hand, Favorit , Aka, The Rolies, Mercis, Ebied GAD, Gembel, Kembar Grup, Bimbo, Leo Kristi, Gombloh, Rhoma Irama, Iwan Fals dan lainnya lagi, walau kala itu personilnya juga masih muda, tetapi penulisan syair-syairnya banyak yang menyorot tentang sosial budaya, sosial kemasyarakatan.
Mengapa demikian ? Personil band mempunyai latar belakang sosial yang berbeda. Artinya mereka secara ekonomi pas-pasan, meniti prestasi dari bawah. Sehingga sangat peka terhadap kesengsaraan, peka terhadap ketidak-adilan ekonomi, peka terhadap kemiskinan, peka terhadap kebodohan. Yang pada pokoknya peka terhadap ketimpangan sosial.
Untuk masuk dapur rekaman saja harus selektif yang sangat ketat. Namun mereka juga mengalami romantikanya kehidupan anak muda. Tentu saja mengalami pasang surutnya kehidupan anak muda. Maka tidak terlalu heran apabila tema cinta, tema mimpi, tema bertaburan bunga-bunga cinta juga diangkat dalam penulisan syair lagu-lagunya. Cinta, sosial kemasyarakatan dan pendidikan juga menjadi perhatian grup band tersebut.
Coba simak lagu-lagu Bimbo, Koes Plus, Iwan Fals, Ebied GAD, Rhoma Irama dan lainnya lagi, tidak jarang bertutur tentang bencana alam, tentang pengemis, tentang ekologi yang rusak, tentang alam yang gersang, tentang distorsi kaya miskin, tentang penggusuran rumah kaum marginal.
Sementara banyak juga lagu-lagu yang liriknya bertema cinta. Terutama tentang arti kesetiaan cinta.
Lirik lagu cinta itu harus dibarengi dengan lirik kesetiaan, wujud kesetiaan itu adalah lirik pengorbanan. Artinya kalau menyatakan cinta pada seseorang, juga mencintai problematiknya. Cinta orangnya, konsisten juga terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang yang di cintai. Jangan cinta orangnya, tetapi lari dari kesulitan orang yang di cintai. Pokoknya kalau sudah cinta, harus juga menyelesaikan kesulitan-kesulitan, problematik orang yang di cintainya. Itu yang dinamakan cinta yang sejati. Jangan cinta hanya di bibir, tetapi keluhan ekonomi pacarnya tidak tanggung jawab. Ini banyak tercermin pada lirik lagu. Baik lagu pop, dangdut maupun campursari dan keroncong.
SEPI
Apa yang kau andalkan?
Kemajuan industri
Kemajuan ekonomi
Ah, itu bukan hakiki
Hari ini masih banyak yang gagap memainkan laptop
Hari ini masih banyak yang bisa makan sekali sehari
Apa yang kau andalkan?
Ketika angin puting beliung menyapu rumah-rumah warga
Ketika banjir bandang datang tiba-tiba
Mari tengok diri
Ketika dalam sepi
Tiada teman
Tiada sanak famili
Sunyi
Hanya desir angin pelan menghampiri
Dan membisikkan
Ingatlah bakal mati
Tembang Kehidupan.
Malam yang sepi
Bulan masih sembunyi di balik mega
Cahayanya samar
Bintang gemintang bekerdipan satu dengan yang lain
Guru itu duduk sendiri di depan rumah
Pikirannya menerawang tanpa tepi
Malam semakin malam
Sesekali desir angin mengusap wajahnya
Seolah membangunkan lamunan sang Guru
Lamunan tentang anak-anak negeri yang sehat dan cerdas
Pantun.
Masyarakat Sumatera terkenal dengan pantun-pantunnya, Betawi dengan syair-syair sindiran dan di Jawa dengan werdhatama, wulang reh dan macapat (Jawa Tengah dan Jawa Timur), sementara ada juga yang dengan parikan kidungan jula-juli (Jawa Timur). Kesemuanya merupakan tembang-lagu (dengan irama masing-masing). Ini semua digunakan sebagai sarana mendidik masyarakat, terutama untuk generasi muda.
Berbagai media untuk melestarikan dan untuk pembelajaran sudah banyak yang di bukukan, majalah berbahasa Jawa. Seperti Jayabaya, Panji Masyarakat dan lainnya. Belum yang lewat lagu-lagu. Ada yang lewat syair-syair, ada pula yang diiringi irama. Baik irama tradisi setempat atau sudah kolaborasi.
Seperti tembang Pangkur yang sudah barang pasti syairnya sangat kental dengan pendidikan moral.
Simak syair ini :
Sapa bisa ura-ura
Uran-uran paringane Kanjeng Nabi.
Jagad jembar, langit dhuwur.
Geni kalangkung panas.
Mori putih yen diwedel dadi gandung.
Yen ora ngandel den nyatakna
Asem kecut gula legi.
Tafsir bebasnya ini :
Siapa bisa melantun. Lantunan pemberian Baginda Nabi.
Bumi yang luas, langit yang tinggi. Api yang amat panas. Kain putih bila dicelup (wenter) bisa menjadi hitam. Jika tidak percaya bisa dibuktikan. Asam masam rasanya, gula manis rasanya.
Syair ini bisa dilantunkan dengan diiringi irama tembang menurut budaya yang berlaku dalam masyarakat.
Pangkur.
Pangkur, sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Bahkan di sekolah dasar (dulu sekolah rakyat/SR) pada era tahun 60-an sudah diajarkan oleh guru. Bahkan tembang Pangkur menjadi wajib bagi siswa agar bisa menghafalnya.
Untuk apa ? Sudah barang tentu agar anak didik bisa memahami serta meneladani pesan-pesan moral yang terdapat dalam tembang. Termasuk tembang Pangkur.
Seperti syair diatas tadi, sudah jelas merupakan pendidikan akan besarnya kekuasaan Tuhan, keagungan Tuhan. Lewat ciptaan Tuhan yang digambarkan dengan luasnya bumi serta alam semesta. Langit yang menjulang tinggi tak terukur. Manusia bisa merasakan rasa makanan ; manis, pahit, getir, asin dan rasa lainnya. Ini semua adalah pemberian Tuhan. Seperti yang dicontohkan dengan rasa asam dan gula dalam syair tersebut.
Esensi yang terkandung pada syair tersebut, manusia harus “eling” (ingat) bila tidak punya kuasa apa-apa. Bisa merasakan masam pada buah asam atau merasakan manis pada gula (tebu).
Poedianto


